IKN - Di balik deru baling-baling, ketelitian rangkaian elektronik, dan persiapan panjang menuju arena pertandingan, ada sosok-sosok perempuan yang turut mengambil peran dalam perjalanan tim menuju Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI).
Mereka tidak sekadar hadir sebagai pendukung. Ada yang mengelola tim, memastikan kebutuhan teknis berjalan, hingga memimpin tim menghadapi persaingan di tingkat nasional. Bagi mereka, robotika bukan ruang yang hanya diperuntukkan bagi laki-laki.
Valencia Angela Permatasari merupakan mahasiswi Teknik Informatika Universitas Dian Nuswantoro yang berperan sebagai Manager dan Support dalam tim.
Di tengah persiapan kompetisi, peran manajerial menjadi bagian penting untuk memastikan berbagai kebutuhan tim dapat berjalan dengan baik. Bagi Valencia, keterlibatan perempuan dalam dunia teknologi tidak harus selalu dimulai dari peran teknis.
Menurutnya, perempuan yang memiliki ketertarikan pada robotika perlu berani mencoba dan mengambil kesempatan untuk terlibat.
“Perempuan yang memiliki minat di bidang robotika harus berani mencoba dan mengambil peran. Teknologi bisa dipelajari siapa saja.”
Bagi Valencia, keberanian untuk mengambil peran menjadi salah satu langkah awal untuk semakin dekat dengan dunia teknologi dan robotika.
Sementara itu, Quinadiene Nasywa Azzura, mahasiswi Teknik Elektro Universitas Pertamina, mengambil peran pada bagian elektrikal tim.
Bidang elektrikal menuntut ketelitian karena berbagai sistem kelistrikan menjadi bagian penting dalam mendukung performa robot. Di tengah dominasi laki-laki yang masih terlihat dalam bidang teknik dan robotika, Quinadiene memilih untuk tetap mengambil kesempatan dan terus belajar.
Baginya, robotika bukan bidang yang dibatasi oleh gender.
“Robotika bukan hanya bidang laki-laki. Teknologi bisa dipelajari oleh siapa saja, dan saya ingin terus mencoba agar tidak tertinggal perkembangan teknologi.”
Keterlibatan Quinadiene menunjukkan bahwa perempuan dapat mengambil peran langsung dalam aspek teknis dan terus berkembang bersama teknologi yang semakin dinamis.
Cerita lain datang dari Zaskia Fitri Nur Azizah, mahasiswi Teknik Komputer Universitas Brawijaya angkatan 2024. Dalam timnya, Zaskia dipercaya sebagai Ketua Tim.
Menjadi pemimpin tim di kompetisi robotika tentu bukan perjalanan singkat. Ada proses panjang yang harus dilalui sebelum akhirnya berhasil mencapai babak final. Dari persiapan, pengembangan robot, koordinasi anggota, hingga menghadapi pertandingan, setiap tahapan menjadi bagian dari perjalanan yang tidak mudah.
Kini, setelah berhasil mencapai final, Zaskia membawa satu harapan bersama timnya.
“Semoga bisa memberikan yang terbaik selama pertandingan dan membawa pulang kemenangan untuk Universitas Brawijaya, setelah melalui proses panjang hingga akhirnya berada di babak final.”
Kisah Valencia, Quinadiene, dan Zaskia memperlihatkan wajah lain dari kompetisi robotika. Di balik teknologi yang dipertandingkan, terdapat manusia dengan peran, proses, dan keberanian untuk terus belajar.
Mereka hadir dalam posisi yang berbeda mulai dari manajemen dan support, bagian elektrikal, hingga kepemimpinan tim. Namun, ketiganya memiliki satu kesamaan: memilih untuk mengambil bagian dalam dunia teknologi dan robotika.
Perjalanan menuju final KRTI bukan hanya tentang siapa yang paling cepat, paling presisi, atau memiliki teknologi paling canggih. Di dalamnya juga terdapat cerita tentang keberanian untuk mencoba, ketekunan untuk belajar, dan kesempatan bagi siapa saja untuk mengambil peran.
Srikandi-srikandi ini membuktikan bahwa di balik langit KRTI, perempuan juga punya ruang untuk terbang, berkarya, dan membawa timnya melangkah lebih jauh.
Srikandi di Langit KRTI, Cerita Mahasiswi di Balik Perjuangan Menuju Final
Cerita Mahasiswi di Balik Perjuangan Menuju Final
Dari Ujung Barat Indonesia ke Langit IKN, Seulawah Team Bawa Mimpi Aceh di KRTI 2026
Seulawah Team Bawa Mimpi Aceh di KRTI 2026
Dari Kampus Swasta Jombang, ASWAJA Robotika Terbangkan Kuda Sembrani di KRTI 2026
ASWAJA Robotika Terbangkan Kuda Sembrani di KRTI 2026