Inovasi Mahasiswa ITK untuk optimalisasi molting Kepiting Soka

Material Paper Competition (MPC) 2019
03/07/2019
Kampung Atas Air Peduli Aksi Lingkungan Program Pemberdayaan Masyarakat Kampung Baru
05/07/2019
Tunjukkan semua

Inovasi Mahasiswa ITK untuk optimalisasi molting Kepiting Soka

Balikpapan – Kepiting bakau (Scylla sp.) merupakan salah satu komoditas perikanan yang mempunyai nilai ekonomis yang tinggi. Indonesia merupakan negera pengekspor kepiting terbesar di pasar internasional. Permintaan kepiting bakau (Scylla sp.) dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun sejak 2015 sampai dengan 2017 mengalami peningkatan yang cukup signifikan dengan rata-rata sebesar 20,4% atau mencapai 6,2 milyar pertahun (Sitti, BKIPM Makasar 2018). Salah satu komoditas kepiting bakau yang paling diminati konsumen ekspor dan memiliki nilai jual yang sangat tinggi adalah kepiting soka.

Kepiting soka adalah kepiting bakau yang sedang mengalami fase ganti kulit (molting). Umumnya kepiting dapat mengalami molting pada interval waktu 30-40 hari. Waktu molting tersebut dirasa sangat lama, karena petani kepiting membutuhkan pakan yang sangat banyak untuk memperoleh kepiting soka. Hingga saat ini terdapat dua metode yang digunakan untuk mempercepat waktu molting kepiting bakau, kedua cara tersebut adalah dengan metode mutilasi dan metode injeksi hormon.

Metode budidaya kepiting soka dengan metode mutilasi dilakukan dengan cara memotong capit dan kaki jalan kepiting. Metode ini memiliki kekurangan karena kepiting yang diperoleh umumnya memiliki ukuran dan bobot lebih kecil dari kepiting bakau. Kepiting soka dengan metode ini memiliki kualitas daging yang lebih rendah dari kepiting bakau. Menurut Permen Kelautan dan Perikanan Nomor 1 Tahun 2015 menyebutkan kepiting yang dapat diperjualbelikan adalah kepiting dengan berat minimal 200 gram. Umumnya kepiting dengan metode mutilasi belum mencapai berat 200 gram sehingga ilegal untuk dijualbelikan..

Sebaliknya, metode injeksi memiliki pengaruh yang baik terhadap molting kepiting. Namun metode ini memiliki biaya yang mahal karena membutuhkan hormon injeksi eksdistroid yang hanya di produksi skala laboratorium. Metode ini juga tidak dapat digunakan untuk kepiting yang telah memiliki bobot diatas 150 gram karena kepiting tidak mampu melakukan pelepasan cangkang, hal ini menyebabkan terjadinya mortalitas kepiting sangat tinggi.

Uraian permasalahan kepiting soka tersebut melatarbelakangi tiga orang mahasiswa ITK program studi Teknik Kimia ITK untuk melakukan penelitian tentang optimalisasi molting kepiting bakau. Selanjutnya tiga orang mahasiswa tersebut tergabung dalam Tim PKM PE ITK dan berhasil memperoleh pendanaan penelitian dari Ristekdikti melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2019 dengan judul Optimalisasi Molting Kepiting Bakau dengan Ramuan Ekstrak Bayam, Murbei dan Kapur. Tim terdiri Ghifar Fauzi (ketua), Abdul Halim K Hakim dan Dwi Aprillia Kartika Sari dibawah bimbingan Ibu Umi Sholikah, S.Si., M.T. (dosen Teknik Lingkungan).

Tim melakukan penelitian optimalisasi molting kepiting dengan inovasi berupa kombinasi ekstrak bayam, daun murbei dan kapur. Inovasi tersebut bertujuan untuk memperoleh komposisi optimal campuran ekstrak bayam, daun murbei dan kapur terhadap waktu molting kepiting bakau. Penelitian dilakukan di Laboratorium Teknik Kimia ITK dan di Tambak Kepiting Soka KUB Patra Bahari Mandiri Desa Salok Oseng, Kelurahan Kariangau, Kecamatan Balikpapan Utara, Kota Balikpapan.

         

Penelitian eksakta ini menggunakan 8 variasi kombinasi campuran ekstrak bayam dan daun murbei. Variasi komposis tersebut kemudian dilarutkan dengan etanol 80% kemudian disemprotkan pada pakan kepiting. Pakan tersebut kemudian diberikan masing masing kepada 10 kepiting uji sehingga jumlah kepiting uji yang digunakan adalah 80 ekor. Penelitian juga melibatkan parameter lingkungan yang diukur mencakup beberapa parameter kualitas air, parameter tersebut antara lain : suhu, pH (derajat keasaman) dan salinitas. Pengukuran parameter suhu, pH dan salinitas dilakukan dengan interval waktu pengamatan 2 hari.

Dengan memanfaatkan ekstrak bayam, ekstrak daun murbei dan kapur sebagai solusi optimalisasi molting ini, maka diharapkan diperoleh kombinasi paling optimal yang dapat menjadi inovasi optimalisasi molting kepiting dengan tingkat mortalitas yang minim. (*end)

 

Mahasiswa|Humas ITK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *