Air merupakan faktor utama yang menentukan keberhasilan budidaya ikan, terutama dari aspek tingkat keasaman (pH) dan kekeruhan. Kualitas air yang tidak sesuai dapat menghambat pertumbuhan ikan, meningkatkan risiko serangan penyakit, hingga menyebabkan tingginya angka kematian ikan. Permasalahan tersebut menjadi perhatian Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Teknologi Kalimantan (ITK) saat melaksanakan pengabdian kepada masyarakat di Desa Suko Mulyo, Kecamatan Sepaku.
Berdasarkan hasil survei lapangan dan pengukuran menggunakan pH meter digital, sumber air yang dimanfaatkan masyarakat berasal dari aliran sungai dengan kondisi keruh dan memiliki nilai pH 4,30. Nilai tersebut menunjukkan bahwa air bersifat cukup asam sehingga belum memenuhi kondisi ideal untuk budidaya ikan nila. Lingkungan perairan yang terlalu asam dapat mengganggu metabolisme ikan, menurunkan daya tahan tubuh, serta berdampak pada rendahnya produktivitas budidaya.
Menjawab tantangan tersebut, Tim KKN ITK mengembangkan HYDROVIVE 2026, sebuah Teknologi Tepat Guna (TTG) berupa sistem filter air terintegrasi yang dirancang untuk meningkatkan kualitas air sebelum dialirkan ke kolam budidaya ikan nila. Inovasi ini menjadi solusi sederhana, ekonomis, dan mudah diterapkan oleh masyarakat untuk mendukung keberlanjutan usaha budidaya.
HYDROVIVE 2026 memanfaatkan beberapa lapisan media filtrasi yang bekerja secara bertahap, yaitu dacron sebagai penyaring partikel kasar, pasir silika untuk mengurangi kekeruhan, karbon aktif sebagai penyerap senyawa organik dan penyebab bau, zeolit untuk membantu mengurangi kandungan amonia sekaligus meningkatkan kualitas air, serta ferolit sebagai media pendukung proses penyaringan. Kombinasi media tersebut dirancang berdasarkan karakteristik sumber air yang digunakan masyarakat di Desa Suko Mulyo.
Selain efektif meningkatkan kualitas air, HYDROVIVE juga memiliki sistem pengoperasian yang sederhana sehingga mudah digunakan oleh masyarakat. Teknologi ini dilengkapi dengan dua mode operasi, yaitu Fast Rinse, yang memungkinkan media filter dibersihkan tanpa harus membongkar tabung penyaring sehingga proses perawatan menjadi lebih praktis, serta Filtration Mode, yaitu proses penyaringan air sebelum dialirkan menuju kolam budidaya. Dengan sistem tersebut, masyarakat dapat melakukan perawatan alat secara mandiri dengan waktu yang lebih singkat dan biaya operasional yang relatif rendah.
Pengembangan HYDROVIVE dimulai sejak Januari 2026 melalui beberapa tahapan. Kegiatan diawali dengan survei lapangan untuk mengidentifikasi kondisi budidaya ikan serta kualitas sumber air di Desa Suko Mulyo. Berdasarkan hasil identifikasi tersebut, tim mengembangkan prototipe filter skala kecil untuk menentukan kombinasi media filtrasi yang paling efektif. Tahapan selanjutnya meliputi pengadaan material, perakitan alat skala penuh, pengujian kualitas air setelah proses filtrasi, hingga pelaksanaan sosialisasi kepada masyarakat mengenai cara kerja, pengoperasian, dan perawatan alat agar teknologi yang diterapkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Selama pelaksanaan program, tim menghadapi sejumlah tantangan, baik dari aspek teknis maupun operasional. Akses menuju lokasi yang cukup sulit menyebabkan mobilitas tim serta distribusi material menjadi lebih lambat. Selain itu, proses pengujian kualitas air di laboratorium memerlukan waktu yang cukup panjang karena keterbatasan fasilitas dan proses administrasi. Tim juga melakukan beberapa kali pengujian untuk memperoleh kombinasi media filtrasi yang paling sesuai dengan karakteristik air di Desa Suko Mulyo. Berbagai tantangan tersebut menjadi bagian penting dalam proses penyempurnaan teknologi agar mampu memberikan hasil yang optimal bagi masyarakat.
Melalui inovasi HYDROVIVE 2026, Tim KKN ITK berharap dapat meningkatkan kualitas air budidaya ikan nila sehingga produktivitas budidaya masyarakat turut meningkat. Teknologi ini diharapkan mampu mengurangi risiko kematian ikan, meningkatkan efisiensi pengelolaan kolam, serta memperkuat kemandirian masyarakat dalam mengelola sumber daya air dengan teknologi yang mudah dioperasikan dan dirawat.
Program ini menjadi salah satu bentuk nyata kontribusi mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan dalam menerapkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab permasalahan masyarakat melalui inovasi yang berangkat dari kebutuhan lokal sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan di wilayah sekitar Ibu Kota Nusantara.
Program inovasi ini dibimbing oleh:
Adapun tim mahasiswa yang mengembangkan HYDROVIVE 2026 terdiri atas:
Kolaborasi lintas program studi tersebut menjadi bukti bahwa sinergi keilmuan mampu menghasilkan inovasi yang aplikatif dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung budidaya ikan nila yang lebih produktif dan berkelanjutan.
Komisi Informasi Kaltim Kunjungi ITK dalam Sosialisasi Monev Badan Publik 2026
Tiga Tim ITK Lolos Final KKI 2026, Siap Berlaga di Tingkat Nasional
Tiga Tim ITK Lolos Final KKI 2026
Bisakah Ubi Ungu Menjadi Indikator Alami Kesegaran Daging? Mahasiswa ITK Menjawabnya Lewat SUN-WRAP
Mahasiswa ITK Kembangkan Kemasan Cerdas untuk Kesegaran Daging