Dosen ITK Hadiri Konferensi PBB di Surabaya

Pejuang Muda ITK Getarkan Bumi Karang Joang
12/08/2016
Dosen ITK Ikuti Kuliah Bersama Profesor NTU Singapura
17/08/2016
Tunjukkan semua

Dosen ITK Hadiri Konferensi PBB di Surabaya

Surabaya – Menjadi fasilitator dalam acara Urban Youth Meeting (24 Juli 2016) yang diselenggarakan langsung oleh UN-Habitat merupakan suatu kehormatan yang saya dapat. Dalam acara tersebut, saya bisa bertatap muka langsung dengan beberapa stakeholders UN seperti Doug Ragan (Chief of UN-Habitat Youth and Livelihood Unit, Prof Oyebanji Oyeyinka ( Director of UN-Habitat Office for Africa), Mariko Sato (Chief of UN-Habitat Bangkok) dsb. Acara UYM yang merupakan paralel event dari Prepcom 3 tersebut bertujuan untuk memberikan pengetahuan terhadap pemuda tentang isu-isu perkotaan dan permukiman agar nantinya mereka “aware” terhadap lingkungan sekitar.

Tugas dari facilitator itu sendiri adalah mengarahkan diskusi kelompok kecil untuk membahas studi kasus tentang tema yang sudah dipilih oleh peserta UYM. Dalam melaksanakan tugas ini, saya ditunjuk untuk membahas tema “Rights to The Public Space, Mobility, and Services to the City” dan “Youth, Cities, & Disaster Risk/Climate Change” bersama rekan dosen dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember.

Saya menjadi tahu point of view anak muda dalam berdaptasi terhadap permasalahan yang mereka hadapi saat ini. Sebagai contoh dalam FGD Disaster Risk/Climate Change ada peserta yang berasal dari Semarang, Jogja, Sidoarjo, dan Surabaya. Peserta-peserta ini menceritakan bencana yang terjadi di kota mereka, Semarang (banjir rob), Jogja (gempa bumi), Sidoarjo (lumpur lapindo), dan Surabaya (Kebakaran dan banjir).

Di Semarang, banjir rob adalah bencana tahunan di sana. Warga di pesisir Semarang bahkan sudah menganggap banjir tersebut adalah bencana yang biasa dan pasti akan datang, tapi mereka tidak bisa pindah ke tempat yang kerentann rendah terhadap banjir karena mereka hanya memiliki satu mata pencaharian yaitu nelayan. Mau tidak mau mereka tetap tinggal di pesisir dengan solusi meninggikan lantai rumah (bagi mereka yang memiliki uang berlebih) atau membangun rumah non permanen jaadi mereka tidak akan rugi banyak kalo banjir rob datang. Diskusi karakteristik bencana seperti ini sangat berguna untuk draft urban agenda karena target dari Habitat 3 itu sendiri adalah “from global to local”.

Selain menjadi facilitator, tugas tambahan sebagai Liaison Officer juga saya emban untuk mendampingi Dan Koon-Kong Chan dari organisasi UN Sustainble Development Solutions Network-Youth. Berbeda dengan facilitator yang hampir semua peserta berasal dari lokal, jadi untuk komunikasi peserta meminta saya untuk berbahasa inggris campuran dengan bahasa indonesia namun untuk mendampingi Mr. Dan Chan jujur saya merasa agak deg-degan karena sudah hampir setahun lebih setelah saya lulus master, saya jarang menggunakan bahasa inggris untuk percakapan sehari-hari dan parahnya lagi saya hampir lupa pronounciation karena memang speaking saya tergolong rendah. Alhasil, saya tidak banyak bicara dan bicara secara singkat saat mendampingi beliau.

Selain UYM, acara inti dari Prepcom3 yang dihadiri 193 delegasi negara berlangsung tanggal 25-27 di Grand City. Mulai dari Welcoming Dinner yang digelar di Taman Surya Balai Kota Surabaya, City Tour hingga conference dari beberapa NGO digelar. Untuk mengikuti acara tersebut, peserta diwajibkan registrasi lebih dahulu di website United Nations. Diantara beberapa konferensi yang saya ikuti, yang paling menarik bagi saya adalah konferensi dari UNDP (United Nations Development Programs), mereka mengatakan bahwa indikator untuk pembangunan harus merespon kebutuhan warga lokal. Kemudian untuk mengetahui kebutuhan dari komunitas lokal yang harus digalakkan adalah konsultasi publik dan juga menggunakan participatory planning. UNDP juga membahas bagaimana membawa SDGs (Sustainable Development Goals) yang sudah tercetus September tahun lalu ke tahapan lokal. Mereka menekankan community workshop dan sharing ke komunitas adalah hal yang wajib dilakukan agar tercipta pembangunan yang berkelanjutan.

Expo di Exhibition Hall Grand City jug diselenggarakan untuk memeriahkan acara Prepcom3. Institut Teknologi Kalimantan yang tergabung dalam ASPI (Asosiasi Sekolah Perencanaan Indonesia) turut memeriahkan pameran tersebut. Stan-stan kementrian (PU-PR dan ATR) dan pemerintah kota (Kota Surabaya, Bogor, Jakarta Smart City, Banjarmasin, Makasar, Semarang, dan lainnya) turut memeriahkan acara Prepcom3 di Surabaya tersebut.

Output dari Prepcom3 ini nantinya akan dibawa sebagai usulan untuk New Urban Agenda yang akan ditandatangani di Quito Oktober yang akan datang. Bagaimana wajah kota 20 tahun yang akan datang akan mengacu pada Agenda Baru Perkotaan tersebut. Dengan adanya deklarasi Quito nanti diharapkan kota-kota di dunia bisa menggalakkan pembangunan berkelanjutan untuk mengurangi dampak emisi Gas Rumah Kaca.

(Ariyaningsih untuk Humas ITK)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *