Detail Berita

Tim ITK Raih Pendanaan Erasmus+ melalui Proyek ATOLL, Perkuat Kompetensi AI untuk Energi Terbarukan

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 3 Agustus 2026 8.09 488 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Balikpapan - Institut Teknologi Kalimantan (ITK) kembali memperkuat jejaring akademik internasional melalui keberhasilan tim dosennya memperoleh pendanaan proyek kolaborasi Eropa–ASEAN bertajuk ATOLL atau Accountability and Twin-Transition in Offshore Renewable Energy Skills Development.

Proyek tersebut didanai oleh European Education and Culture Executive Agency (EACEA) melalui skema Erasmus+ Capacity Building in Higher Education (CBHE). ATOLL melibatkan perguruan tinggi dan mitra dari enam negara, yaitu Indonesia, Filipina, Malaysia, Yunani, Italia, dan Portugal.

Tim ITK dalam proyek ATOLL terdiri atas:

  1. Adi Mahmud Jaya Marindra, S.T., M.Eng., Ph.D., Task Manager sekaligus dosen Magister Manajemen Teknologi Informasi; 
  2. Happy Aprillia, S.ST., M.T., M.Eng., Ph.D., Team Member sekaligus dosen Magister Manajemen Teknologi Informasi; 
  3. Dr. Eng. Lusi Ernawati, S.T., M.Sc., Team Member sekaligus dosen Teknik Kimia; dan 
  4. Ariyaningsih, S.T., M.T., M.Sc., Ph.D., Team Member sekaligus dosen Perencanaan Wilayah dan Kota.

Mengembangkan Kompetensi AI untuk Sistem PLTS Terapung

ATOLL berfokus pada penguatan kapasitas pendidikan tinggi dalam pengembangan sistem pembangkit listrik tenaga surya terapung berbasis kecerdasan buatan atau AI-enabled floating photovoltaic systems. Program ini dirancang untuk mendukung pengembangan energi terbarukan sekaligus memperkuat keberlanjutan lingkungan.

Melalui proyek tersebut, teknologi seperti Artificial Intelligence, Internet of Things, dan Digital Twin akan diintegrasikan dalam proses pembelajaran dan pengembangan kompetensi. Pendekatan ini diharapkan dapat menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap perkembangan industri energi terbarukan, khususnya teknologi energi lepas pantai dan sistem tenaga surya terapung.

ATOLL juga mengusung konsep twin transition, yaitu transformasi digital yang berjalan beriringan dengan transisi menuju pembangunan hijau. Pemanfaatan teknologi tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperhatikan akuntabilitas lingkungan dan pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

“ATOLL menghadirkan paradigma baru dalam pendidikan tinggi dengan mengintegrasikan kompetensi digital dan keberlanjutan lingkungan ke dalam satu kerangka pembelajaran yang komprehensif,” ungkap Dr. Eng. Lusi Ernawati, S.T., M.Sc., dosen Teknik Kimia ITK sekaligus anggota tim proyek ATOLL.

Lusi menjelaskan bahwa program ini tidak hanya memperkenalkan teknologi mutakhir seperti AI, IoT, dan Digital Twin, tetapi juga menanamkan nilai akuntabilitas lingkungan serta pengelolaan sumber daya lokal, khususnya di Kalimantan Timur, secara bertanggung jawab dan berkelanjutan.

Memperluas Jejaring Akademik Internasional

Kolaborasi antara perguruan tinggi di Asia Tenggara dan mitra Eropa membuka peluang pertukaran pengetahuan, pengembangan kurikulum, peningkatan kapasitas dosen, serta penguatan riset dan inovasi lintas negara.

Menurut Lusi, kerja sama tersebut memberikan pengalaman berharga dalam memperluas wawasan, memperkuat jejaring akademik internasional, serta membuka peluang pengembangan riset yang lebih kompetitif di tingkat global.

Proyek ini juga diharapkan mampu membangun ekosistem pendidikan tinggi yang menghasilkan sumber daya manusia dengan kompetensi multidisiplin. Kompetensi tersebut mencakup teknologi digital, pengelolaan energi, perencanaan wilayah, keberlanjutan lingkungan, serta pemahaman terhadap kebutuhan industri.

Bagi ITK, keterlibatan dalam proyek ATOLL menjadi peluang strategis untuk mengembangkan inovasi yang relevan dengan potensi Kalimantan Timur. Wilayah tersebut memiliki posisi penting dalam agenda transisi energi, pembangunan kawasan, dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.

Mendukung Dekarbonisasi dan Ekonomi Hijau

Implementasi proyek ATOLL diharapkan menjadi katalis bagi penguatan kolaborasi antara perguruan tinggi, industri, pemerintah, masyarakat, dan mitra internasional. Sinergi tersebut diperlukan untuk menghasilkan inovasi yang mendukung target dekarbonisasi, pengembangan ekonomi hijau, serta pencapaian Sustainable Development Goals di kawasan Asia Tenggara.

Keberhasilan memperoleh pendanaan Erasmus+ CBHE menunjukkan bahwa kolaborasi antara pendidikan, teknologi, dan keberlanjutan dapat menghadirkan solusi yang relevan untuk menjawab tantangan energi masa depan.

Melalui proyek ATOLL, ITK tidak hanya memperkuat kapasitas akademik dan jejaring internasional, tetapi juga berkontribusi dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengembangkan energi terbarukan secara inovatif, bertanggung jawab, dan berorientasi pada keberlanjutan.

Berita Terbaru

Example_News.webp Berita

ITK Berdampak: Tong Komposter Ubah Sampah Menjadi Pupuk Murah

Tong Komposter Ubah Sampah Menjadi Pupuk Murah

Example_News.webp Berita

Awali Semester Ganjil 2026/2027, Rektor ITK Kunjungi Tiga Fakultas dan Beri Semangat Sivitas Akademika

Rektor ITK Kunjungi Tiga Fakultas dan Beri Semangat Sivitas Akademika

Example_News.webp Berita

ITK Tetapkan Tiga Calon Rektor Periode 2026–2030

Tiga Calon Rektor Periode 2026–2030

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami