Di tengah kenaikan harga bahan bakar dan membengkaknya subsidi energi, negara menghadapi tantangan besar dalam menjaga ketahanan energi. Ir. Suardi, S.T., M.T., sebagai peneliti dan akademisi di bidang energi dan lingkungan, menyoroti bahwa persoalan ini tidak dapat diselesaikan dengan pendekatan konvensional semata. Pada saat yang sama, limbah minyak jelantah terus menumpuk dan mencemari lingkungan. Dua persoalan ini sesungguhnya dapat dijawab melalui satu solusi berkelanjutan: mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel.
Kelangkaan minyak bumi, tingginya harga bahan bakar, serta besarnya subsidi BBM menunjukkan bahwa ketergantungan pada energi fosil semakin membebani perekonomian nasional. Di sisi lain, limbah minyak jelantah dari rumah tangga dan sektor usaha masih belum dikelola secara optimal dan justru mencemari lingkungan. Kondisi ini menegaskan pentingnya pemanfaatan biodiesel berbasis minyak jelantah sebagai energi alternatif yang ramah lingkungan dan sejalan dengan target Net Zero Emission 2060.
Upaya pemanfaatan limbah sebagai sumber energi juga telah menjadi perhatian berbagai pihak. Salah satunya diberitakan oleh Harian Kompas yang mengangkat inovasi pengolahan limbah menjadi produk bernilai guna, termasuk sebagai bahan bakar alternatif, yang menunjukkan bahwa pendekatan ekonomi sirkular semakin relevan untuk diterapkan di berbagai daerah.
Jelantah yang Terbuang, Potensi yang Terabaikan
Minyak goreng bekas yang digunakan sehari-hari umumnya langsung dibuang setelah tidak layak pakai. Jika tidak dikelola, limbah ini dapat mencemari tanah dan air. Namun, di balik itu, minyak jelantah memiliki potensi besar untuk diolah menjadi biodiesel, yaitu bahan bakar alternatif yang lebih bersih, terbarukan, dan ramah lingkungan.
Manfaat Ganda: Lingkungan Terjaga, Ekonomi Bergerak
Pemanfaatan minyak jelantah memberikan manfaat ganda bagi masyarakat. Lingkungan menjadi lebih terjaga karena pencemaran dapat ditekan, sekaligus tersedia sumber energi alternatif yang mampu mengurangi ketergantungan pada BBM fosil. Selain itu, pengolahan biodiesel dari limbah rumah tangga dan usaha kuliner berpotensi membuka peluang ekonomi baru serta menciptakan lapangan kerja.
Data dan Fakta: Bukti Nyata Biodiesel Jelantah
Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa sekitar 90 persen limbah minyak jelantah masih terbuang ke lingkungan, seperti tempat sampah dan saluran air, sehingga menjadi limbah berbahaya. Padahal, biodiesel berbahan minyak jelantah terbukti mampu menurunkan emisi gas buang hingga 60 persen dibandingkan solar konvensional, sehingga berkontribusi nyata dalam mendukung target Net Zero Emission 2060.
Kini saatnya minyak jelantah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, melainkan sebagai aset berharga untuk masa depan energi yang lebih hijau dan berkelanjutan. Jika rumah tangga, restoran, hingga industri turut berperan dalam pengumpulannya, maka pencemaran dapat ditekan sekaligus mempercepat transisi energi nasional. Pertanyaannya, apakah kita masih akan membuang minyak jelantah begitu saja, atau menjadikannya bahan bakar untuk perubahan?
Raih Juara 1 Lomba Infografis Bank Indonesia
Tegaskan Komitmen Diktisaintek Berdampak
Kunjungan SMAN 1 Pasir Balengkong