Balikpapan – Polimer atau orang mengenalnya dengan ‘plastik’ adalah salah satu material yang hampir tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan kita. Karena daya fleksibilitasnya yang tinggi, polimer sering dimanfaatkan sebagai material pembentuk pada sebagian besar peralatan rumah tangga hingga industri. Sayangnya industri petrokomia di Indonesia yang memproduksi polimer memerlukan bahan dari luar negeri untuk membuat bijih plastik seperti PP dan PE.

“Kita perlu mengembangkan polimer, baik dengan memanfaatkan bahan di dalam negeri seperti proses daur ulang plastik dari limbah,” kata Dosen Teknik Material dan Metalurgi, Ika Ismail dalam presentasi Forum Ilmiah XIII, Jumat, 21 Oktober 2016.

Menurut Ika, dengan mendaur-ulang plastik, biaya yang dibutuhkan dalam proses produksi selanjutnya akan lebih murah. Ini adalah salah satu inovasi pengolahan polimer yang dapat mengurangi efek negatifnya bagi lingkungan

“Cara lain adalah dengan memanfaatkan hidrokarbon sebagai bahan pembentuk organic-polimer atau biopolimer,” ujar dosen asal Jakarta ini. Indonesia, kata dia, memiliki potensi hidrokarbon yang tinggi.

Pemanfaatan biopolimer sebagai polimer alam khususnya di Kalimantan dapat mengurangi biaya produksi polimer, yang berarti mengurangi import, dan tentunya dapat mereduksi emisi yang ditimbulkan dari pengolahan dan pemanfaatannya.

“Itulah mengapa kita sebagai akademisi dan peneliti terus dituntut melakukan pengembangan dan inovasi terhadap semua teknologi yang ada saat ini, agar tidak menghancurkan alam, termasuk pada polimer,” kata Ika.

RJP I Humas ITK

Bagikan Yuk :
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •