Detail Berita

Dukung Infrastruktur Pesisir Berkelanjutan, Tim Peneliti ITK Teliti Dinamika Sedimen di Pantai Nipah-Nipah

Ulfa Yuvitri 28 Oktober 2026 15.53 109 kali dilihat
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

BALIKPAPAN — Tim peneliti Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengkaji dinamika perairan dan pergerakan sedimen di sekitar tanggul laut Pantai Nipah-Nipah, Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi karakteristik arus, gelombang, serta potensi erosi dan pengendapan sedimen sebagai dasar evaluasi infrastruktur pelindung pantai yang berkelanjutan.

Penelitian bertajuk “Pemodelan Hidrodinamika dan Transport Sedimen untuk Evaluasi Dampak Tanggul Laut di Pantai Nipah-Nipah Penajam Paser Utara” ini didanai oleh Institut Teknologi Kalimantan melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITK pada 2026.

Penelitian diketuai oleh Ir. Ahmad Azwar Mas’ud M., S.T., M.T., dosen Program Studi Teknik Kelautan, Fakultas Pembangunan Berkelanjutan ITK, bersama Muhammad Iqra Prasetya, S.Si., M.Si. dan Muhammad Abdul Ghofur Al Hakim, S.Kel., M.Si. Kegiatan ini turut melibatkan mahasiswa ITK serta berkolaborasi dengan Laboratorium Dinamika Pesisir dan Rekayasa Pantai, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Mengkaji Dinamika Perairan di Sekitar Tanggul Laut

Pantai Nipah-Nipah merupakan kawasan pesisir yang dipengaruhi oleh pasang surut, arus, dan gelombang laut. Interaksi berbagai proses tersebut memengaruhi pergerakan sedimen dan perubahan kondisi dasar perairan. Keberadaan tanggul laut dengan konstruksi sheet pile sebagai bangunan pelindung pantai juga dapat memengaruhi pola distribusi sedimen di sekitarnya.

Interaksi antara arus, gelombang, dan struktur pelindung pantai berpotensi menimbulkan erosi di suatu lokasi dan pengendapan di lokasi lainnya. Karena itu, pemahaman mengenai dinamika hidrodinamika dan perubahan dasar perairan diperlukan untuk mendukung pemantauan kondisi pesisir, pemeliharaan bangunan pantai, serta evaluasi teknis infrastruktur pada masa mendatang.

Mengintegrasikan Survei Lapangan dan Pemodelan Numerik

Penelitian diawali dengan survei lapangan di kawasan Pantai Nipah-Nipah pada Juli 2026. Tim melakukan pengukuran kedalaman perairan atau batimetri, topografi pantai, pengamatan pasang surut dan kecepatan arus, serta pengambilan sampel sedimen dasar. Data tersebut kemudian diintegrasikan dengan data gelombang untuk menggambarkan karakteristik perairan di lokasi penelitian.

Selanjutnya, tim menggunakan pemodelan numerik terintegrasi untuk menyimulasikan pergerakan arus, penjalaran gelombang, dan transport sedimen di sekitar tanggul laut. Pendekatan ini memungkinkan analisis pola distribusi arus dan sedimen sekaligus identifikasi area yang berpotensi mengalami perubahan elevasi dasar perairan.

Untuk mengevaluasi kesesuaian hasil simulasi dengan kondisi lapangan, tim membandingkan hasil pemodelan dengan data pengamatan pasang surut dan kecepatan arus. Hasil evaluasi menunjukkan nilai kesalahan rata-rata persentase sebesar 11 persen untuk elevasi muka air dan 9,7 persen untuk kecepatan arus.

Pemodelan Mengidentifikasi Potensi Erosi dan Pengendapan

Hasil pemodelan menunjukkan bahwa pola arus di sekitar Pantai Nipah-Nipah dipengaruhi oleh fase pasang surut. Pada kondisi menuju pasang, arus cenderung bergerak ke arah utara, sedangkan saat menuju surut, arah arus dominan berbalik ke selatan.

Tim juga mengidentifikasi perubahan karakteristik gelombang ketika merambat dari perairan terbuka menuju kawasan pantai. Gelombang dengan tinggi lebih dari 0,75 meter di perairan terbuka mengalami penurunan menjadi sekitar 0,25–0,275 meter di sekitar tanggul laut. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh kondisi kedalaman dan konfigurasi kawasan pesisir.

Meskipun tinggi gelombang menurun, interaksi antara gelombang dan arus tetap berkontribusi terhadap pergerakan sedimen dasar perairan. Hasil simulasi memperlihatkan kecenderungan perpindahan sedimen ke arah utara, disertai variasi potensi erosi dan pengendapan di sejumlah area.

Salah satu temuan penelitian adalah adanya potensi penurunan elevasi dasar perairan di sepanjang sisi laut tanggul. Berdasarkan simulasi selama satu bulan, penurunan elevasi dasar rata-rata diperkirakan sekitar 0,10 meter, dengan penurunan lokal maksimum mencapai sekitar 1,62 meter pada area tertentu. Sementara itu, zona pengendapan sedimen juga teridentifikasi di area yang lebih jauh dari tanggul.

Temuan tersebut merupakan indikasi perubahan dasar perairan berdasarkan simulasi numerik, bukan hasil pengukuran langsung terhadap kedalaman gerusan pada fondasi tanggul. Oleh sebab itu, diperlukan pengamatan lapangan dan kajian lanjutan untuk memastikan kondisi aktual dasar perairan serta mengevaluasi stabilitas struktur secara lebih terperinci.

Mendukung Pengelolaan Infrastruktur Pesisir Berkelanjutan

Hasil penelitian diharapkan dapat menjadi informasi awal untuk mengidentifikasi kawasan yang berpotensi mengalami erosi maupun pengendapan sedimen di sekitar bangunan pelindung pantai. Informasi ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan pertimbangan dalam pemantauan perubahan dasar perairan, perencanaan pemeliharaan, dan kajian lanjutan mengenai stabilitas infrastruktur pesisir.

Selain mendukung pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi rekayasa pantai, penelitian ini menjadi sarana pembelajaran berbasis permasalahan nyata di wilayah pesisir Kalimantan Timur. Keterlibatan mahasiswa memberikan pengalaman langsung dalam survei hidro-oseanografi, pengolahan data lapangan, dan penerapan pemodelan numerik.

Kolaborasi dengan Laboratorium Dinamika Pesisir dan Rekayasa Pantai BRIN turut mendukung pelaksanaan penelitian melalui pendampingan teknis dan pemanfaatan fasilitas pemodelan numerik. Sinergi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat kerja sama riset antara perguruan tinggi dan lembaga penelitian nasional.

Penelitian ini juga sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya tujuan ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan serta tujuan ke-14 tentang Ekosistem Lautan.

Melalui penelitian ini, ITK terus mendorong pengembangan riset terapan yang berkontribusi pada kemajuan ilmu pengetahuan sekaligus menyediakan dasar ilmiah bagi pengelolaan wilayah pesisir dan pembangunan infrastruktur maritim yang berkelanjutan di Kalimantan Timur.

Berita Terbaru

Example_News.webp Internasional
Example_News.webp Berita

Dosen Berprestasi ITK, Yunita Triana Mengolah Limbah Sawit Menjadi Peluang Energi Masa Depan

Yunita Triana Mengolah Limbah Sawit Menjadi Peluang Energi Masa Depan

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami