Kemacetan, polusi, dan tekanan kerja membuat hidup di kota semakin melelahkan. Namun, tahukah Anda bahwa sekadar duduk di bawah pohon atau berjalan di taman bisa menjadi terapi psikologis alami?
Penelitian ini berangkat dari kondisi Kota Balikpapan yang menghadapi lonjakan kendaraan hingga 90% dalam setahun. Peningkatan jumlah kendaraan tersebut memicu kemacetan dan polusi yang berdampak pada meningkatnya urban stress atau stres perkotaan. Kondisi ini membuat masyarakat lebih mudah mengalami kelelahan mental akibat rutinitas dan tekanan aktivitas sehari-hari.
Berdasarkan Teori Kaplan Attention Restoration Theory (ART), lingkungan alami mampu membantu pikiran “beristirahat” dari aktivitas yang melelahkan. Penelitian yang dilakukan oleh tim dari Institut Teknologi Kalimantan ini menemukan bahwa taman kota tidak hanya berfungsi sebagai ruang rekreasi, tetapi juga memiliki fungsi restoratif yang dapat membantu memulihkan kelelahan mental, menurunkan stres, serta meningkatkan kesehatan psikologis masyarakat.
Analisis dilakukan pada tiga taman kota di Balikpapan, yaitu Taman Tiga Generasi, Taman Bekapai, dan Taman Monpera. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi fisik ketiga taman berada pada kategori sedang hingga cukup baik. Elemen pohon dan tanaman penutup tanah menjadi daya tarik utama, sementara elemen air masih dinilai lemah, khususnya di kawasan Taman Monpera.
Penelitian ini juga mengkaji hubungan antara kondisi fisik taman dengan fungsi restoratif yang terdiri dari empat dimensi utama, yakni being away, compatibility, extent, dan fascination. Being away menggambarkan kemampuan taman membuat pengunjung merasa “jauh dari rutinitas”, compatibility menunjukkan kecocokan antara kebutuhan dan aktivitas pengunjung, extent berkaitan dengan keluasan dan keterhubungan ruang, sedangkan fascination menggambarkan daya tarik alami yang mampu memikat perhatian pengunjung.
Di Taman Tiga Generasi, skor fungsi restoratif mencapai 82,6 dengan dimensi extent tertinggi sebesar 85,47 serta menunjukkan korelasi negatif signifikan terhadap tingkat stres sebesar 67,58. Hal ini menunjukkan bahwa semakin baik kondisi fisik taman, maka semakin rendah tingkat stres pengunjung. Taman Bekapai memperoleh skor restoratif sebesar 81,42 dan cukup baik pada dimensi compatibility dengan skor 81,6, meskipun belum menunjukkan pengaruh signifikan terhadap tingkat stres yang berada pada angka 65,63.
Sementara itu, Taman Monpera mencatat skor restoratif sebesar 80,1 dan tingkat stres 62,59. Hasil ini menunjukkan adanya korelasi positif, di mana fungsi restoratif meningkat namun belum cukup kuat untuk menurunkan tekanan psikologis pengunjung secara signifikan.
Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan sembilan indikator fisik utama yang konsisten mendukung fungsi restoratif di seluruh taman kota. Elemen seperti pohon, jalan setapak, lampu taman, toilet, hingga batuan alami terbukti menjadi faktor yang paling berpengaruh. Semakin lengkap dan nyaman elemen-elemen tersebut, semakin besar peluang taman kota menjadi “ruang penyembuhan alami” bagi masyarakat yang lelah akibat rutinitas dan kemacetan perkotaan.
Penelitian ini dilakukan oleh Dosen Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK), Sarah Membala, S.Ars., M.URP. bersama mahasiswa Program Studi yang sama, yaitu Nur Herliana Putri, Syawaludin Ali Imron, Bagus Maarif, Salma Nur Syahda, dan Naufal Aziz Fikrillah.
Jadi, kalau sedang merasa suntuk, tidak perlu buru-buru mencari pelarian mahal. Cobalah mampir ke taman kota, duduk di bawah pohon, tarik napas dalam-dalam, dan biarkan alam menjadi terapi gratis untuk tubuh dan pikiran.
Taman Kota: Obat Alami untuk Stres Warga Balikpapan
Penelitian ini mengungkap potensi taman kota sebagai ruang restoratif yang membantu mengatasi stres akibat tekanan kehidupan perkotaan.
Rifkihadi Rahmatullah Ikuti Ekspedisi Patriot, Bawa Cerita Pengabdian dari Kawasan Transmigrasi
Daftar Ulang Nasional Berdasarkan Tes (SNBT) Tahun 2026