Detail Berita

KRTI 2026 Berakhir di Ibu Kota Nusantara, Dorong Inovasi dan Kolaborasi Teknologi UAV Mahasiswa

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 26 September 2026 0.30 47 kali dilihat
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

IKN – Rangkaian Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 resmi ditutup pada Jumat, 25 September 2026, di Amphiteater, Sentra Massa/Visitor Center, Plaza Ceremony, Ibu Kota Nusantara (IKN). Penutupan tersebut menandai berakhirnya kompetisi yang telah berlangsung selama lima hari, 21–25 September 2026, dengan Institut Teknologi Kalimantan (ITK) sebagai perguruan tinggi tuan rumah.

KRTI 2026 menjadi ruang kompetisi sekaligus pembelajaran bagi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia dalam mengembangkan teknologi robot terbang dan Unmanned Aerial Vehicle (UAV). Berdasarkan Berita Acara Hasil Penilaian KRTI Tingkat Nasional Tahun 2026, sebanyak 94 tim mengikuti proses penilaian pada lima divisi yang dipertandingkan.

Selama lima hari pelaksanaan, peserta menjalani berbagai tahapan mulai dari persiapan wahana, pengujian teknis, pelaksanaan misi, evaluasi performa, hingga penyempurnaan sistem berdasarkan kondisi yang ditemui di lapangan. Proses tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menguji tidak hanya kesiapan teknologi, tetapi juga kemampuan analisis, pengambilan keputusan, kerja sama tim, dan penyelesaian masalah.

Proses penilaian KRTI 2026 melibatkan 20 anggota tim juri yang berasal dari perguruan tinggi, industri, Federasi Aero Sport Indonesia, ASTTA, Institut Teknologi Kalimantan, serta TNI AU Dhomber.

Closing Ceremony KRTI 2026 diawali dengan rangkaian hiburan, pemutaran video perjalanan kompetisi, serta sambutan dari sejumlah pemangku kepentingan. Agenda kemudian dilanjutkan dengan prosesi penutupan, pembacaan keputusan dewan juri, dan penyerahan penghargaan kepada para pemenang.

Wakil Rektor Bidang Akademik ITK, Prof. Erma Suryani, menyampaikan bahwa selama beberapa hari penyelenggaraan, peserta telah menghadirkan berbagai gagasan dan karya terbaik yang turut menghidupkan langit IKN dengan inovasi di bidang kedirgantaraan. Menurutnya, seluruh proses mulai dari dinamika kompetisi, evaluasi lapangan, hingga hasil akhir menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa.

“Selamat kepada tim yang berhasil meraih juara malam ini. Tetaplah rendah hati. Bagi tim yang belum berhasil, jangan berkecil hati karena dari KRTI ini kita membawa pulang pengalaman, pembelajaran, dan jaringan persahabatan baru. Kita semua adalah pemenang, dan capaian ini tentunya tidak lepas dari kepercayaan serta dukungan banyak pihak,” ujar Prof. Erma.

KRTI juga dipandang bukan semata-mata sebagai kompetisi untuk menentukan siapa yang menjadi pemenang. Beny menyampaikan bahwa kompetisi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menghadapi persoalan nyata yang tidak selalu sama dengan situasi ketika wahana dirancang di kampus.

“KRTI bukan hanya tentang siapa yang menang. Ini adalah ruang bagi mahasiswa untuk memecahkan masalah, mengambil keputusan, dan menyelesaikan persoalan yang muncul di lapangan. Apa yang dirancang di kampus harus mampu menyesuaikan dengan kondisi nyata di IKN. Dari situ kemampuan analisis mahasiswa benar-benar diuji,” ujarnya.

Ia juga berpesan agar peserta yang belum memperoleh hasil sesuai harapan tidak menganggap perjalanan mereka berakhir pada kompetisi tahun ini. Pengalaman selama KRTI menjadi bekal untuk mengevaluasi teknologi dan mengembangkan inovasi yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.

Rektor Institut Teknologi Kalimantan, Prof. Dr. Agus Rubiyanto, M.Eng.Sc., turut mengingatkan bahwa kendala merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari setiap proses kompetisi dan pengembangan teknologi.

“Dalam setiap kompetisi tentu ada kendala. Namun, adik-adik semua adalah pemenang. Jangan pernah berhenti memiliki rasa ingin tahu karena peluang ke depan masih sangat luas untuk melahirkan inovasi-inovasi yang dapat membantu menyelesaikan berbagai persoalan di Indonesia,” kata Prof. Agus.

Pada kesempatan tersebut, Prof. Agus juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh peserta, pendamping, dewan juri, panitia, Otorita IKN, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan KRTI 2026. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama penyelenggaraan masih terdapat kekurangan, serta berharap seluruh peserta dapat kembali ke daerah masing-masing dengan selamat.

Sementara itu, Ketua Dewan Juri Mona Arif Muda mengapresiasi peningkatan kualitas karya mahasiswa pada KRTI 2026. Menurutnya, 94 tim yang berhasil tampil di tingkat nasional merupakan tim-tim terbaik yang telah melalui proses panjang sebelum akhirnya menerbangkan karya mereka di langit IKN.

“Alhamdulillah, 94 tim terbaik telah terbang di langit IKN. Kami mengapresiasi peningkatan kualitas yang terlihat pada seluruh divisi. KRTI bukan hanya berbicara tentang wahana yang mampu terbang, tetapi juga tentang keandalan sistem dan bagaimana teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi bangsa. Ke depan, kami berharap inovasi yang lahir dari KRTI semakin berdampak, sejalan dengan semangat Kampus Berdampak,” ujarnya.

Dalam rangkaian penghargaan, 36 penghargaan diberikan kepada peserta pada lima divisi, yakni Racing Plane, Fixed Wing, Vertical Take Off Landing (VTOL), Long Endurance Low Altitude (LELA), dan Technology Development (TD). Penghargaan tersebut mencakup juara utama, juara harapan, serta sejumlah kategori khusus yang menilai aspek performa, desain, keselamatan, strategi, kerja sama tim, inovasi, dan potensi teknologi.

Rangkaian penghargaan ditutup dengan penetapan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) sebagai Juara Umum KRTI 2026. Capaian tersebut diperkuat oleh keberhasilan BAYUCARAKA ITS yang meraih Juara I Divisi Fixed Wing, Juara I Divisi Long Endurance Low Altitude (LELA), serta Juara Harapan I Divisi Technology Development.
Pelaksanaan KRTI 2026 di kawasan IKN memberikan nilai tersendiri bagi kompetisi tahun ini. Sebagai kawasan yang dikembangkan dengan visi pembangunan masa depan, IKN menjadi ruang yang relevan untuk mempertemukan inovasi mahasiswa dengan kebutuhan pengembangan teknologi nasional.

Teknologi UAV yang dikembangkan mahasiswa memiliki peluang pemanfaatan yang luas, mulai dari pemetaan dan pemantauan wilayah, mitigasi kebencanaan, kemanusiaan, logistik, hingga kebutuhan industri. Karena itu, inovasi yang lahir selama kompetisi diharapkan tidak berhenti setelah KRTI berakhir.

Berakhirnya KRTI 2026 tidak hanya menghasilkan para pemenang, tetapi juga meninggalkan pengalaman, jejaring, evaluasi, dan pembelajaran baru bagi seluruh peserta. Pertemuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi serta mendorong pengembangan teknologi wahana udara nirawak yang semakin relevan dengan kebutuhan Indonesia.

KRTI 2026 resmi berakhir di Ibu Kota Nusantara, tetapi perjalanan mahasiswa dalam menerbangkan inovasi dan menghadirkan teknologi yang berdampak bagi Indonesia terus berlanjut.

Berita Terbaru

Example_News.webp Berita
Example_News.webp Berita

Srikandi di Langit KRTI, Cerita Mahasiswi di Balik Perjuangan Menuju Final

Cerita Mahasiswi di Balik Perjuangan Menuju Final

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami