Detail Berita

Dari Serat Alam hingga Feri yang Lebih Aman: Alamsyah, Dosen Berprestasi ITK, Kembangkan Solusi Maritim

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 16 Oktober 2026 10.16 36 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Balikpapan – Ketika kapal feri berlayar, kendaraan di atas deknya ikut menerima pengaruh gerakan kapal dan gelombang. Di balik perjalanan yang tampak biasa, posisi kendaraan dan kekuatan pengikatnya menjadi bagian penting dari keselamatan. Persoalan inilah yang mendorong Ir. Alamsyah, S.T., M.T., dosen Institut Teknologi Kalimantan (ITK), mengembangkan penelitian yang dekat dengan kebutuhan transportasi laut.

Selain keselamatan kapal feri, Alamsyah bersama tim juga mengeksplorasi serat alam sebagai alternatif material kapal. Kedua bidang tersebut mempertemukan perhatian terhadap keselamatan, kebutuhan industri maritim, dan potensi sumber daya lokal.

Kiprah penelitiannya mengantarkan Alamsyah meraih Peringkat 2 Capaian Publikasi Ilmiah Terbaik ITK Periode 2025–2026, yang diberikan pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-12 ITK. Baginya, penghargaan tersebut menjadi penyemangat untuk terus menghasilkan penelitian bersama mahasiswa dan kolaborator.

Mengapa Kendaraan di Kapal Perlu Diteliti?

Kendaraan yang berada di dek kapal membutuhkan penataan dan pengikatan yang tepat. Ketika kapal bergerak akibat gelombang, setiap kendaraan dapat menerima gaya yang berbeda, bergantung pada ukuran, massa, titik berat, serta posisinya.

Dalam penelitian pada 2025, Alamsyah dan tim mengkaji kecenderungan kendaraan untuk terguling akibat gerakan kapal saat menghadapi gelombang dari samping. Studi dengan konteks rute Bira–Pamatata tersebut menggunakan simulasi numerik untuk memahami pengaruh karakteristik dan penempatan kendaraan.

Riset ini dipublikasikan dalam Engineering, Technology & Applied Science Research dengan judul An Estimation Method for the Overthrowing Moment of Vehicles on the Car Deck of the Ro-Ro Ferry.

Melalui pemodelan tersebut, tim berupaya menyediakan dasar perhitungan bagi penyusunan tata letak kendaraan dan kebutuhan pengikatannya. Penempatan muatan dengan demikian dapat mempertimbangkan respons kendaraan terhadap gerakan kapal, selain ketersediaan ruang di dek.

Mengkaji Pengikat Kendaraan di Jalur Balikpapan–Penajam

Penelitian berlanjut pada 2026 dengan perhatian pada sistem pengikat kendaraan atau lashing. Kali ini, kajian mengambil konteks rute Balikpapan–Penajam Paser Utara, jalur penyeberangan yang dekat dengan keseharian masyarakat Kalimantan Timur.

Tim menguji pengaruh sudut pengikatan terhadap kekuatan sistem melalui metode elemen hingga, yaitu simulasi komputer untuk memperkirakan respons suatu struktur ketika menerima beban.

Empat konfigurasi pengikatan dibandingkan untuk melihat tegangan pada material dan faktor keamanannya. Secara sederhana, faktor keamanan membantu menunjukkan seberapa besar kemampuan struktur dibandingkan dengan beban yang harus ditanggung.

Menurut Alamsyah, salah satu konfigurasi pengembangan menunjukkan faktor keamanan lebih tinggi dalam skenario simulasi yang diuji. Temuan ini membuka ruang penelitian lanjutan mengenai desain pengikatan dan pemanfaatan ruang dek.

Hasil simulasi tersebut menjadi bahan pertimbangan teknis untuk pengembangan berikutnya. Penerapan di lapangan tetap memerlukan pengujian, evaluasi kondisi operasional, serta kesesuaian dengan ketentuan keselamatan yang berlaku.

Melihat Potensi Rotan sebagai Material Kapal

Di bidang material, Alamsyah meneliti komposit berbasis serat rotan dan jute. Komposit merupakan material yang menggabungkan beberapa bahan untuk memperoleh karakteristik yang dibutuhkan.

Penelitian berjudul Technical Analysis of Rattan and Jute Fiber Reinforced Composite Materials, yang diterbitkan melalui AIP Publishing pada Mei 2025, menguji kekuatan tarik dan tekuk material dengan variasi perlakuan serta komposisi serat.

Pengujian tarik membantu mengetahui kemampuan material menahan gaya tarikan, sedangkan pengujian tekuk menilai kemampuannya menghadapi beban yang melengkungkan material. Keduanya penting dalam mempelajari kelayakan bahan untuk struktur kapal.

Menurut Alamsyah, hasil penelitian menunjukkan potensi serat alam untuk dikembangkan sebagai alternatif material kapal. Namun, komposit tersebut masih membutuhkan penyempurnaan, termasuk melalui kombinasi material, sebelum dapat dipertimbangkan sebagai pengganti penuh fiberglass pada lambung kapal.

Kajian ini menjadi langkah awal untuk menghubungkan sumber daya alam dengan pengembangan teknologi maritim. Potensinya perlu terus diuji agar kekuatan, ketahanan, dan kesesuaiannya dengan kebutuhan operasional dapat dipahami lebih jauh.

Mahasiswa Ikut Menjadi Peneliti

Bagi Alamsyah, penelitian juga menjadi ruang belajar bagi mahasiswa. Ia melibatkan mahasiswa bimbingan sejak perumusan masalah, penggunaan perangkat lunak simulasi, pengolahan data, hingga penyusunan draf publikasi.

Keterlibatan tersebut memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami bagaimana persoalan lapangan diterjemahkan menjadi pertanyaan penelitian, diuji dengan metode yang tepat, lalu dijelaskan melalui tulisan ilmiah.

Kolaborasi turut dibangun bersama dosen dengan keahlian yang saling melengkapi serta mitra industri. Data lapangan dan masukan dari berbagai pihak membantu tim menyusun analisis yang lebih dekat dengan kondisi operasional kapal.

Alamsyah mengakui bahwa memperoleh data teknis yang andal dan memperjelas kebaruan penelitian menjadi tantangan penting. Tim menghadapinya melalui komunikasi dengan mitra, penguatan metode, serta penelaahan internal sebelum naskah dikirimkan ke jurnal.

Penghargaan sebagai Dorongan untuk Melangkah

“Sangat bersyukur, terhormat, dan semakin termotivasi,” ungkap Alamsyah mengenai apresiasi yang diterimanya.

Ia berharap budaya riset ITK semakin tumbuh melalui penelitian terapan yang menjawab kebutuhan wilayah. Keselamatan maritim, pemanfaatan material lokal, serta teknologi pendukung konektivitas Kalimantan menjadi ruang kontribusi yang ingin terus dikembangkan.

Dari serat alam hingga pengikat kendaraan di kapal feri, penelitian Alamsyah berangkat dari pertanyaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat: bagaimana teknologi dapat membantu perjalanan menjadi lebih aman dan sumber daya daerah semakin bernilai.

Penghargaan publikasi menjadi salah satu penanda perjalanan itu. Langkah berikutnya adalah melanjutkan pengujian dan kolaborasi agar hasil penelitian semakin dekat dengan manfaat yang diharapkan masyarakat.

Berita Terbaru

Example_News.webp Berita
Example_News.webp Berita

Dosen Berprestasi ITK, Yunita Triana Mengolah Limbah Sawit Menjadi Peluang Energi Masa Depan

Yunita Triana Mengolah Limbah Sawit Menjadi Peluang Energi Masa Depan

Example_News.webp Berita
a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami