Ikuti Program SHERA, ITK Siapkan Riset Kelas Dunia

ITK News │Kolaborasi Riset

Jakarta – Rektor Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Prof. Dr. Ir. Sulistijono, DEA bersama pimpinan 22 perguruan tinggi Indonesia lainnya dan 8 perguruan tinggi Amerika Serikat sepakat melakukan riset bersama dalam Program Kolaborasi Riset untuk Pendidikan Tinggi yang Berkelanjutan, SHERA. Program hibah riset senilai 20 juta Dolar AS yang didanai lembaga bantuan milik Amerika, USAID, ini diluncurkan secara resmi oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, bersama  Wakil Duta Besar AS, Brian McFeeters pada Selasa, 21 Maret 2017 di Jakarta.

“Ini sebuah kesempatan yang sangat baik bagi ITK sebagai PTN baru untuk meningkatkan kemampuan risetnya, berbagi ilmu dengan universitas terbaik dunia, MIT, dan tentunya semoga hasil riset ini dapat bermanfaat bagi masyarat Kalimantan maupun wilayah Indonesia timur,” kata Rektor ITK, Sulistijono ketika menandatangi nota kesepakatan SHERA di Auditorium Kemenristekdikti, Senayan, Jakarta.

Untuk dapat berpartisipasi dalam Program SHERA bukan perkara mudah. ITK yang tergabung dalam Konsorsium National Center for Sustainable Transportation Technology (NCSTT) bersama Undip, ULM, UNSRAT, UNS, dan ITB sebagai lead university, harus mengajukan proposal penelitian terlebih dahulu ke Kemenristekdikti. Proposal-proposal yang masuk, kemudian diseleksi Kemenristekdikti yang dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal, Ainun Na’im lalu terpilih lima pemenang. Salah satunya adalah Tim NCSTT.

Melalui Program SHERA, dalam jangka lima tahun, penelitian yang dilakukan akan berbasis Pusat Kolaborasi Riset atau Center for Collaborative Research (CCR). Ada lima tema besar penelitian yang disepakati dengan lima perguruan tinggi negeri besar yang memimpin, yakni Perencanaan dan Pembangunan Perkotaan yang dipimpin Universitas Indonesia; Teknologi Inovatif yang dipimpin ITB; Kesehatan Masyarakat dan Penyakit Infeksi yang dipimpin Universitas Padjajaran; Ilmu Kelautan, Energi, dan Lingkungan yang dipimpin UGM; dan Ketahanan dan Swasembaga Pangan yang dipimpin IPB.

Sebagai salah satu pemenang hibah, ITK dalam Tim NCSTT bersama Universitas Diponegoro, Universitas Lambung Mangkurat, Universitas Sam Ratulangi, Universitas Sebelas Maret, dan dipimpin oleh ITB, akan fokus pada Pengembangan Teknologi Transportasi Listrik yang Berkelanjutan. Enam PTN ini akan bekerja sama dengan Massachusetts Institute of Technology (MIT) secara khusus meneliti transportasi kereta api listrik berbasis baterai dengan dengan total dana penelitian 3 juta dolar AS selama empat tahun. Satu tahun selebihnya akan dimanfaatkan untuk publikasi, implementasi, dan evaluasi.

Tim peneliti dari ITK terdiri dari delapan dosen, yakni Wakil Rektor II, Muhammad Muntaha dan Muhammad Hadid yang membidangi Keselamatan Transportasi; Riyan Benny Sukmara pada sub-riset Infrastructure: Road, Railway, Charging; Nita Indri Pertiwi pada RESS Battery Characterization and Technology Development; Yun Tonce dan Illa Rizianiza pada e-Trike Validation & Certification; Alfian Djafar pada Electric Bus Validation & Certification; dan Andika A. I. Saputra pada Planning, Policy, Business, TOD.

Wakil Dubes Amerika McFeeters mengatakan kolaborasi riset antara lembaga pendidikan tinggi di AS dan Indonesia diharapkan berbasis CCR dalam SHERA ini, diharapkan meningkatkan kemampuan peneliti dan daya dukung lingkungan penelitian di Indonesia.

“SHERA sekaligus menjadi wadah  para akademisi, peneliti, pemerintah daerah, kalangan bisnis/swasta, dan LSM di Indonesia dan Amerika Serikat untuk bersama-sama menemukan jalan keluar terhadap masalah-masalah yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Menteri Ristekdikti, Mohamad Nasir mengatakan, SHERA akan mendukung program pemerintah dalam meningkatan kapasitas dan lingkungan penelitian yang berkualitas pada perguruan tinggi Indonesia.

“Ketika produktivitas penelitian semakin tinggi, dan hubungan antara para pemangku kepentingan semakin baik, maka harapannya tujuan jangka panjang akan tercapai, yakni kemajuan ekonomi dan kesejahteraan Indonesia,” kata Nasir.

Hasil kolaborasi kerjasama tersebut, kata Nasir, tidak sebatas pada publikasi di jurnal-jurnal internasional, tetapi juga dapat dikomersialkan, diimplementasikan menjadi karya dan produk inovasi yang berguna bagi masyarakat Indonesia, Amerika dan dunia.

Indonesia dianugerahi dengan sumber daya alam yang sangat luar biasa dan tidak dimiliki oleh negara lain. Oleh sebab itu, Indonesia juga harus bisa membuktikan kepada dunia bahwa para peneliti dan inovator Indonesia juga mampu memimpin dan mengelola kerja sama Internasional semacam ini, dengan tetap mementingkan Hak Kekayaan Intelektual dan Royalti, diantara peneliti Indonesia dan Amerika. (*)

Ridho Jun Prasetyo│ Humas ITK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *