Solar Desalination Plant Atasi Kebutuhan Air Bersih di Wilayah Pesisir

ITK dan Universitas Indonesia Jalin Kerjasama di Bidang Teknik Material dan Metalurgi
29/12/2016
PERTAMINA IDE GILA ENERGY COMPETITION 2017
06/01/2017
Tunjukkan semua

Solar Desalination Plant Atasi Kebutuhan Air Bersih di Wilayah Pesisir

ITK News Office │ Inovasi dan Pengabdian Masyarakat

Balikpapan – Kalimantan Timur memiliki wilayah pesisir pantai yang panjang dari selatan ke utara, dari Kabupaten Paser hingga Kabupaten Berau. Wilayah tepi laut yang mestinya menguntungkan karena warga dapat mengambil kekayaan laut ini, sayangnya harus menghadapi satu masalah utama yang klasik: kekurangan air bersih. Ini salah satunya terjadi pada warga di Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).

Kecamatan Babulu memiliki wilayah pesisir yang luas, namun sering mengalami kekurangan air bersih. Saat kemarau panjang khususnya, masyarakat seringkali menyesalkan kurangnya ketersediaan air bersih di daerah mereka. Ini karena masyarakat hanya mengandalkan air hujan untuk keperluan sehari-hari.

Problematika tersebut terdengar sampai telinga warga akademik Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Pada 21 Desember 2016 lalu, Program Studi Teknik Kimia ITK melakukan program pengabdian masyarakat ke warga Kecamatan Babulu, PPU.

“Kami memiliki solusi untuk masalah tersebut, yakni memperoleh air bersih dengan memanfaatkan air laut yang melimpah di Babulu. Kami menggunakan Metode “Solar Desalination Plant” atau Desalinasi Memanfaatkan Sinar Matahari,” kata Dosen Teknik Kimia yang sekaligus Koordinator Program Studi, Adrian Gunawan

Adrian yang memimpin rombongan yang terdiri dari 4 dosen dan 15 mahasiswa itu lalu menyerahkan alat pengonversi air laut menjadi air tawar Solar “Desalination Plant” kepada warga yang diwakili oleh Kepala Seksi Ketentraman dan Ketertiban Kecamatan Babulu, Budiyono.

“Kami berterimakasih banyak kepada ITK atas bantuan teknologi ini. Semoga kehadiran ITK dapat membantu masyarakat daerah melalui inovasi teknologi yang dihasilkan di kampus. Semoga ITK jaya selalu!” kata Budiyono sumringah.

Adrian Gunawan mengatakan, konsep desalinasi tenaga surya sebenarnya bukan hal baru. “Khususnya di dunia industri yang telah lebih dulu memanfaatkan air laut untuk memenuhi kebutuhan air rumah tangga. Meski demikian, proses desalinasi di dunia industri sangat mahal dan membutuhkan peralatan canggih,” kata pria yang akrba disapa Ian ini. Ia mencontohkan metode lain yang lebih mahal yang digunakan industri yakni Metode “Reverse Osmosis” yang membutuhkan lapisan atau membran khusus dengan proses yang cukup rumit.

“Kami menyederhanakan apa yang dilakukan industri, sehingga masyarakat biasa dapat membuatnya,” ujar pria yang hobi bermain Basket ini.

Secara sederhana, konsep desalinasi tenaga surya ditampilkan pada gambar 1

solar-desalination-plant

Ian dan dosen-dosen Teknik Kimia kemudian menggagas sebuah ide, memanfaatkan energi panas matahari untuk menguapkan air laut, menangkap uap air dan mengubahnya menjadi air tawar serta menyisakan konsentrat garam. “Konsep ini sebenarnya banyak dipakai oleh petani penghasil garam, akan tetapi petani garam membiarkan uap air tersebut lepas ke udara sehingga hanya menyisakan garam,” ungkap Ian.

“Cara membuat alat Solar Desalination Plant sebenarnya cukup mudah. Warga bahkan bisa membuat sendiri,” lanjut Ian. Alat tersebut terbuat dari Stainless Steel 304 dengan dimensi bak penampungan air sebesar 40.960 sentimeter kubik, sehingga dapat menghasilkan air bersih sebanyak 40 Liter. Jumlah air bersih yang dihasilkan sangat tergantung pada intensitas sinar matahari, “jika matahari bersinar terik maka bisa dipastikan desalinasi air laut akan berjalan makin cepat.”

 

Niar Kurnia, salah seorang dosen yang ikut dalam rombongan mengatakan dengan 40 Liter air bersih yang dapat dihasilkan, maka kebutuhan air bersih untuk makan dan minum sudah terpenuhi. Nantinya alat ini akan dikembangkan dengan dimensi yang lebih besar sehingga bisa benar-benar menjadi solusi air bersih di daerah pesisir.

 

“Karena cukup mudah dibuat, warga di wilayah pesisir laut lain dapat menirunya, sehingga mampu mengatasi masalah kekurangan air bersih mereka. Semoga menginspirasi,” kata Niar.

—-

Kontributor: Adrian Gunawan

Editor: Ridho Jun Prasetyo

Humas ITK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *