Detail Berita

KAMPOENG FABA: Mengubah Limbah Menjadi Berkah

Humas ITK 13 Agustus 2025 9.00
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Di tengah meningkatnya isu lingkungan yang disebabkan oleh limbah industri, sebuah kolaborasi di Balikpapan, Kalimantan Timur, telah berhasil memberdayakan masyarakat untuk melihat peluang ekonomi dari tumpukan abu limbah. Inovasi ini dikenal sebagai KAMPOENG FABA, yang diresmikan pada 12 Desember 2022 di Kelurahan Graha Indah.

Inisiasi ini merupakan hasil sinergi dari berbagai pihak, termasuk Institut Teknologi Kalimantan (ITK), PT. PLN Nusantara Power, Kepolisian Daerah Kalimantan Timur, Pemerintah Kota Balikpapan, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Balikpapan. Kolaborasi pentahelix ini bertujuan untuk mencari solusi bagi isu sosial, ekonomi, dan lingkungan yang memberikan manfaat saat ini dan di masa depan.

Dari Gagasan Menjadi Kenyataan

Ide di balik Kampoeng FABA bukanlah hal yang tiba-tiba muncul. Gagasan ini lahir dari keprihatinan bersama tentang bagaimana menghadapi ancaman limbah sekaligus meningkatkan taraf hidup masyarakat. Inisiasi ini diwujudkan melalui program Matching Fund Kedaireka 2022 yang difasilitasi oleh Ir. Andika Ade Indra Saputra, Ir. Adrian Gunawan, dan Ir. Intan Dwi Wahyu Setyo Rini.

PLN Nusantara Power sebagai operator PLTU, Institut Teknologi Kalimantan (ITK) sebagai mitra akademik, serta dukungan pemerintah dan tokoh masyarakat, menjadi pendorong utama dalam mewujudkan proyek sosial ini.

Limbah FABA Menjadi Produk Ramah Lingkungan 

Sejak berdirinya, Kampoeng FABA telah bertransformasi menjadi pusat inovasi berbasis limbah. Masyarakat yang awalnya tidak tahu cara mengolah FABA (Fly Ash dan Bottom Ash) kini menjadi produsen berbagai produk berkualitas, seperti batako, paving block, roster kubus, dan pagar panel beton. Produk-produk ini dibuat dengan formulasi unik: 75% bottom ash, 10% fly ash, dan hanya 15% semen. Formulasi ini menghasilkan produk yang kuat, tahan lama, dan ramah lingkungan. Produk-produk tersebut dijual dengan harga terjangkau, yaitu Rp2.500 hingga Rp3.500 per buah. Seorang warga yang aktif berproduksi bisa mendapatkan penghasilan tambahan hingga Rp3 juta per bulan.

Prestasi dan Dampak 

Pada Maret 2023, Kampoeng FABA meraih Juara 1 dalam Lomba Teknologi Tepat Guna (TTG) tingkat Kota Balikpapan. Penghargaan ini merupakan pengakuan atas inovasi berbasis masyarakat yang mampu memberikan solusi terhadap pengelolaan limbah nasional.Prestasi ini membuat Kampoeng FABA dikenal luas, dan permintaan untuk pelatihan serta studi banding datang dari berbagai daerah di Kalimantan hingga Sulawesi.

Peran ITK sangat penting dalam proyek ini, mulai dari memberikan saran teknis, pelatihan rutin, pendampingan riset, hingga pengujian laboratorium untuk standarisasi produk. Mahasiswa juga terlibat, menjadikan Kampoeng FABA sebagai "laboratorium hidup" untuk pengembangan teknologi berkelanjutan.

Tantangan dan Masa Depan 

Meskipun sukses, Kampoeng FABA masih menghadapi tantangan, terutama dalam memperluas pasar. Produk-produknya masih banyak digunakan di lingkungan lokal, dan dibutuhkan strategi pemasaran yang lebih masif untuk menjangkau toko bangunan, proyek pemerintah, dan e-commerce. Kapasitas produksi juga masih terbatas karena peralatan dan tenaga kerja yang seadanya, sehingga tidak semua permintaan dapat dipenuhi. Meskipun demikian, dukungan dari pemerintah kota terus berdatangan untuk membantu Kampoeng FABA berkembang lebih jauh.

Melihat potensi dan dampaknya, tak sedikit pihak yang mendorong agar inovasi yang digawangi oleh kelompok riset sustainable material yang terdiri dari program studi Teknik Sipil, Teknik Kimia dan Teknik Lingkungan ini mendorong Kampoeng FABA dapat diadopsi di daerah lain. Kalimantan, sebagai pusat penghasil batu bara nasional dan dimanfaatkan sebagai bahan bakar PLTU, menghasilkan jutaan ton FABA setiap tahun. Bayangkan jika limbah sebanyak itu bisa dikelola secara produktif, maka betapa besarnya dampak yang bisa diciptakan. PLN Nusantara Power sendiri telah membuka peluang bagi daerah lain untuk meniru model ini, serta mendorong beberapa pihak melakukan studi replikasi Kampoeng FABA agar dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan karakteristik wilayah masing-masing. Bahkan, teknologi terkini sedang disiapkan dengan memanfaatkan 100% limbah FABA tanpa campuran semen sama sekali, melalui inovasi teknologi geopolimer dalam mendukung terwujudnya material konstruksi yang tangguh dan berkelanjutan.

Berita Terbaru

Example_News.webp Berita

ITK Buka 25 Program Studi dengan 1.307 Kursi pada SNBT-UTBK 2026

ITK Buka 25 Program Studi SNBT-UTBK 2026

Example_News.webp Program Akademik

Informasi Akses Pengumuman SNBP 2026

Akses Pengumuman SNBP 2026

Example_News.webp Program Akademik

ITK Resmi Jadi Lokasi UTBK-SNBT 2026 di Kalimantan Timur

Institut Teknologi Kalimantan Resmi Jadi Lokasi UTBK-SNBT 2026

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami