Diplomasi Pariwisata Kartini Muda ITK             

ITK News I Prestasi Mahasiswa

Balikpapan – Cantik, Cerdas, Tangguh, dan Santun. Empat karakter yang jika diterjemahkan dalam Bahasa Inggris menjadi Beauty, Brain, Bravery, dan Behavior (4B) ini begitu tampak ketika kita berkenalan dengan Dea Nada Rifdah. Gadis ini dikenal dengan segudang predikat: hijaber, akademia, model, fashionista, pemain Sampe (alat musik tradisional Kaltim), hingga aktivis kampus. Namun masyarakat Balikpapan terlanjur mengenalnya sebagai finalis Duta Wisata Manuntung Kota Balikpapan Tahun 2018.

 

“Alhamdulillah, senang banget rasanya, mendapat penghargaan “Penampil Terbaik”, piagam, uang, dan bonus lainnya. Namun terutama sekali bersyukur karena dapat mempersembahkan prestasi ini untuk orang tua tercinta,” ungkap Dea dengan sumringah kepada Humas ITK, April 2018.

 

Anak dari pasangan Siswoyo (pegawai BUMN) dan Astati (ibu rumah tangga sekaligus pedagang cenderamata di Pasar Kebun Sayur) ini mengenang. Mulanya diberi tahu informasi tentang kompetisi ini dari agen modeling tempatnya bekerja. “Awalnya coba ikut saja, eh malah sampai jadi finalis,” ujar bungsu dari tiga bersaudara ini terkekeh.

n n n

 

Lahir di Balikpapan, 3 Desember 1999, gadis berkulit kuning langsat dengan tinggi 160 centimeter ini mulai tertarik dengan dunia pertunjukkan (show biz) sejak masa sekolah menengah. SMA Patra Dharma Balikpapan menjadi panggung pertama yang mengasah bakat seninya: bernyanyi, bermusik, menari, dan berkreatifitas. Berbagai ajang aksi-kreasi SMA diikutinya. Tak main-main. Segera setelah lulus SMA, Dea pun menghubungi agen modelling untuk menggeluti dunia show biz lebih dalam.

 

“Mamah dan Papah sangat mendukung, bahkan mengatakan bahwa belajar tidak hanya di dalam kelas, tapi Dea juga perlu mengasah softskill dan keterampilan dari sumber non-akademik,” lanjutnya penuh semangat.

 

Gelora kreatifnya pun tak berhenti ketika Dea memasuki dunia kuliah. Belum genap setahun menimba ilmu di Program Studi Teknik Sipil Institut Teknologi Kalimantan (ITK), pada 3 Maret 2018, dara yang memutuskan berjilbab sejak SMP Kelas 3 ini pun menorehkan tinta emas dengan mendapatkan penghargaan dalam ajang prestisius tersebut. Kepandaiannya dalam menghitung membuatnya memilih berkuliah di Kampus ITK.

 

Duta Wisata Manuntung adalah sebuah upaya oleh Dinas Pemuda Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata, Kota Balikpapan guna mempromosikan potensi pariwisata kota ini kepada khalayak luas.

 

Sebagai duta pariwisata, Dea yang memang memiliki hobi travelling ini, bertanggung jawab mempromosikan khazanah turisme Kota Beriman selama setahun ke depan, baik kepada turis domestik maupun mancanegara. Dea harus selalu siaga menjadi pramuwisata jika ada pejabat pemerintah pusat dan luar daerah yang berkunjung. Melakukan penyuluhan sadar wisata dan sosialisasi Sapta Pesona (keamanan, ketertiban, kebersihan, kenyamanan, keindahan, keramahtamahan, dan kenangan) kepada masyarakat Balikpapan. Termasuk mempublikasikan semua aktivitas diplomasi pariwisatanya tersebut di media sosial dengan tagar #balikpapanindah.

