Detail Berita

Dua Mahasiswa ITK Gagas S.M.A.R.T. BARRIER, Konsep Futuristik Pembersih Sampah Perairan

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 5 Oktober 2026 8.45 18 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

BALIKPAPAN – Dua mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK), Diana Islamiati dari Program Studi Teknik Kelautan angkatan 2024 dan Angelika Putri Fadilla dari Program Studi Fisika angkatan 2024, mengusung gagasan futuristik di bidang teknologi kelautan melalui konsep S.M.A.R.T. BARRIER (Sistem Mandiri Adaptif Reduksi Sampah Terpadu).

Di bawah bimbingan Nurmawati, S.Kel., M.Si., keduanya merancang konsep sistem pembersih sampah terapung yang memadukan teknologi kelautan, energi terbarukan, Internet of Things (IoT), serta perlindungan terhadap biota perairan. Gagasan tersebut dituangkan dalam karya tulis ilmiah bertajuk S.M.A.R.T. BARRIER: Sistem Mandiri Adaptif Reduksi Sampah Terpadu Berbasis IoT dan Energi Terbarukan di Perairan Borneo.

S.M.A.R.T. BARRIER dirancang sebagai platform terapung yang mampu mengarahkan dan mengumpulkan sampah sebelum menyebar lebih jauh ke laut. Sistem ini mengintegrasikan trash boom, inlet berkecepatan rendah, pemilahan awal sampah, energi terbarukan hibrida, pemantauan berbasis IoT, serta sistem Multi-Layer Biota Protection.

 
Gagasan tersebut lahir dari persoalan akumulasi sampah terapung di wilayah pesisir dan muara yang tidak hanya menurunkan kualitas lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kehidupan biota. Konsep S.M.A.R.T. BARRIER diarahkan untuk diterapkan pada perairan relatif terlindung seperti muara sungai, dermaga, kanal pelabuhan, dan kawasan mangrove di Borneo, sehingga sampah dapat diintersepsi sebelum bergerak ke laut terbuka atau terfragmentasi menjadi mikroplastik.

Salah satu nilai utama gagasan ini adalah pendekatannya yang tidak semata-mata berorientasi pada pengangkatan sampah. Diana dan Angelika turut memasukkan aspek perlindungan ekosistem ke dalam desain. Sistem perlindungan biota dirancang melalui empat lapisan, meliputi kisi penghalang, zona perlambatan aliran, jalur lolos pasif, serta sensor cut-off dan bypass. Saat keberadaan biota terdeteksi, sistem secara konseptual dapat menghentikan pompa dan membuka jalur bypass untuk mengurangi risiko organisme ikut masuk ke dalam mekanisme pengumpulan.

Teknologi IoT juga menjadi bagian penting dalam rancangan. Melalui sensor dan sistem pemantauan, perangkat dirancang agar kondisi operasional dapat dipantau secara lebih adaptif. Sementara itu, kebutuhan energi diproyeksikan berasal dari sistem energi terbarukan. Konfigurasi utama menggunakan kombinasi energi surya dan arus, sedangkan kombinasi energi surya dan gelombang dipertimbangkan sebagai alternatif berdasarkan karakteristik lokasi penerapan. 

Dari hasil analisis rekayasa awal, inlet S.M.A.R.T. BARRIER dirancang berukuran 0,60 × 0,25 meter dengan debit nominal sekitar 108 meter kubik per jam. Kapasitas tersebut secara teoritis diarahkan untuk mengintersepsi timbulan sampah pada area target sekitar 10–40 kilogram per hari. Rancangan juga menggunakan baterai 24 V 300 Ah serta empat ponton sebagai bagian dari sistem daya apung.

Kebaruan yang ditawarkan S.M.A.R.T. BARRIER terletak pada penggabungan berbagai fungsi tersebut ke dalam satu platform. Pengumpulan sampah, pemilahan awal, energi terbarukan, IoT, hingga proteksi biota dirancang bekerja sebagai sebuah sistem terpadu, bukan sebagai komponen yang berdiri sendiri. 

Meski membawa pendekatan teknologi yang futuristik, konsep ini masih berada pada tahap desain awal. Karya yang disusun merupakan studi konseptual berbasis literatur dan analisis rekayasa, sehingga belum berupa alat yang telah beroperasi di lapangan. Efektivitas penangkapan sampah, stabilitas platform, kemandirian energi, serta keamanan terhadap biota masih perlu dilanjutkan melalui simulasi, pengembangan purwarupa, dan pengujian langsung. 

Melalui S.M.A.R.T. BARRIER, gagasan Diana dan Angelika menunjukkan bagaimana mahasiswa lintas disiplin dapat melihat persoalan lingkungan pesisir dari perspektif teknologi sekaligus ekologi. Ke depan, konsep tersebut berpotensi menjadi dasar pengembangan purwarupa teknologi pembersih perairan yang lebih adaptif, mandiri, dan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem pesisir. 

Berita Terbaru

Example_News.webp Berita

Kumpulkan 19.300 Poin SK2PM, Dion Prayoga Jadikan Aktivitas Kampus sebagai Ruang Belajar di Luar Kelas

Dion Prayoga Jadikan Aktivitas Kampus sebagai Ruang Belajar di Luar Kelas

Example_News.webp Berita

Peraih IPK Tertinggi TMM ITK, Yosua Anjupaian Situmeang Kembangkan Riset Sensor Elektrokimia melalui Program JST-NEXUS di Saga University Jepang

Yosua Anjupaian Situmeang Kembangkan Riset Sensor Elektrokimia melalui Program JST-NEXUS di Saga University Jepang

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami