Balikpapan – Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara merupakan provinsi yang notabene memiliki daerah dengan kategori Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T). Banyak penduduknya masih berada di bawah garis kemiskinan. Padahal sumber daya alam yang ada begitu melimpah.

Ironisme ini menjadi pijakan yang sama bagi Institut Teknologi Kalimantan(ITK) dan Universitas Borneo Tarakan(UBT) untuk bekerjasama mengubah kondisi tersebut. Kedua perguruan tinggi negeri ini sepakat untuk memajukan, tidak saja Kaltim dan Kaltara, tapi juga wilayah Kalimantan yang lebih luas. Melalui penciptaan inovasi-inovasi, buah karya akademia dan cendekia kampus untuk negeri.

Cita-cita bersama memajukan Kalimantan itu menguak dalam diskusi antara civitas akademika ITK dan UBT pada Jumat, 15 Juli 2016. Di Ruang Rapat Kampus ITK, rombongan UBT yang dipimpin langsung oleh Rektor Dr. Bambang Widigdo, diterima oleh Wakil Rektor Bidang Akademik ITK, Subchan.

“Sebagai pabrik penciptaan sumber daya manusia yang unggul, perguruan-perguruan tinggi harus memiliki visi yang sama untuk membangun dan memajukan Kalimantan. Tidak bisa bergerak sendiri-sendiri,” kata Subchan.

Doktor di bidang Matematika lulusan Cranfield University, Inggris, ini, mengatakan sudah saatnya teknologi menjadi menjadi tumpuan atau penggerak perekonomian masyarakat di daerah.

Menurutnya, saat ini, bisnis start-up berbasis teknologi sedang tumbuh layaknya jamur di musim hujan. Teknologi tidak saja menggerakkan ekonomi dengan keuntungan fantastis yang dihasilkannya, tetapi juga berusaha membantu menyelesaikan masalah teknis di kehidupan sehari-hari. Hal ini semakin mudah dengan keintegrasiannya dengan gawai telepon pintar yang kita bawa ke mana-mana.

“Yang menarik adalah semua ini dihasilkan oleh lulusan-lulusan baru universitas. Di sinilah ITK dan UBT bisa berperan penting,”kata Subchan dengan mengambil contoh Gojek, Traveloka Indonesia, Bukalapak, dan seterusnya aplikasinya dirancang oleh putra-putri Indonesia.

IMG_3998

Pendapat Subchan tersebut diamini Rektor UBT, Bambang Widigdo yang menyebut bahwa putra-putri Kalimantan sebenarnya tidak kalah dengan yang ada di Pulau Jawa. Hanya saja, masyarakat di Kalimantan umumnya masih mempercayakan anaknya untuk berkuliah di Pulau Jawa.

“Paradigma itu harus kita benahi. Putra-putri Kalimantan juga berkompeten, tidak saja dalam membangun wilayahnya sendiri, tapi juga membangun dan memajukan Indonesia. UBT bersama-sama ITK dan perguruan tinggi lainnya berkomitmen untuk itu,” kata Bambang.

UBT sendiri sudah lebih dulu berdiri di Kalimantan 17 tahun silam. Sementara ITK tahun ini usianya baru menginjak tahun kelima.

Para dekan fakultas dan koordinator program studi dari kedua perguruan tinggi yang turut hadir dalam diskusi ini pun bertukar pengalaman. Acara yang dilanjutkan dengan makan siang bersama ini ditutup dengan komitmen kedua belah pihak untuk melanjutkan kerjasama seperti pertukaran mahasiswa.

(Humas ITK/RJP)