Detail Berita

Dari Sampah Organik Menjadi Pupuk, Tim ITK Hadirkan Inovasi Komposter di Manggar

Ulfa Yuvitri 2 September 2026 12.42 31 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Balikpapan — Sampah organik rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu persoalan lingkungan dapat diolah menjadi produk yang bermanfaat bagi masyarakat. Melalui Program Inovasi Sosial (INSOS) Tahun 2026, Tim Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Kalimantan (ITK) menghadirkan inovasi “Pemanfaatan Sampah Organik Menjadi POC dan Kompos Padat Melalui Alat Tong Komposter di RT 66 Manggar, Balikpapan Timur.”

RT 66 Manggar atau yang dikenal sebagai Kampung Toraja merupakan salah satu kawasan permukiman di Balikpapan Timur. Sebagian besar masyarakatnya bermata pencaharian sebagai petani kebun dengan komoditas yang banyak dibudidayakan, seperti sawi dan kangkung. Hasil pertanian tersebut kemudian dipasarkan, salah satunya ke Pasar Pandansari.

Di sisi lain, masyarakat menghadapi keterbatasan akses terhadap pupuk bersubsidi karena adanya persyaratan kepemilikan lahan. Kondisi tersebut turut meningkatkan biaya produksi dan menjadi tantangan bagi keberlanjutan kegiatan pertanian masyarakat.

Mengubah Limbah Menjadi Pupuk

Menjawab permasalahan tersebut, tim pengabdian ITK memperkenalkan tong komposter sebagai teknologi tepat guna yang sederhana dan mudah diterapkan. Alat ini dibuat menggunakan bahan yang mudah diperoleh dan dimanfaatkan untuk mengolah sampah organik menjadi Pupuk Organik Cair (POC) dan kompos padat.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat tidak hanya menerima fasilitas tong komposter, tetapi juga mendapatkan sosialisasi dan pelatihan secara langsung. Materi yang diberikan mencakup pengelolaan sampah organik rumah tangga, proses fermentasi, pembuatan pupuk organik, pemantauan proses pengomposan, hingga teknik pemanenan pupuk.

Masyarakat juga dilibatkan dalam praktik pengolahan menggunakan bahan organik yang tersedia di lingkungan sekitar. Pendekatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman sekaligus keterampilan warga agar mampu mengelola sampah secara mandiri dan memanfaatkannya untuk mendukung kebutuhan pertanian.

Sebanyak tiga unit tong komposter ditempatkan di lokasi strategis untuk dapat digunakan bersama oleh masyarakat. Antusiasme warga selama kegiatan menunjukkan adanya ketertarikan terhadap penerapan teknologi sederhana yang dapat memberikan manfaat langsung bagi lingkungan maupun kegiatan pertanian.

Monitoring untuk Memastikan Kualitas Pupuk

Setelah proses pembuatan, tim melakukan monitoring secara berkala setiap minggu selama proses fermentasi. Pemantauan dilakukan untuk memastikan tong komposter berfungsi dengan baik sekaligus mengevaluasi kualitas pupuk yang dihasilkan.

Beberapa parameter yang diamati meliputi tekstur, warna, aroma, suhu, pH, dan kadar air. Hasil pengamatan kemudian dibandingkan dengan standar yang berlaku, yaitu SNI 7763:2024 untuk pupuk organik padat serta Keputusan Menteri Pertanian Nomor 261/KPTS/SR.310/M/4/2019 untuk pupuk organik cair.

Perubahan nilai pH, suhu, dan kadar air menjadi indikator penting dalam melihat aktivitas mikroorganisme selama proses dekomposisi. Berdasarkan hasil monitoring, proses pengomposan berlangsung dengan baik. Nilai pH kompos telah memenuhi standar SNI 7763:2024, sedangkan suhu yang mulai mendekati suhu lingkungan menjadi salah satu indikator proses pematangan kompos. Sementara itu, kadar air masih memerlukan proses pengeringan lanjutan.

Mendorong Pertanian yang Lebih Mandiri

Program INSOS ITK di RT 66 Manggar menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dan pemberdayaan masyarakat dapat dilakukan secara bersamaan. Sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah kini dapat dimanfaatkan menjadi sumber pupuk yang mendukung kegiatan pertanian warga.

Melalui penerapan tong komposter, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh alternatif pupuk, tetapi juga memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam mengelola sampah organik secara berkelanjutan. Keberadaan fasilitas komposter yang dapat digunakan bersama juga diharapkan mampu mendorong kebiasaan pengelolaan sampah yang lebih ramah lingkungan.

Ke depan, inovasi ini diharapkan dapat membantu mengurangi volume sampah organik, menekan ketergantungan terhadap pupuk komersial, mengurangi biaya produksi pertanian, serta meningkatkan kemandirian dan kesejahteraan masyarakat melalui pemanfaatan teknologi tepat guna.

Tim Pengabdian Masyarakat ITK

Ketua Pengabdian:
 Afif Taufiqul Hakim, S.T., M.Sc.

Anggota Dosen:
 Elizabeth Desfelia Ciciolini Sidabutar, S.T., M.T.
 Anisa Novi Andriani, S.T., M.Eng.

Tim Mahasiswa:
 Moreno Nadhif Fadhilah (Ketua Mahasiswa), Miftah Hadi Rahman, Muhammad Mudzaky Ramadhana, Handika Riskiano Pangestu, Eangie Livia Cleantha, Cindy Dessela Rahmatia, Yuwandari Adna Fika, Abdi Wahyudy, Alya Indriani Idris, dan Vina Kharisma.

Tahun Pengabdian: 2026 


Berita Terbaru

Example_News.webp Berita
Example_News.webp Berita
Example_News.webp Berita

ITK Kenalkan Peluang Pendidikan Tinggi dalam IVERSE 2026

ITK Kenalkan Peluang Masa Depan di IVERSE 2026

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami