Deteksi Cuaca Kota Dengan Microcontroller

Deteksi Cuaca Permukaan Kota Balikpapan Dengan Penerapan Microcontroller Arduino

ITK News I Penelitian Mahasiswa

Balikpapan – Balikpapan sebagai salah satu kota yang ada di Kalimantan Timur , merupakan salah satu kota dengan karakteristik wilayah yang cukup unik, dengan kondisi topografi wilayah terdiri dari daerah pesisir dengan daratan yang berbukit bergelombang.

Berdasarkan Bappeda kota Balikpapan menjelaskan bahwa luas wilayah berdasarkan kelas lereng di kota Balikpapan adalah 0 – 2 % seluas 6.976 Ha, 2 – 15 % seluas 5.709 Ha, 15 – 40 % seluas 12.394 Ha, serta > 40 % seluas 18.171 Ha. Berdasarkan data tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah Kota Balikpapan mempunyai kelas lereng > 40 % yakni seluas 18.171 Ha.

Kemiringan ini dampak pada topografi Balikpapan yang hampir seluruhnya berbukit (85%), terutama dibagian utara wilayah kota, serta ketinggian wilayah kota Balikpapan dari permukaan air laut berkisar 0 – 80 meter. Karakteristik wilayah serta ketinggian daerah dari permukaan laut Kota Balikpapan merupakan salah satu faktor yang  berpengaruh  pada unsur – unsur curah hujan dan tinggi rendahnya suhu yang ada, sehingga mempengaruhi cuaca serta iklim kota Balikpapan yang tidak menentu.

Keadaan iklim Kota Balikpapan dalam menentukan kondisi air/sumber air dilakukan pencatatan oleh Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) yang mana hasil pendataan tersebut dapat dijabarkan mengenai data-data tentang suhu udara, kecepatan angin, curah hujan dan sinar matahari .

Selain itu, dalam penentuan suatu kondisi cuaca tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan termasuk dalam penentuan tempat observasinya telah diatur oleh World Meteorological Organization (WMO) dimana terdapat 3 kondisi tempat yang dianjurkan yaitu Troposfer (0-10 KM), Stratosfer (11-40 KM), Mesosfer (41-50 KM). Berdasarkan hasil studi yang telah dilakukan di AirNav BMKG Kota Balikpapan, diperoleh informasi bahwa kondisi di  permukaan tidak terlalu diperhatikan dan lebih difokuskan pada lapisan Stratosfer dan Mesosfer dalam menentukan kondisi cuaca.

Dapat diketahui bahwa Indonesia merupakan  Negara beriklim tropis yang memiliki dua macam yaitu musim hujan dan musim kemarau. Musim hujan di Indonesia dimulai bulan Oktober sampai bulan Maret, dan musim kemarau dimulai bulan April hingga bulan September. Musim kemarau atau musim kering adalah musim di daerah tropis yang dipengaruhi oleh sistem muson.

Slide3

Untuk dapat disebut musim kemarau, curah hujan per bulanharus di bawah 60 mm per bulan (atau 20 mm per dasarian) selama tiga dasarian berturut-turut. Berdasarkan hasil observasi BMKG Kota Balikapapan, didapatkan data bahwa curah hujan rata-rata pada bulan April 2015 hingga September 2015 adalah7.93472 mm dan curah hujan rata-rata pada bulan Oktober 2015 hingga Maret 2016 adalah 7.17465  mm.

Pada rentang musim yang terdapat di Indonesia, seharusnya dibulan Oktober  termasuk dalam musim hujan, namun di kota Balikpapan justru mengalami musim kemarau. Dapat terlihat bahwa, cuaca yang terdapat di Kota Balikpapan memiliki kondisi cuaca yang kurang menentu, dan salah satu faktor yang mempengaruhi fenomena  cuaca tersebut adalah adanya karakteristik wilayah  kota Balikpapan yang terdiri dari pesisir dan perbukitan dan berpengaruh pada unsur – unsur cuaca daerah tersebut.

Berdasarkan fenomena cuaca yang terdapat di kota Balikpapan tersebut, maka tim PKM (Program Kreatifitas Mahasiswa) Institut Teknologi Kalimantan yang terdiri dari Adhe Yusphie Panca Tentra Sandika (Teknik Mesin), Arum Prastiyo Putri (Teknik Sipil), Azam Fadhil Abdullah (Sistem Informasi), Mohammad Saiful Rozikin (Teknik Elektro) berinisiatif untuk membuat sebuah penelitian yang bertujuan mendeteksi kondisi cuaca di permukaan kota Balikpapan dengan tiga indikator utama yaitu suhu, kelembaban dan kecepatan angin menggunakan microcontroller Arduino serta sensor DHT-11 dan sensor FC-37 sebagai media solusi alternatif dalam mendeteksi kondisi cuaca permukaan kota Balikpapan yang mdah digunakan, dengan biaya yang relatif lebih murah, serta memanfaatkan potensi angin yang terdapat dikota Balikpapan sebagai sumber energi listrik yang akan disupply pada rangkaian alat bantu penelitian tersebut.

Adapun pada pengujian alat guna mengumpulkan data penelitian di pesisir pantai Monpera Kota Balikpapan dengan menggunakan wind turbine, didapatkan bahwa rata – rata kecepatan angin berada pada kisaran 7 Knot, hal tersebut sesuai dengan data potensi angin yang dijelaskan oleh BMKG bahwa rata – rata potensi angin Kota Balikpapan berkisar antara tiga hingga tujuh Knot.

Slide1

Dengan memanfaatkan kecepatan angin tersebut sebagai supply energy untuk menyalakan alat sensor agar dapat bekerja dengan baik dalam mendeteksi tiga indikator penelitian, sehingga didapatkannya data suhu, kelembapan, dan kecepatan angin yang menunjang kegiatan penelitian kelompok terhadap cuaca Kota Balikpapan. Diharapkan dengan adanya  penelitian tersebut  dapat membantu penelitian-penelitian sebelumnya yang juga berkaitan dengan pendeteksian kondisi cuaca serta dapat dikembangkan untuk ke depannya agar menjadi lebih baik.

Oleh : Arum Prastiyo Putri Teknik Sipil 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *