Detail Berita

ITK Bergabung dalam Konsorsium Internasional ATOLL, Perkuat Talenta Energi Terbarukan Lepas Pantai

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 28 Juli 2026 8.09 18 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Balikpapan - Institut Teknologi Kalimantan menjadi salah satu mitra dalam proyek Erasmus+ ATOLL bersama perguruan tinggi, lembaga riset, dan mitra industri dari enam negara untuk memperkuat kompetensi digital dan hijau di sektor energi terbarukan lepas pantai. Institut Teknologi Kalimantan (ITK) memperluas kolaborasi internasional dengan bergabung dalam proyek ATOLL—Accountability and Twin-transition in Offshore Renewable Energy Skills Development. Proyek ini melibatkan 11 organisasi dari Malaysia, Filipina, Indonesia, Yunani, Portugal, dan Italia.

ATOLL merupakan proyek Erasmus+ Capacity Building in Higher Education (CBHE) melalui skema ERASMUS-EDU-2026-CBHE-REGION. Program ini didanai oleh European Education and Culture Executive Agency (EACEA), European Commission, dengan University of Malaya, Malaysia, bertindak sebagai koordinator konsorsium. Proyek ATOLL dikembangkan untuk menjawab kesenjangan kompetensi dalam pendidikan energi terbarukan lepas pantai di kawasan Asia Tenggara, khususnya Malaysia, Filipina, dan Indonesia. Kebutuhan tenaga kerja di sektor ini terus meningkat seiring berkembangnya teknologi pembangkit listrik tenaga angin lepas pantai atau offshore wind serta pembangkit listrik tenaga surya terapung atau floating solar photovoltaic.

Namun, pengembangan teknologi tersebut membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis. Industri juga memerlukan sumber daya manusia yang memahami pengolahan data, teknologi digital, pengelolaan lingkungan, prinsip keberlanjutan, hingga akuntabilitas dalam pengoperasian infrastruktur energi.

Saat ini, sejumlah perguruan tinggi di kawasan Asia Tenggara masih menghadapi tantangan dalam menghasilkan lulusan dengan kombinasi keterampilan digital dan keterampilan hijau yang sesuai dengan kebutuhan sektor energi masa depan. Melalui ATOLL, perguruan tinggi di Asia Tenggara akan mengadopsi dan mengembangkan keahlian dari mitra Eropa mengenai konsep Twin Transition.

Twin Transition merupakan pendekatan yang mengintegrasikan transformasi digital dengan transformasi menuju keberlanjutan lingkungan. Dalam sektor energi terbarukan lepas pantai, pendekatan ini dapat diterapkan melalui pemanfaatan teknologi digital untuk pemantauan infrastruktur, analisis data, pengambilan keputusan, peningkatan efisiensi operasional, serta pengendalian dampak lingkungan.

Keterlibatan ITK dalam konsorsium ini membuka peluang untuk memperkuat kurikulum, meningkatkan kapasitas dosen dan mahasiswa, mengembangkan metode pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan industri, serta memperluas jejaring riset internasional di bidang energi terbarukan. Kolaborasi ini juga sejalan dengan posisi strategis ITK sebagai perguruan tinggi teknologi di Kalimantan yang memiliki potensi besar dalam pengembangan inovasi energi dan pembangunan berkelanjutan.

Konsorsium ATOLL dipimpin oleh University of Malaya dan melibatkan Universiti Malaysia Terengganu dari Malaysia; Bataan Peninsula State University, Aurora State College of Technology, dan Philko 18 Group of Companies Inc. dari Filipina; Institut Teknologi Kalimantan dan Universitas Sebelas Maret dari Indonesia; University of Patras dan ATHINA Research Center dari Yunani; Instituto Superior Técnico dari Portugal; serta University of Catania dari Italia.

Melalui pertukaran pengetahuan antara perguruan tinggi, lembaga riset, dan industri, ATOLL diharapkan dapat melahirkan ekosistem pendidikan energi terbarukan lepas pantai yang lebih adaptif, bertanggung jawab, dan sesuai dengan perkembangan teknologi global. Kolaborasi ini sekaligus menjadi langkah nyata dalam mempersiapkan talenta Asia Tenggara untuk mendukung dekarbonisasi dan percepatan transisi menuju energi bersih.

Bagi ITK, keterlibatan dalam ATOLL bukan hanya memperluas kerja sama internasional, tetapi juga memperkuat kontribusi institusi dalam menghadirkan pendidikan, riset, dan inovasi yang berdampak bagi pembangunan energi berkelanjutan di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

Berita Terbaru

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami