Arah Riset ITK untuk Kalimantan

Potensi daerah Kalimantan merupakan salah satu modal besar dalam menentukan arah pengembangan bidang riset atau penelitian. Bertempat di Hotel Grand Tjokro Balikpapan, Prof. Budi Santosa, Rektor ITK, membuka diskusi publik pada hari Kamis 27 Juni 2019 bertajuk “Penguatan Riset ITK dalam Rangka Mendukung Pembangunan Nasional yang Berkelanjutan”. Gelaran acara 2 hari ini menghadirkan para pakar dari berbagai lembaga, antara lain Dr. Saleh Abdurrahman (Sekjen Dewan Energi Nasional), Dr. Eng. Hotmatua Daulay (Direktur Pengembangan Teknologi Industri, Kementerian Ristekdikti), Dr. Hadiat (Bappenas), dan Dr. Zairin Zain (Bappeda Prov. Kaltim). Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh beberapa perwakilan industri yang ada di Kalimantan Timur.

Dalam sambutannya, Prof. Budi mengatakan bahwa ITK ingin menjaring berbagai usulan, utamanya dari para pakar, agar dapat menetapkan riset-riset unggulan yang dapat dilaksanakan oleh ITK untuk turut serta membangun Indonesia, utamanya wilayah Kalimantan. “Kita harus mengurangi disparitas kemajuan iptek yang begitu besar antara luar Jawa dengan Jawa”, demikian tutur alumnus Oklahoma University USA ini. Prof Budi juga menginformasikan bahwa menurut prediksi para ekonom, Indonesia akan menjadi kekuatan ekonomi terbesar nomor 6 di dunia pada tahun 2030.

Paparan Sekjen Dewan Energi Nasional, Dr. Saleh, menumbuhkan optimisme bahwa sumber energi yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan di Indonesia masih sangat banyak, termasuk di wilayah Kalimantan. Beliau berharap, optimisme ini dapat menumbuhkan kreativitas yang berdampat pada peningkatan produktivitas. Berbagai sumber energi alternatif juga terus dikembangkan oleh industri dan lembaga penelitian, dengan beragam jenis insentif dari pemerintah.

“Penelitian yang ada di berbagai perguruan tinggi dan lembaga-lembaga penelitian saat ini banyak yang overlap (tumpang tindih-red.)”, demikian yang diungkap oleh Dr. Hotmatua sebagai pemateri kedua. Saat ini Kementerian Ristekdikti terus berupaya untuk mengkoordinasikan arah dan topik riset yang ada di Indonesia, termasuk riset lembaga-lembaga penelitian yang ada di bawah koordinasi kementerian lainnya. Pemerintah ingin meningkatkan efektivitas riset yang ada. Riset diharapkan tidak hanya berbuah publikasi, tetapi juga harus dapat diterapkan pada skala industri. Dr. Hotmatua juga mengungkapkan bahwa dana riset yang digelontorkan pemerintah Indonesia saat ini masih tergolong sangat kecil jika dibandingkan dengan negara-negara maju. Namun dengan adanya koordinasi, dana yang terbatas tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara efisien.

Dari pihak Bappenas, Dr. Hadiat menjelaskan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN).  Beliau juga memberikan perhatian khusus pada ITK yang tahun ini mendapatkan dana sukuk negara untuk pembangunan 3 gedung kuliah. Setelah penyampaian materi, Dr. Hadiat juga meninjau langsung pembangunan gedung kampus ITK yang ada di Karangjoang, Balikpapan Utara.

Melengkapi paparan 3 pemateri sebelumnya, Kepala Bappeda Kaltim, Dr. Zairin Zain, menjelaskan bahwa saat ini Kaltim ingin melakukan percepatan pembangunan di bidang sumber daya manusia (SDM), layanan publik, dan infrastruktur. Dr. Zairin juga menerangkan bahwa potensi sumber daya alam di Kaltim saat ini masih sangat besar. Namun perlu dipikirkan pemanfaataanya agar dapat berkesinambungan. Diskusi dengan para narasumber yang dipandu oleh Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) ITK, Dr. Moch. Purwanto atau yang lebih akrab dipanggil Lek Pur ini, berakhir pada Kamis siang waktu setempat.

 

Berikut adalah materi Diskusi Publik dari 4 Narasumber :
1. Penguatan Riset ITK – Dr. Saleh Abdurrahman (Dewan Energi Nasional)
2. Rencana Induk Riset Nasional – Dr. Hotmatua (Kementerian Ristekdikti)
3. Pembangunan Pendidikan Tinggi – Dr. Hadiat (Bappenas)
4. Pembangunan Kaltim – Dr. Zairin Zain (Bappeda Kaltim)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *