Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Balikpapan – Rektor Institut Teknologi Kalimantan, Sulistijono mengatakan kampus yang dipimpinnya membuka layanan konsultasi Teknologi Tepat Guna (TTG) bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan inovasi alat yang memudahkan aktivitas keseharian mereka.

“70 persen dana penelitian kami alokasikan sepenuhnya untuk penciptaan Teknologi Tepat Guna (TTG) yang bermanfaat bagi masyarakat,” kata Sulistijono ketika menjadi pembicara dalam Lokakarya Gelar Teknologi Tepat Guna IV Tingkat Provinsi Kalimantan Timur, di Hotel Hakaya, Balikpapan, Rabu, 20 Juli 2016.

Menurutnya, kehadiran ITK yang belum genap setahun di Kalimantan Timur, sudah seharusnya memberikan pengaruh yang positif bagi lingkungan di sekitarnya. “Tridharma Perguruan Tinggi (pengajaran, penelitian, dan pengabdian masyarakat) harus segera dilakukan oleh seluruh civitas akademika ITK, baik kepada pelaku usaha, pemerintah, maupun masyarakat biasa. Pelayanan konsultasi teknologi ini adalah salah satu bentuk komitmen kami,” kata Sulistijono yang mendapatkan gelar profesor di bidang Teknik Material dan Metalurgi ini.

“Bapak/ibu di daerahnya butuh apa, konsultasikan ke kami. Kami butuh masukan-masukan sehingga kami dapat membuat teknologi yang tepat. Semua itu bisa dikomunikasikan. Sehingga ada keberpihakan pendanaan dari pemerintah dan institusi pendidikan pada TTG masyarakat,” kata Sulis. Ia mempersilakan warga untuk mendatangi Sekretariat Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ITK yang dipegang oleh Luh Putri Adnyani di Gedung A, Kampus ITK. Konsultasi berupa pertanyaan juga bisa diajukan melalui email ke humas itk (humas@itk.ac.id).

Dihadapan peserta lokakarya—yang terdiri dari perwakilan aparatur desa hingga provinsi, pelaku Usaha Kecil-Menengah, dan TNI—Sulistijono mencontohkan, ITK belum lama ini menjalin kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Kerjasama yang dilakukan dan sedang berjalan seperti transfer teknologi penyimpanan dan pengolahan karet murni menjadi menjadi finished product atau barang jadi, sehingga masyarakat bisa mendapatkan keuntungan lebih dari produksi karet mereka.

“Sumber daya manusia ITK siap menerima pertanyaan dan memberi masukan kepada masyarakat yang ingin berkonsultasi terkait masalah di lingkungannya. Dari rompi anti peluru, teknologi pengolahan minyak sawit, hingga sel surya organik kami mampu membuatnya,” ujar Sulis.

Menurutnya, implementasi TTG harus didahului dengan mengidentifikasi masalah dan potensi di wilayah tujuan, memetakannya, lalu memilih teknologi yang paling tepat untuk menyelesaikan masalah yang ada.

“Semua ­stakeholder (pelaku usaha, pemerintah, LSM, dan akademisi) harus bersinergi menjalankan perannya masing-masing. Tidak boleh bekerja sendiri. Menentukan sasarannya harus tepat, siapa objeknya, jangan sampai salah. Agar TTG-nya bisa benar-benar terlaksana,” katanya.

Ia mengajak peserta yang hadir untuk selalu berinovasi. Melakukan pembaruan-pembaruan yang bermanfaat. Karena pertanggungjawaban ITK bukan ke kalangan akademisi, tapi yang lebih besar, yakni ke masyarakat.

(Humas ITK/RJP)