 

Hari Bebas Kendaraan Bermotor “Car Free Day” setiap Ahad pagi di Jalan Jenderal Sudirman Depan Lapangan Merdeka, Balikpapan, hampir selalu menjadi momen wajib bagi Dea dan komunitas duta wisatanya untuk menjaring aspirasi dan sosialisasi kesadaran wisata dari warga Kota Balikpapan.

 

“Ketika banyak yang berwisata, maka perekonomian Balikpapan juga akan meningkat, masyarakat pun akan semakin sejahtera,” kata pemilik akun Instagram @deanada ini.

 

Selain Dea, ada dua mahasiswa ITK lainnya yang juga menjadi finalis pada gelaran tersebut, yakni Bran Sibarani, mahasiswa Teknik Sipil angkatan 2015, dan Jenrychk Marcelino Tendi Karrang, mahasiswa Teknik Elektro angkatan 2016. Namun sosok Dea mendapat perhatian lebih karena ia masih terhitung sebagai mahasiswa baru/angkatan termuda di ITK dibanding dua seniornya itu.

 

Untuk meraih gelar sebagai Duta Wisata Manuntung bukan perkara mudah. Ada beberapa tahap yang harus dilewati mulai administrasi hingga grand final.

 

Dea yang murah senyum ini pun bercerita. Tahap pertama merupakan seleksi berkas pada Januari lalu. Dari 159 pendaftar, panitia menyaringnya menjadi 84 peserta yang kemudian mengikuti tes tertulis dan wawancara. Tahap tersebut menghasilkan 24 besar/finalis yang kemudian menjalani masa pra-karantina dan karantina. Pada masa pra-karantina seluruh finalis diberikan berbagai pelatihan seperti tari, cara berjalan di catwalk, modelling, public speaking, leadership, dan lainnya.

 

“Kemudian ada masa karantina yang diselenggarakan di BDI Town House selama 4 hari 3 malam. Materi yang diberikan kali ini seperti perawatan kulit, psikologi, kunjungan ke Kantor DPRD, kunjungan ke tujuan-tujuan wisata Kota Balikpapan seperti HLSW, KPWLH, dan Pantai Manggar.”

 

Seleksi akhir adalah unjuk bakat, deep interview, dan speech contest pada 2 Maret 2018 bertempat di BSCC Dome Balikpapan, di mana para finalis dibagi menjadi beberapa pasangan. Puncaknya pada Malam Grand Final 3 Maret 2018 di Gedung Kesenian Balikpapan.

 

“Jujur, Dea merasa banyak banget manfaat yang didapet: relasi, wawasan luas, belajar banyak ilmu seperti psikologi, keprotokolan, percaya diri, berani untuk bicara di depan umum, belajar berbagi, dan tentunya senang bisa bikin orang tua bangga,” kata Dea yang mengidolakan Maudy Ayunda ini.

 

Menurutnya, Maudy Ayunda adalah sosok yang keren, karena meskipun masih muda, tapi sudah menghasilkan banyak karya, “kuliahnya juga berhasil/bagus,” ujar Dea yang bercita-cita sebagai karyawan BUMN seperti ayahnya ini.

 

Ketika ditanyakan tentang tantangan pariwisata Balikpapan, Dea mengatakan masih banyak perlu diperbaiki, seperti transportasi menuju tempat wisata yang kurang, akses dan infrastruktur jalan masuk objek-objek wisata, hingga kesadaran warga untuk menjaga lingkungan destinasi wisata Kota Balikpapan yang memang sebagian besar merupakan wisata alam. “Apalagi semenjak adanya tragedi minyak tumpah  di Teluk Balikpapan baru-baru ini. Ini menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga lingkungan,” kata Dea.

 

Dea pun berpesan kepada generasi muda di Balikpapan untuk bersama-sama membangun Kota Balikpapan. “Kalau kita ingin Indonesia maju, mulailah dengan memajukan kota kita tercinta ini. Kita bangun, rawat dan jaga bersama,” kata Dea yang ingin bisa menginspirasi banyak orang dengan berbagai kegiatan positif yang digelutinya itu.

 

-end-

 

Ridho Jun Prasetyo I Humas ITK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *