Balikpapan — Institut Teknologi Kalimantan (ITK) melalui tim Pengabdian kepada Masyarakat menghadirkan inovasi teknologi tepat guna untuk mendukung pengelolaan sampah plastik di Bank Sampah Margo Mulyo, Balikpapan. Tim memodifikasi mesin pencacah plastik dari sistem engkol manual menjadi electric starter, sehingga mesin lebih mudah dioperasikan dan tidak membutuhkan tenaga awal yang besar.
Program yang diketuai Dwi Aneka Kartini, S.T., M.T., bersama Eka Pratiwi Briant Pakiding, S.T., M.Sc. dan Windi Auliana, S.T., M.T., tidak hanya berfokus pada modifikasi mesin, tetapi juga mencakup penyusunan standar operasional prosedur (SOP), demonstrasi penggunaan, edukasi keselamatan kerja, serta pemanfaatan hasil cacahan plastik.
Modifikasi dilakukan karena sistem engkol pada mesin sebelumnya membutuhkan tenaga cukup besar dan kurang praktis untuk penggunaan berulang. Tim ITK melakukan pembersihan, pemeriksaan komponen, perbaikan, hingga pemasangan sistem electric starter, kemudian melakukan uji fungsi untuk memastikan mesin dapat bekerja dengan baik.
Dengan sistem baru, mesin diharapkan dapat digunakan secara lebih mudah dan konsisten untuk mendukung proses pemilahan serta pengolahan sampah plastik di tingkat komunitas.
Untuk memastikan penggunaan mesin berlangsung aman, tim juga memberikan SOP yang mencakup pemeriksaan mesin, pemilahan, pencucian dan pengeringan plastik, penggunaan alat pelindung diri, prosedur penyalaan, proses pencacahan, penanganan sumbatan, hingga pembersihan mesin.
Peserta juga diberikan pemahaman bahwa penggunaan teknologi harus diiringi dengan penerapan keselamatan kerja, termasuk penggunaan sarung tangan, masker, dan perlengkapan pelindung lainnya.
Hasil cacahan plastik kemudian diperkenalkan sebagai bahan dekoratif dalam pembuatan gantungan kunci berbasis resin. Produk percontohan ini menunjukkan bahwa sampah plastik dapat diolah menjadi material yang memiliki nilai guna dan daya tarik visual.
Meski masih dalam tahap awal, pemanfaatan tersebut membuka peluang pengembangan produk kreatif berbasis sampah sesuai kebutuhan dan kapasitas komunitas.
Efektivitas kegiatan dievaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil evaluasi menunjukkan rata-rata nilai peserta meningkat dari 79 persen pada pre-test menjadi 99 persen pada post-test, atau naik 20 poin persentase.
Peningkatan terlihat pada pemahaman mengenai jenis dan dampak sampah plastik, lama waktu plastik terurai, hingga tahapan pengolahan sampah menjadi produk bernilai guna.
Untuk menjaga keberlanjutan program, tim ITK merekomendasikan adanya minimal dua operator yang memahami pengoperasian dan perawatan mesin. Mitra juga didorong melakukan pemantauan penggunaan mesin, hasil cacahan, gangguan operasional, serta kepatuhan terhadap SOP.
Melalui program ini, ITK menunjukkan bahwa inovasi teknologi dapat dimulai dari menjawab kebutuhan sederhana yang nyata di masyarakat. Modifikasi mesin menjadi lebih praktis, ditambah edukasi, keselamatan kerja, dan pemanfaatan hasil cacahan, diharapkan mampu memperkuat pengelolaan sampah berbasis komunitas yang aman, mandiri, dan berkelanjutan.
ITK Berdampak, dari Bumi Etam untuk Nusantara.
ITK Raih Pendanaan Diaspora Berdampak Batch 2
Dari Limbah Jadi Kaldu Bubuk, Seberapa Aman Cangkang Kepiting untuk Dikonsumsi?
Dari Limbah Jadi Kaldu Bubuk
Diaspora Berdampak, ITK Perkuat Kolaborasi Riset Material Indonesia–Taiwan
ITK Perkuat Kolaborasi Riset Material Indonesia–Taiwan