Tingginya angka kehilangan pangan (food loss) pada buah dan sayur masih menjadi tantangan besar di sektor pertanian Indonesia. Kerusakan selama proses distribusi, penyimpanan, hingga pemasaran membuat kualitas hasil panen cepat menurun dan berdampak pada kerugian ekonomi petani. Berangkat dari permasalahan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan menghadirkan inovasi BIOKASA, bio-coating organik berbahan dasar pati singkong yang dirancang untuk membantu memperpanjang umur simpan buah dan sayuran segar.
Program inovasi sosial ini dilaksanakan bersama mitra ABAS Farm dan Asosiasi Petani Pepaya Balikpapan yang berlokasi di Karang Joang, Balikpapan Utara. BIOKASA dikembangkan sebagai lapisan pelindung alami (edible coating) yang diaplikasikan pada permukaan buah seperti pepaya dan tomat untuk mengurangi laju respirasi, memperlambat kerusakan fisik, serta menjaga kesegaran produk pascapanen.
Ketua tim pelaksana, Raif Novwan Ramadhansyah, menjelaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada inovasi teknologi, tetapi juga pemberdayaan masyarakat petani melalui pelatihan dan pendampingan langsung di lapangan.
Tahap awal program dimulai dengan identifikasi dan observasi lapangan di ABAS Farm. Tim melakukan survei rantai pasok untuk memetakan proses distribusi hasil panen, mulai dari pemetikan, pengemasan, hingga pengiriman ke pasar dan swalayan. Selain itu, tim juga menganalisis jenis kerusakan yang paling sering terjadi pada pepaya dan tomat, seperti memar, kulit layu, hingga serangan jamur.
Dalam proses tersebut, mahasiswa turut memastikan ketersediaan pati singkong lokal di kawasan Karang Joang sebagai bahan baku utama bio-coating. Pendekatan ini dilakukan agar teknologi yang dikembangkan dapat memanfaatkan sumber daya lokal dan lebih mudah diterapkan oleh petani.
Pada tahap perencanaan, tim menyusun berbagai formulasi larutan pati singkong dengan variasi konsentrasi berbeda untuk menemukan formula paling efektif. Eksperimen dilakukan melalui metode trial and error dengan memantau laju respirasi dan penyusutan bobot buah selama 7 hingga 10 hari.
BIOKASA diaplikasikan menggunakan teknik pencelupan (dipping) dan penyemprotan (spraying) pada buah pepaya dan tomat. Lapisan bio-coating ini bekerja sebagai pelindung alami yang membantu menjaga kelembapan buah sekaligus menghambat pertumbuhan mikroorganisme penyebab pembusukan.
Selain eksperimen laboratorium sederhana, tim juga mengedukasi petani mengenai pentingnya teknologi pascapanen dalam meningkatkan daya saing produk pertanian lokal.
Program BIOKASA tidak berhenti pada pengembangan produk. Tim mahasiswa juga mengadakan sosialisasi dan pelatihan bagi anggota Asosiasi Petani Pepaya Balikpapan. Pada kegiatan tersebut, petani diberikan edukasi terkait cara pembuatan larutan bio-coating, teknik pemanasan suhu optimal, hingga praktik pelapisan buah secara mandiri.
Melalui pendekatan partisipatif, petani tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat langsung dalam penerapan teknologi. Pendampingan dilakukan untuk memastikan metode BIOKASA dapat digunakan secara sederhana dan berkelanjutan dalam aktivitas pertanian sehari-hari.
Program BIOKASA melibatkan mahasiswa lintas program studi, mulai dari Teknik Material dan Metalurgi, Teknik Industri, Teknik Kimia, hingga Rekayasa Keselamatan. Selain Raif Novwan Ramadhansyah sebagai ketua pelaksana, tim juga terdiri dari Diva Hafsari Adinda Taqwa Siregar, Roy Francisco Kurniawan Aruan, Auriella Dwiratri Fijriah, hingga beberapa anggota lainnya.
Kegiatan ini dibimbing oleh dosen ITK, yakni Fikan Mubarok Rohimsyah, Dea Dita Krisnasari, dan Melati Salma yang turut mendukung pengembangan teknologi dan implementasi program di masyarakat.
Sebagai program inovasi sosial, BIOKASA diharapkan mampu membantu mengurangi kehilangan pangan sekaligus meningkatkan nilai ekonomi hasil panen petani lokal. Dengan memanfaatkan bahan alami dan mudah diperoleh, teknologi ini memiliki potensi untuk diterapkan lebih luas pada berbagai komoditas hortikultura lainnya.
Selain menghasilkan pelatihan dan pendampingan masyarakat, program ini juga menargetkan luaran berupa artikel publikasi, video dokumentasi kegiatan, serta pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HAKI) terhadap SOP BIOKASA.
Melalui inovasi sederhana namun aplikatif ini, mahasiswa ITK menunjukkan bahwa teknologi tidak selalu harus rumit untuk memberikan dampak nyata. BIOKASA menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara kampus dan masyarakat dapat menghadirkan solusi berkelanjutan bagi sektor pertanian lokal.
Penelitian dan Pengabdian
Penelitian dan Pengabdian
Mahasiswa Aktuaria ITK Raih Wakil 1 Putri Duta Wisata Manuntung Kota Balikpapan 2026
PPIJ Mengajar 2026 Chapter Balikpapan Jadi Jembatan Mahasiswa ITK Menuju Pendidikan Tinggi Global
Ryan, Mahasiswa Bisnis Digital ITK, Optimalkan Publikasi Digital di DLH Balikpapan