Detail Berita

Bisakah Ubi Ungu Menjadi Indikator Alami Kesegaran Daging? Mahasiswa ITK Menjawabnya Lewat SUN-WRAP

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 18 Agustus 2026 8.49 34 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Balikpapan - Bagaimana jika kemasan makanan tidak hanya membungkus, tetapi juga membantu memberi tanda ketika bahan pangan mulai kehilangan kesegarannya? Pertanyaan tersebut menjadi salah satu gagasan yang mendorong tiga mahasiswa Program Studi Teknologi Pangan Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengembangkan SUN-WRAP, sebuah inovasi smart packaging biodegradable berbasis bahan alami.

SUN-WRAP dikembangkan oleh Adam Al Farizie, Tatia Asnur Syafitri, dan Meisyifa Caesariasari Sabowo di bawah bimbingan Yuvita Lira Vesti Arista, S.T.P., M.Si. Inovasi ini memadukan tiga bahan dengan fungsi berbeda, yaitu pati singkong sebagai bahan dasar kemasan biodegradable, ekstrak daun sungkai sebagai sumber antimikroba, serta pigmen alami dari ubi ungu sebagai indikator perubahan kesegaran pangan.

Ide tersebut berangkat dari persoalan sederhana tetapi dekat dengan kehidupan sehari-hari. Daging mentah memiliki masa simpan yang terbatas, sementara konsumen maupun pelaku usaha tidak selalu mudah mengetahui perubahan kesegarannya hanya dari kemasan. Di sisi lain, penggunaan plastik konvensional untuk membungkus pangan juga menambah persoalan lingkungan karena membutuhkan waktu lama untuk terurai.

Dari persoalan itulah tim mencoba membuat kemasan yang memiliki fungsi lebih dari sekadar pembungkus.

“SUN-WRAP kami kembangkan sebagai smart packaging yang biodegradable dan ramah lingkungan. Pati singkong digunakan sebagai bahan dasarnya, daun sungkai dimanfaatkan sebagai antimikroba, sedangkan ubi ungu digunakan sebagai indikator alami untuk membantu mendeteksi perubahan kesegaran pangan hewani,” terang tim.

Ubi Ungu Bukan Sekadar Bahan Pangan

Salah satu bagian menarik dari SUN-WRAP adalah pemanfaatan ubi ungu sebagai indikator alami kesegaran. Bahan alami tersebut diintegrasikan ke dalam sistem kemasan sehingga SUN-WRAP diarahkan tidak hanya untuk melindungi bahan pangan, tetapi juga membantu pengguna memperoleh informasi mengenai kondisinya.

Sementara itu, daun sungkai, tanaman yang dekat dengan kekayaan hayati Kalimantan, dimanfaatkan sebagai sumber antimikroba. Kombinasi keduanya kemudian dikembangkan dalam lembar kemasan berbasis pati singkong.

Dengan konsep tersebut, SUN-WRAP menggabungkan prinsip kemasan aktif dan kemasan cerdas (active and intelligent packaging). Kemasan tidak lagi hanya menjadi lapisan pasif antara makanan dan lingkungan, tetapi diarahkan untuk memiliki fungsi tambahan dalam menjaga sekaligus memantau kualitas pangan.

Dari Potensi Lokal Kalimantan Menjadi Riset Mahasiswa

Pengembangan SUN-WRAP dilakukan melalui sejumlah tahapan, mulai dari eksplorasi formulasi, ekstraksi bahan alami, hingga pembuatan dan trial prototipe. Bagi tim, penelitian ini sekaligus menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa potensi bahan lokal dapat dikembangkan menjadi solusi atas persoalan yang lebih luas.

Pemanfaatan daun sungkai menjadi salah satu unsur penting dalam riset tersebut. Tanaman lokal Kalimantan itu tidak hanya ditempatkan sebagai identitas daerah, tetapi dieksplorasi berdasarkan potensinya untuk mendukung pengembangan teknologi kemasan pangan.

Dengan demikian, SUN-WRAP mempertemukan tiga isu sekaligus: keamanan dan kesegaran pangan, pengurangan penggunaan plastik konvensional, serta pemanfaatan sumber daya lokal Kalimantan melalui riset mahasiswa.

Berpotensi Mendukung UMKM Pangan

Tim juga melihat peluang penerapan SUN-WRAP pada sektor UMKM pangan, khususnya usaha yang menggunakan bahan pangan hewani sebagai bahan baku. Kemampuan kemasan untuk membantu menjaga sekaligus memberikan indikasi mengenai kesegaran bahan pangan berpotensi membantu pelaku usaha dalam melakukan pengendalian kualitas bahan baku.

Dalam pengembangan lebih lanjut, inovasi semacam ini juga diharapkan dapat berkontribusi pada upaya mengurangi bahan pangan yang terbuang akibat penurunan kualitas serta mengurangi ketergantungan terhadap kemasan plastik yang sulit terurai.

Tak Berhenti di Kompetisi

SUN-WRAP turut dibawa dalam KRENOVA 2026: Kreativitas dan Inovasi yang diselenggarakan oleh Bappedalitbang Kota Balikpapan. Namun bagi tim, kompetisi bukan menjadi akhir dari perjalanan inovasi tersebut.

Mereka berharap SUN-WRAP dapat terus dikembangkan, diuji, dan diteliti lebih jauh agar konsep yang saat ini telah diwujudkan dalam prototipe dapat semakin matang dan memiliki peluang penerapan yang lebih luas.

“Harapannya inovasi ini bisa dikembangkan dan diteliti lebih jauh,” ungkap tim.

SUN-WRAP menjadi salah satu contoh bagaimana penelitian mahasiswa dapat dimulai dari persoalan yang sederhana: bagaimana mengetahui daging masih segar sekaligus mengurangi penggunaan plastik konvensional? Dari pertanyaan tersebut, mahasiswa ITK mencoba menjawabnya melalui perpaduan pati singkong, daun sungkai, dan ubi ungu dalam satu inovasi kemasan pangan.

Lebih dari sebuah prototipe, riset ini menunjukkan bahwa bahan alam lokal dapat memperoleh nilai baru ketika dipertemukan dengan ilmu pengetahuan, kreativitas mahasiswa, dan kebutuhan nyata masyarakat.

Berita Terbaru

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami