Edukasi Teknologi Informasi Untuk Masyarakat Indonesia

ITK News I Kuliah Tamu

Balikpapan – Pada 23 Agustus 2017 lalu, Institut Teknologi Kalimantan mengadakan kuliah tamu “Information Technology for Society”. Tak tanggung-tanggung, narasumbernya adalah mantan Kepala Divisi Pengembangan Teknologi Informasi Jakarta Smart City, Prasetyo Andy Wicaksono.

Jakarta Smart City adalah sebuah Unit Pengelola di bawah Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Dalam laman resminya http://smartcity.jakarta.go.id/ disebutkan bahwa unit ini berusaha membangun sebuah komunitas masyarakat kota yang kohesif dan aktif turut serta mewujudkan Jakarta yang lebih baik. Sebagai ibukota negara dengan tingkat urbanisasi tertinggi di dunia, “Jakarta harus lebih efektif dan efisien dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi yang terintegrasi di semua sektor publik.”

Pengalaman inilah yang coba dibagikan ke peserta kuliah tamu di Kampus ITK.

Peserta kuliah tamu yang didominasi mahasiswa dari Prodi Sistem Informasi tampak antusias. Materi diawali dengan perkembangan kondisi teknologi di Indonesia saat ini. Prasetyo mengatakan saat ini rata-rata orang Indonesia memiliki 1,5 telepon seluler atau smartphone. Ini berarti setiap orang setidaknya memiliki lebih dari satu telepon. Ini adalah angka yang besar mengingat penduduk Indonesia saat ini hampir mencapai 260 juta jiwa (BPS 2016). Meski demikian sebaran pengguna internet dari telepon tersebut belum merata. Masih banyak area di Indonesia yang belum tersentuh oleh technologi dan penyebaran informasi.

“Ini adalah potensi bisnis yang besar, dan penduduk Indonesia harus memanfaatkan peluang ini, bukannya dimanfaatkan,” kata Prasetyo. Edukasi, lanjutnya, tentang pemanfaatan teknologi informasi kepada masyarakat adalah salah satu upaya menuju ke sana.

Menurut Prasetyo yang merupakan inisiator ‘Code for Indonesia’ ini, masyarakat dapat belajar membuat Perusahaan Rintisan atau Start Up, yakni sebuah aplikasi yang tidak saja dapat membantu kehidupan sehari-hari, tapi juga untuk mengembangkan sumber daya alam-manusia yang ada. “Oleh karena itu kita harus membuat dan mengembangkan teknology menjadi sesuatu yang baik. ‘Tech for Good’,” katanya.

Bidang-bidang seperti pertanian, kesehatan, logistik, pendidikan, sipil, solusi teknologi, pariwisata, hingga kecerdasan buatan adalah wilayah yang belum tersentuh teknologi informasi seperti StartUp.

Prasetyo menjelaskan contoh kategori StartUp yang dapat dikembangkan saat ini yaitu on-demand service, financial technology, dan e-commerce, serta langkah-langkah pembuatannya. “Langkah pertama dalam membuat StartUp adalah memperhatikan masalah apa yang dapat diselesaikan dengan StartUp tersebut? Siapakah yang memiliki masalah?, Berapa banyak anggaran yang akan dikeluarkan? Bagaimana langkah selanjutnya?”

Prasetyo kemudian memaparkan istilah “The Feedback Loop”.

“Feedback loop terdiri dari beberapa bagian yang dilakukan berulang-ulang, yang pertama learn pivot atau belajar, hipotesis, kemudian build experiments atau melakukan solusi yang diberikan. Setelah itu dengan baseline untuk melakukan measure metrics atau mengukur apakah solusi yang diberikan berhasil atau tidak. Yang terakhir dengan analisis kembali ke tahap learn atau ilmu yang didapatkan kemudian di pelajari lagi atau ke tahap pertama yaitu learn pivot.”

“Salah satu trik lain adalah dengan terlebih dahulu membuat MVP. MVP adalah suatu versi yang paling minimum dari suatu produk yang bisa digunakan untuk pengujian untuk produk berikutnya (versi beta) agar bisa mengantarkan produk dengan lebih cepat dan proses belajar yang lebih cepat, dan bangkit dari kegagalan dengan lebih cepat.”

“Dalam membuat suatu solusi kita harus menentukan faktor kesuksesan yang paling kritis dari produk yang dibuat. Kemudian mengujinya dengan menyempurnakan produk dan tidak meninggalkan produk setengah jadi. Karena permintaan atau kebutuhan orang selalu berubah. Pembuatan suatu produk seringkali kita harus mengikuti permintaan atau demand pelanggan. Karena digunakan untuk menjawab tantantan yang ada dari waktu ke waktu.”

Kuliah tamu diakhiri dengan tanya jawab dan pemberian kenang-kenangan dari pihak Institut Teknologi Kalimantan serta foto bersama.

-end-

Kontributor Lovinta Happy Atrinawati, Reyhan Ezra untuk Humas ITK

Editor: Ridho Jun Prasetyo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *