Pelajaran Menjahit Modern Untuk Ibu-Ibu Rumah Tangga

Ban Bekas Pun Bisa Menjadi Furnitur Berkualitas
06/01/2017
Tatacara Pengisian Indeks Prestasi Dosen
09/01/2017
Tunjukkan semua

Pelajaran Menjahit Modern Untuk Ibu-Ibu Rumah Tangga

ITK News Office │ Inovasi dan Pengabdian Masyarakat

Balikpapan – Pemberdayaaan ibu-ibu rumah tangga untuk meningkatkan kesejahteraannya dapat dimulai dari usaha kreatif. Salah satunya dengan menjahit. Keterampilan menjahit akan selalu dibutuhkan mengingat pakaian merupakan kebutuhan pokok manusia. Akan tetapi tidak semua orang memiliki keterampilan ini karena untuk menguasainya, butuh pelatihan yang tidak sebentar. Tim pengabdian masyarakat dari Institut Teknologi Kalimantan (ITK) memberikan pelatihan menjahit kepada ibu-ibu rumah tangga di RT 33, 35, dan 37, Jalan Sungai Wein, Kelurahan Karang Joang, Balikpapan Utara pada 24 Agustus hingga 27 Oktober 2016 lalu.

Tim pengabdian masyarakat (pengmas) menjahit ini dipimpin Dosen Teknik Perkapalan Musrina, beranggotakan Dosen Matematika Irma Fitria, Dosen Teknik Lingkungan Fadli Maarij, dan Dosen Teknik Perkapalan Taufik Hidayat. Pelatihan dilaksanaan di Balai Desa RT 33.

“Kami mengajarkan metode menjahit yang baru, modern, mudah dipahami dan diterapkan peserta,” kata Musrina yang memang ahli di bidang desain dan produksi kapal. Dia menuturkan, melatih menjahit kepada ibu rumah tangga memang tidak mudah, apalagi jika mereka membawa balita atau anak yang masih kecil. “Tapi sepuluh pekan sudah cukup untuk memenuhi capaian keterampilan jahit berbasis produk.”

Ucapan Musrina memang bukan isapan jempol. Hanya dalam tempo yang tergolong singkat namun intensif: sepuluh pekan, tiga kali pertemuan dalam sepekan, 120 menit setiap pertemuan, puluhan ibu-ibu rumah tangga Kelurahan Karang Joang sudah terampil membuat pakaian sendiri.

Teknik menjahit yang dimaksud adalah Teknik Menjahit Metode Seluler Manufaktur. Sebuah konsep rekayasa teknik yang biasanya diterapkan pada pembuatan kapal supaya meningkatkan produktivitas galangan.

Musrina menjelaskan perbedaannya dengan teknik menjahit konvensional.

Dalam teknik menjahit konvensional, peserta diajarkan menggambar pola dengan rumus-rumus rumit, baru kemudian diajarkan menggunting dan menjahit.

Pada penerapan konsep seluler manufaktur kapal, kapal disusun dalam beberapa cell atau bengkel. Sebuah cell menghasilkan berbagai jenis produk-antara. Produk-produk-antara ini lalu disusun dalam bentuk blok-blok kapal yang dihubungkan pada building-berth sehingga membentuk kapal utuh.

Adaptasi teknik penggabungan cell-cell tersebut ke dalam teknik menjahit yakni sebuah produk, dalam hal ini baju, dibagi menjadi bagian-bagian atau blok, yakni lengan, bodi, kerah dan bukaan. Pada setiap blok dipecah kembali menjadi pekerjaan yang terpisah, seperti untuk bagian kerah, ada sejumlah teknik yang diterapkan untuk menghasilkan sebuah kerah. Satu teknik ini dipecah menjadi jenis pekerjaan: teori, rancang, lalu praktik jahit.

“Dengan begitu peserta merasa mudah menerimanya. Saya sering menjumpai pada kursus jahit konvensional, peserta putus di jalan karena masalah gambar pola dengan rumus-rumus rumit,” ujar Musrina. Teknik seluler manufatur tidak menggunakan rumus, melainkan proporsi desain, pola yang terintegrasi dalam satu teknik pengerjaan.

Musrina mengungkapkan, teknik menjahit ini dia dapatkan ketika bekerja di sebuah perusahaan galangan kapal di Kota Batam. “Saya melihat bahwa kapal yang dibuat dengan metode dan desain seluler manufaktur lebih cepat jadi dan bagus. Saya yang hobi menjahit lalu terpikir, apakah bisa metode ini saya terapkan dalam teknik menjahit,” ujar Rina, panggilan akrabnya, sembari mengingat-ingat kisahnya ketika itu.

“Awalnya sih coba-coba, menerapkan ilmu teknik perkapalan yang saya pelajari ke cara menjahit, ternyata lebih mudah dan baju yang saya buat itu dikatakan bagus oleh teman-teman,” ujar Musrina. Dosen asal Longkali, Kabupaten Paser ini memang hobi menjahit, sebagian pakaiannya pun dia jahit sendiri. Rina, bahkan belajar ilmu menjahit ala kurikulum sekolah fashion Italia secara otodidak.

Rupanya model pelatihan jahit yang tidak lazim itu diterima dengan baik oleh peserta yang notabene ibu-ibu rumah tangga itu. Beberapa dari mereka yang pernah belajar menjahit mengatakan, menjahit dengan teknik seluler manufaktur lebih mudah dipahami dan dipraktikkan.

Salah satunya adalah Sri. Ibu rumah tangga ini mengungkapkan banyaknya pengetahuan baru yang diperoleh selama pelatihan. “Cara menjahit ini cukup mudah dipahami. Sekarang saya bisa merancang baju sendiri,” ujarnya bangga.

Ada juga Ida yang sebelumnya pernah mengikuti kursus menjahit konvensional. “Dulu saya kursus dapat teori saja, menggambar pola juga susah. Sekarang saya belajar di pelatihan ini, sebentar tapi langsung praktek jahit dengan pembuatan pola yang gampang,”kata Ida.

Menurut Musrina SDM menjahit saat ini susah didapatkan. Menurutnya dengan adanya pelatihan ini ibu-ibu yang telah diberi pelatihan dapat diarahkan untuk menghasilkan produk komersil atau memiliki nilai jual,” ujar Musrina.

“Seusai pelatihan, kami mendorong peserta untuk membentuk kelompok jahit da memiliki Rumah Jahit sendiri,” ujar Musrina. Selain memberi pelatihan, tim pengmas menjahit juga memberikan mesin jahit dan memperkenalkan kelompok menjahit Karang Joang ini kepada komunitas wirausaha perempuan (Perwira) di Balikpapan. Perwira yang notabene akan punya kios di bandara juga merespon positif proposal kerjasama tersebut.

“Bahkan setelah pelatihan, peserta masih ada yang menghubungi saya minta diajari. Saya katakan, minta tolong ke ibu-ibu lain yang sudah belajar,” ujarnya terkekeh. Peserta ada yang terharu ketika bisa mengoperasikan mesin jahit yang berdinamo.

pengmas-pandurata-1

Peserta yang sebelumnya belum berpikir tentang komersil setelah pelatihan mulai mengajak saya buat ini buat itu, terus diminta saya yang terima jahitan dan mereka yang menjahitnya, mereka minta ada lanjutannya untuk produk pakaian yang lain.

“Kami dari tim pengmas merasa sangat senang bisa membagi ilmu kepada masyarakat. Saya sendiri merasa bermanfaat. Semoga kisah ini menginspirasi,” ujar Musrina.

–end–

Kontributor: Musrina

Editor: Ridho Jun │ Humas ITK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *