Detail Berita

Dari Limbah Jadi Kaldu Bubuk, Seberapa Aman Cangkang Kepiting untuk Dikonsumsi?

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 13 Agustus 2026 13.50 25 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Balikpapan - Cangkang kepiting biasanya berakhir sebagai limbah setelah bagian dagingnya diolah. Namun, bagaimana jika limbah tersebut justru dimanfaatkan kembali menjadi produk pangan bernilai ekonomi? Gagasan inilah yang diangkat mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) melalui BRACO, konsep pengolahan limbah cangkang kepiting menjadi kaldu bubuk.

BRACO dikembangkan oleh mahasiswa Kelompok 9 MSD I dengan Muhammad Iqra Prasetya, S.Si., M.Si. sebagai dosen pengampu. Gagasan tersebut berangkat dari potensi hasil perikanan di Balikpapan yang turut menghasilkan limbah cangkang kepiting dan belum seluruhnya dimanfaatkan secara optimal.

Berdasarkan kajian yang dilakukan tim, potensi limbah cangkang kepiting di Balikpapan diperkirakan mencapai sekitar 5 ton per bulan, dengan sumber bahan baku di antaranya berasal dari kawasan Manggar, Kariangau, dan Teritip. Jika tidak dikelola, limbah organik tersebut berpotensi menambah persoalan lingkungan di kawasan pesisir.

Kok Bisa Cangkang Kepiting Jadi Kaldu?

Melalui BRACO, cangkang kepiting tidak dikonsumsi begitu saja. Cangkang terlebih dahulu dirancang untuk melalui proses pengolahan secara higienis sebelum diolah menjadi bahan kaldu bubuk.

Konsep ini mengubah cara pandang terhadap cangkang kepiting: dari sesuatu yang dianggap sebagai limbah menjadi bahan baku yang memiliki potensi nilai tambah. Selain mengurangi timbunan limbah, produk tersebut juga diarahkan menjadi salah satu produk lokal yang dapat dikembangkan oleh UMKM.

Gagasan BRACO membawa konsep ekonomi sirkular, yakni memanfaatkan kembali material sisa produksi agar dapat masuk ke dalam siklus ekonomi dan menghasilkan produk baru.

Lalu, Apakah Aman Dikonsumsi?

Meski memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai produk pangan, keamanan BRACO tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan proses pengolahan atau studi kelayakan ekonomi. Produk pangan yang memanfaatkan hasil samping kepiting tetap membutuhkan tahapan pengujian lebih lanjut sebelum dapat dinyatakan aman untuk dikonsumsi dan dikembangkan secara komersial.

Pengujian tersebut penting untuk memastikan proses produksi memenuhi standar keamanan pangan, termasuk pengendalian cemaran mikroba dan logam berat. BPOM saat ini mengatur batas maksimal cemaran mikroba dalam pangan olahan melalui Peraturan BPOM Nomor 3 Tahun 2026 serta persyaratan cemaran logam berat melalui Peraturan BPOM Nomor 9 Tahun 2022.

Artinya, BRACO saat ini lebih tepat dilihat sebagai gagasan inovasi dan studi pengembangan produk yang memiliki peluang untuk dilanjutkan ke tahap pengujian pangan, penyempurnaan proses produksi, hingga pemenuhan standar sebelum nantinya dapat dikembangkan lebih luas.

Dari Persoalan Lingkungan Jadi Peluang Ekonomi

Tidak berhenti pada konsep produk, tim juga melakukan studi kelayakan untuk melihat potensi BRACO dari sisi ekonomi.

Hasil kajian menunjukkan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp38.854.774, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 51 persen, serta estimasi payback period sekitar enam bulan.

Berdasarkan perhitungan tersebut, BRACO dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan lebih lanjut sebagai peluang usaha. Namun, hasil tersebut masih merupakan kajian kelayakan yang perlu diikuti dengan pengujian produk dan validasi dalam skala pengembangan berikutnya.

Dampak yang ditawarkan juga mencakup tiga aspek. Dari sisi lingkungan, pemanfaatan cangkang dapat membantu mengurangi limbah organik dan pencemaran kawasan pesisir. Dari sisi ekonomi, konsep ini membuka peluang produk baru dan peningkatan pendapatan UMKM. Sementara dari sisi sosial, pengembangan usaha berpotensi mendorong keterampilan serta membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal.

BRACO juga diarahkan mendukung sejumlah Sustainable Development Goals (SDGs), yaitu SDG 8 tentang Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, SDG 9 tentang Industri, Inovasi dan Infrastruktur, SDG 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta SDG 14 tentang Ekosistem Lautan.

Melalui gagasan tersebut, mahasiswa ITK menunjukkan bahwa inovasi dapat bermula dari persoalan yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Cangkang kepiting yang sebelumnya dianggap sebagai limbah ternyata menyimpan potensi untuk dikembangkan menjadi produk bernilai, sekaligus membuka ruang penelitian lanjutan mengenai teknologi pengolahan, keamanan pangan, dan kelayakan produksi.

Dari pesisir Balikpapan, BRACO membawa satu gagasan sederhana: limbah tidak selalu berakhir sebagai sampah dengan inovasi yang tepat, ia dapat menjadi sumber nilai baru bagi lingkungan dan masyarakat.

Berita Terbaru

Example_News.webp Diktisaintek Berdampak
Example_News.webp Internasional

Diaspora Berdampak, ITK Perkuat Kolaborasi Riset Material Indonesia–Taiwan

ITK Perkuat Kolaborasi Riset Material Indonesia–Taiwan

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami