Jamur tiram merupakan salah satu komoditas pangan yang banyak diminati masyarakat karena kandungan gizinya yang tinggi dan mudah diolah. Namun, sifat biologisnya membuat jamur ini tergolong mudah rusak setelah dipanen. Michael Alexander Hutabarat, melalui kajiannya, mengungkapkan bahwa tanpa penanganan pascapanen yang tepat, mutu jamur tiram dapat menurun hanya dalam waktu singkat, sehingga berpotensi menimbulkan kerugian bagi petani, pedagang, dan konsumen.
Menurut Michael Alexander Hutabarat, jamur tiram memiliki kandungan air yang sangat tinggi serta laju respirasi yang cepat. Kondisi ini menyebabkan jamur rentan mengalami kehilangan air, perubahan tekstur menjadi lembek, serta penggelapan warna selama penyimpanan. Praktik penyimpanan pada suhu ruang tanpa kemasan yang sesuai masih banyak ditemukan, sehingga mempercepat penurunan kualitas sebelum produk sampai ke tangan konsumen.
Dalam penelitiannya, Michael Alexander Hutabarat mengibaratkan jamur tiram sebagai bahan pangan segar yang masih “bernapas” meskipun telah dipanen. Pada suhu ruang, proses respirasi berlangsung lebih cepat dan mempercepat kerusakan. Penyimpanan pada suhu dingin dinilai mampu memperlambat proses respirasi tersebut, sehingga kesegaran jamur dapat dipertahankan lebih lama dan laju kerusakan dapat ditekan.
Selain suhu, kemasan juga menjadi faktor penting dalam menjaga mutu jamur tiram. Michael Alexander Hutabarat menjelaskan bahwa kemasan berfungsi sebagai pelindung yang harus mampu menjaga keseimbangan antara kelembapan dan sirkulasi udara. Kemasan yang terlalu tertutup berisiko menimbulkan kelembapan berlebih dan mempercepat pembusukan, sedangkan jamur tanpa kemasan cenderung cepat kehilangan air dan mengering.
Berdasarkan hasil kajian Michael Alexander Hutabarat, penggunaan kemasan plastik polypropylene (PP) dinilai lebih efektif karena masih memungkinkan terjadinya pertukaran udara sekaligus menekan kehilangan air. Kombinasi kemasan PP dengan penyimpanan bersuhu dingin terbukti mampu mempertahankan tekstur, warna, dan aroma jamur tiram secara lebih optimal selama masa simpan.
Melalui kajian tersebut, Michael Alexander Hutabarat menegaskan bahwa menjaga mutu jamur tiram tidak selalu memerlukan teknologi yang kompleks atau biaya besar. Pengaturan suhu penyimpanan yang tepat serta pemilihan kemasan yang sesuai dapat menjadi solusi praktis untuk memperpanjang umur simpan, menjaga kualitas produk, dan mengurangi kerugian pascapanen. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan bagi pelaku usaha dan masyarakat dalam meningkatkan nilai tambah komoditas jamur tiram.
Penelitian dan Pengabdian
Program Akademik
Penelitian dan Pengabdian
Penelitian dan Pengabdian
Program Akademik
Penelitian dan Pengabdian
ITK Buka 25 Program Studi dengan 1.307 Kursi pada SNBT-UTBK 2026
ITK Buka 25 Program Studi SNBT-UTBK 2026
Informasi Akses Pengumuman SNBP 2026
Akses Pengumuman SNBP 2026
ITK Resmi Jadi Lokasi UTBK-SNBT 2026 di Kalimantan Timur
Institut Teknologi Kalimantan Resmi Jadi Lokasi UTBK-SNBT 2026