Kontingen Cakrawala ITK Menuju PIMNAS

Balikpapan – Bukan hidup namanya jika tidak ada kejutan. Meski usianya baru menginjak empat tahun—jika dihitung dari tahun menerima mahasiswa angkatan pertama, atau dua tahun jika dihitung dari tahun peresmiannya oleh Presiden SBY, atau baru setahun sejak menempati kampusnya di Balikpapan—Institut Teknologi Kalimantan (ITK) berhasil mengirimkan wakilnya dalam kompetisi prestisius di negeri ini, Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS).

Sang terpilih itu adalah Darmarita Perdana, Muhammad Efrizal Gozali, Rina Artha Virdayanti, Roy Krisna Aji Perdana, dan Anniza Cornelia Augusty. Di Institut Pertanian Bogor, tempat penyelenggaraan PIMNAS ke-29 ini, mereka akan mempresentasikan hasil penelitian dengan judul BLITS: Penanaman Budaya Hemat Energi Sebagai Bentuk Adaptasi Masyarakat Melawan Krisis Listrik.

Untuk bisa menjadi peserta di ajang tahunan ini memang bukan perkara mudah. Enam bulan sebelumnya—minimal—serangkaian tahapan seleksi harus mereka lewati. Mulai dari unggah proposal, pelaksanaan penelitian proposal yang terdanai, hingga kontes di PIMNAS itu sendiri. Setiap tahap mengalami proses eliminasi oleh panitia pusat dari Kemenristekdikti.

Warga RT 1, Kelurahan Damai, Balikpapan Kota menjadi mitra penelitian Tim BLITS ini. Selama empat bulan, dari April hingga Juli, Tim BLITS melakukan serangkaian penelitian berbasis partisipasi masyarakat. Mereka menemukan bahwa perilaku pemakaian listrik sehari-hari yang boros dan tidak efisien menjadi salah satu penyebab terjadinya krisis listrik di Kalimantan Timur sejak 2009 hingga kini. Krisis yang berlanjut pada seringnya pemadaman bergilir di beberapa tempat, termasuk Balikpapan.

Tujuan mereka sederhana: agar masyarakat mampu mengatasi sendiri ketika pemadaman bergilir, juga tahu cara-cara menghemat energi. Selain mengedukasi, tim ini juga membuat sebuah lampu hemat energi dengan air garam sebagai sumber listriknya. Lampu yang murah dan mudah dibuat oleh masyarakat. Lampu ini diberi nama BLITS, yang merupakan singkatan dari Balikpapan Light Saving Control.

Jerih payah Darmarita Perdana, dan kawan-kawan pun berbuah manis. Pada 25 Juli 2016, melalui laman Kemenristekdikti, hasil penelitian yang menghabiskan dana 7,5 juta Rupiah ini dianggap layak untuk dikompetisikan di tingkat nasional. Tim BLITS akan berlaga menghadapai 144 kontingen lainnya di Bogor, dari 8 hingga 12 Agustus 2016.

“Rasanya seperti mendapat kado kejutan. Kami tidak menyangka bisa sampai lolos ke PIMNAS. Dengan ini kami harus berjuang lebih keras lagi. Mohon doa dan dukungannya,” kata Dana, panggilan akrab mahasiswi dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Tata Kota ini, di Kampus ITK, Ahad, 7 Agustus 2016.

Persiapan yang dilakukan Kontingen Cakrawala (demikian nama Kontingen PIMNAS dari ITK) memang tidak main-main. Dari pagi hingga malam, selama lebih kurang sepekan menuju keberangkatan, mereka diberikan pelatihan intensif oleh Tim Pembina Kemahasiswaan ITK di Kampus ITK.

Dana sebagai ketua tim pun berbagi tugas dengan anggotanya agar persiapannya lebih matang. “Saya menyiapkan presentasi Power Point, Rina menyiapkan poster, Annisa menyiapkan papernya, sedangkan Roy dan Efrizal menyiapkan alatnya. Kami siap berlaga,” ujarnya.

Ketua Tim Pembina Kemahasiswaan, Memik Dian Pusfitasari mengakui cukup terkejut sekaligus bangga mahasiswa didiknya bisa lolos ke PIMNAS. Padahal tahun ini ITK baru pertama kali mendaftar dan langsung lolos. “Bisa tembus didanai proposal penelitiannya saja sudah lebih dari cukup, apalagi sampai ke PIMNAS. Ini namanya bonus!” kata Memik yang merupakan dosen Teknik Kimia ini.

Menurutnya, sejak kampus ITK selesai dibangun setahun lalu, ITK langsung mengikuti berbagai kompetisi tingkat nasional. Fase di awal-awal berdirinya ITK adalah fase belajar. Target Kontingen ITK memang mendali, tapi tujuan sebenarnya adalah ingin belajar bagaimana kampus-kampus hebat berkompetisi, merasakan atmosfir kompetisi nasional. “Kami berusaha ingin menjadikan ITK mendapat tempat dikancah nasional,” ujarnya.

Ketua Kontingen Cakrawala, Adi Mahmud Jaya Marindra mengaku optimis.  Adi yang turut membimbing Tim BLITS sejak awal  menceritakan betapa Dana, dan kawan-kawannya merupakan tim yang pantang menyerah, gigih, dan mendengarkan apa yang diarahkan oleh pembimbingnya.

“Mereka sempat stuck ketika voltase yang dihasilkan oleh lampu hemat energi mereka kurang besar. Saya lalu memberi saran dan mereka mencoba, mengutak-atik kembali seingga mendapatkan hasil yang diharapkan.”

Ketika ditanyakan target Kontingen Cakrawala di PIMNAS ke-29 kali ini, Adi menjawab tegas. “Target kami mendapat mendali. Latihan kami cukup intensif. Kami akan memberikan yang terbaik. Kami tidak ingin pulang dengan tangan hampa,” ujar dosen Teknik Elektro ini.

Selamat berjuang Cakrawala!

(Humas ITK/RJP)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *