Detail Berita

Lamiang Nusantara, Inovasi Budaya Digital ITK untuk Menjaga Warisan Kalimantan

Ulfa Yuvitri 14 Oktober 2026 14.07 19 kali dilihat
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Bagaimana menjaga tradisi dan identitas budaya Kalimantan agar tetap hidup di tengah pesatnya modernisasi? Tim peneliti Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mencoba menjawab tantangan tersebut melalui penelitian bertajuk “Menerobos Batas Preservasi: Lamiang Nusantara dan Arah Baru Budaya Digital Kalimantan Berbasis User-Centered Design” pada 2026.

Penelitian yang dipimpin oleh Eko Agung Syaputra, S.Ds., M.Ds., bersama Ramadhan Paninggalih, S.Si., M.Si., M.Sc., dan Hesti Rosita Dwi Putri, S.Pd., M.Ds., mengembangkan kerangka panduan desain untuk platform budaya digital imersif berbasis cloud bernama Lamiang Nusantara. Riset ini turut melibatkan Novianti Rossalina, S.Ds., dari Laboratorium Arsitektur dan Desain ITK.

Gagasan utama penelitian ini sederhana, tetapi penting: teknologi pelestarian budaya harus dirancang berdasarkan kebutuhan manusia yang menggunakannya. Sebab, digitalisasi tidak cukup hanya menghadirkan tampilan visual yang menarik atau teknologi canggih. Aplikasi juga harus mudah dioperasikan oleh pengelola budaya dan mampu menyampaikan cerita di balik setiap warisan secara bermakna.

Melalui pendekatan User-Centered Design (UCD), tim peneliti memadukan desain antarmuka, rekayasa sistem, dan analisis spasial budaya untuk merumuskan panduan pengembangan platform yang relevan dengan kondisi di lapangan.

Salah satu temuan penelitian menunjukkan bahwa warisan budaya takbenda, seperti tradisi lisan, ritus adat, dan seni pertunjukan, menjadi kategori penting di lima provinsi Kalimantan. Proporsinya mencapai 41,6 persen di Kalimantan Tengah, 39,5 persen di Kalimantan Utara, 38,3 persen di Kalimantan Barat, 37,8 persen di Kalimantan Selatan, dan 32,3 persen di Kalimantan Timur. Temuan ini memperkuat kebutuhan akan media digital yang mampu menyampaikan narasi budaya secara lebih interaktif.

Berdasarkan analisis tersebut, tim mengidentifikasi empat fitur prioritas, yakni akses konten terpadu, personalisasi profil pengguna, sistem rekomendasi, serta pengenalan objek tiga dimensi untuk pengalaman Extended Reality (XR). Integrasi sensor lokasi berbasis Internet of Things (IoT), lokapasar lokal, dan tiket digital juga berpotensi mendukung pengembangan pariwisata cerdas (smart tourism).

Lamiang Nusantara dirancang dengan arsitektur modular agar fitur dapat dikembangkan secara bertahap sesuai kesiapan digital setiap wilayah. Dengan demikian, pengelola budaya tidak harus langsung mengadopsi seluruh teknologi sekaligus.

Penelitian yang didukung pendanaan ITK ini berkolaborasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XII, XIII, dan XIV. Tahap selanjutnya mencakup perancangan antarmuka, pembuatan prototipe interaktif, dan pengujian kemudahan penggunaan bersama pemangku kepentingan.

Melalui Lamiang Nusantara, tim peneliti ITK mendorong pendekatan pelestarian yang tidak hanya menyimpan jejak masa lalu, tetapi juga membuka ruang bagi generasi masa kini untuk mengenal, memahami, dan meneruskan kekayaan budaya Kalimantan.


Berita Terbaru

Example_News.webp Berita
Example_News.webp Berita

FPB ITK Resmi Bentuk Ikatan Alumni, Deshinta Aulia Saharani Terpilih sebagai Ketua Pertama

FPB ITK resmi membentuk Ikatan Alumni (IKA FPB ITK) dengan Deshinta Aulia Saharani sebagai ketua pertama untuk memperkuat jejaring alumni dan kolaborasi berkelanjutan.

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami