Hadapi MEA, Kabupaten PPU Gandeng ITK

Balikpapan – Ibarat oli bagi mesin bermotor, demikian halnya universitas bagi pemerintah daerah. Kehadirannya semestinya menjadi elemen pokok yang melancarkan gerak pembangunan. Keduanya harus bekerjasama demi mendapatkan performa terbaik kendaraan─atau dalam hal ini, adalah kesejahteraan masyarakat.
Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang sudah berlaku sejak 1 Januari 2016, Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) menggandeng mitra-mitra strategis. Salah satunya adalah Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang terletak di Balikpapan.
Pengangguran terbuka hingga 7,52 persen pada 2014 (di atas rata-rata nasional yang sebesar 5,94 persen); tingkat kemiskinan hingga 7,70 persen pada 2013 (tertinggi ketiga se-Kaltim); pertumbuhan ekonomi yang tidak merata; kesenjangan geografis antar daerah;  ketersediaan dan keadaan infrastruktur dasar seperti jalan raya, daya listrik, air bersih, dan jaringan komunikasi yang kurang baik dan merata; keterbatasan irigasi; hingga tingginya alih fungsi lahan, asap dan abrasi Pantai Tanjung Jumlai sepanjang 14 KM dan Pantai Babulu Laut sepanjang 8 KM.
Keadaan semakin miris ketika tenaga kerja terdidik dan terampil yang bekerja didominasi dari luar PPU. “Putra daerah sebagian besar hanya bekerja menjadi operator dan buruh kasar karena tak mempunyai skill,” kata Sekretaris Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten PPU, Hadi Saputro, ketika menyampaikan kuliah umum di Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Balikpapan, Selasa, 12 Januari 2016.
Acara yang dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik, Penelitian dan Kerjasama ITK ini mengusung tajuk “Sinergitas Pengembangan Inovasi Berbasis Potensi Daerah Antara ITK dan Kabupaten PPU”.
Hadi mengeluhkan sulitnya kondisi perekonomian pada 2015 dengan tingginya pemutusan hubungan kerja di PPU. “Sektor tambang tak bisa lagi diandalkan,” katanya.
Menurut data Bappeda PPU, pertumbuhan ekonomi PPU memang mengalami penurunan drastis. Jika pada tahun 2011 sebesar 11,68 persen atau tertinggi se-Kaltim. Maka pada tahun 2013 hanya sebesar 3,75 persen atau turun ke peringkat 6.
“Kami siap memfasilitasi ide-ide cemerlang dari civitas akademika ITK untuk membantu pembangunan daerahnya. Pola pikir masyarakat kami harus maju, dan berdaya juang,” tegas Hadi.
Kabupaten PPU saat ini memiliki proyek-proyek yang membutuhkan dukungan, seperti Jembatan Melawai Nipah-nipah, Revitalisasi Waduk Waru, Proyek National Marine Science and Technopark  (NMST) Buluminung, Pusat Pelelangan Ikan di Babulu Laut, tanggul penangkal ombak, Irigasi di Babulu, Panel Surya, dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Bumi.
“Daripada masyarakat harus jauh-jauh ke Pulau Jawa untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas tapi mahal, mending ke ITK. Kami berharap banyak kerjasama yang terjalin sesuai dengan 13 program studi yang diajarkan di ITK. Biayanya tentu lebih murah,” kata Hadi.
 Saat ini Pemda PPU menggunakan 15-20 persen dari pembiayaan APBDnya untuk tenaga ahli yang masih didominasi luar PPU. “Sekarang kami tancap gas usai pemilihan kepala daerah akhir 2015 lalu,” imbuhnya.
Gayung pun bersambut. Wakil Rektor Bidang Akademik, Penelitian dan Kerjasama ITK, Subchan mengatakan gambaran di Kabupaten PPU itu, sedikit banyak mewakili problematika di Kalimantan Timur. “Kampus harus menjadi solusi untuk bisa mengatasi masalah-masalah tadi,” katanya.
“Kami akan kerahkan mahasiswa dan dosen kami untuk melakukan penelitian, tugas akhir, kerja praktek di PPU dengan hadirnya kawasan industri National Science and Techno Park (NSTP) Buluminung,” ungkap Subchan.
Menurut Subchan, kuliah umum tersebut merupakan inisiasi dari ITK yang lalu disambut oleh Pemerintah Daerah PPU. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi pembuatan draft kerjasama antara ITK dan Bappeda PPU.
Kerjasama yang sedang dijajaki antara ITK dan Kabupaten PPU, meliputi nota kesepahaman di bidang Pendidikan, Sumber Daya Manusia, Penelitian, Pengembangan Ilmu Pengetahuan, dan Teknologi. Subchan lalu menyerahkan draft kerjasama kepada Hadi yang selanjutnya akan diteruskan ke Bupati PPU, Yusran Aspar.
Acara yang dihadiri oleh lebih dari 60 dosen ITK tersebut mendapat sambutan yang meriah dan penuh antusias. Salah satunya Dosen Teknik Material dan Metalurgi, Abdi Suprayitno mengatakan bahwa ITK siap memberi masukan-masukan untuk pembangunan PPU.
Ada juga Dosen Matematika, Winarni memandang positif kegiatan ini. “Insya Allah bagus, Kampus harus bermanfaat untuk daerah sekitarnya. Banyak yang bisa kami bantu dengan melihat potensi dan tantangan daerah Kabupaten PPU. Kalau bisa tidak hanya dengan PPU, tapi juga Kaltim dan Pemerintah Pusat,” ungkapnya.
Winarni mengatakan ada banyak potensi kerjasama yang bisa dilakukan antara ITK dan Kabupaten PPU seperti di bidang Ekonomi Kreatif, bidang Energi, bidang Transportasi, bidang Pendidikan, bidang pengembangan SDM, sampai ITK Social Project atau proyek sosial ITK.
Rektor ITK, Sulistijono ketika dihubungi Humas mengatakan, ITK dibina oleh dosen-dosen berkualitas dengan kualifikasi minimal S2 lulusan universitas ternama di dalam dan luar negeri. Rasio dosen dan mahasiswa hingga tahun 2015 sebesar 1:4. Pada tahun 2016 rasionya telah meningkat menjadi 1:8. Sebanyak 30 persen dari dosen ITK adalah dosen senior dan profesor dari Institut Teknologi Sepuluh November (ITS).
“Dengan adanya kerjasama dengan pemerintah daerah, tentunya ini semakin mendukung kehadiran ITK. Istilahnya Simbiosis Mutualisme, saling menguntungkan. ITK kian bertenaga dengan dukungan pemda. Pemda juga akan kian cepat gerak pembangunannya dengan adanya tenaga terdidik, terampil hasil polesan ITK. Karena persaingannya tidak hanya internal, tapi juga dengan tenaga kerja terampil dari Singapura, Thailand, Malaysia, Vietnam akibat free-flow-of-labour yang niscaya dengan adanya MEA,” kata pria lulusan University of Technology of Compiègne, Perancis ini. (Humas ITK).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *