Detail Berita

Mahasiswa sebagai Garda Terdepan di Era Digital: Orasi Ilmiah Wakil Wali Kota Balikpapan di Institut Teknologi Kalimantan

Humas ITK 4 Agustus 2025 12.00
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

Balikpapan, 4 Agustus 2025 – Di tengah momen sakral Sidang Senat SPIn ETAM 2025, Wakil Wali Kota Balikpapan, Dr. Ir. H. Bagus Susetyo, M.M., memberikan orasi ilmiah di Laboratorium Terpadu 1 Institut Teknologi Kalimantan (ITK). Dengan judul "Menjadi Mahasiswa Berdampak melalui Karya dan Pengabdian di Era Digital, Revolusi Industri 4.0, dan Society 5.0" , beliau menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai agen perubahan dan motor penggerak transformasi digital, baik di tingkat lokal maupun nasional.

Mahasiswa dan Sejarah Perubahan Bangsa

Dr. Bagus Susetyo mengawali orasinya dengan mengingatkan peran historis mahasiswa dalam perjalanan bangsa Indonesia. Mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan sosial yang membawa kemajuan, sekaligus menjadi garda terdepan dalam mendorong perubahan positif di masyarakat. Peran ini bukan hanya relevan di masa lalu, tetapi juga sangat dibutuhkan dalam menghadapi tantangan era digital saat ini. Sejarah mencatat kontribusi mahasiswa dalam perjuangan kemerdekaan, reformasi, dan pergerakan sosial. Mohammad Yamin, Soekarno, dan Hatta adalah contoh nyata mahasiswa yang berani menggagas perubahan besar di usia muda. Kini, tantangan bangsa telah bergeser dari penjajahan fisik menjadi keterlibatan aktif dalam era global yang ditandai oleh revolusi teknologi dan transformasi digital.

Menghadapi Tantangan Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0

Di tengah gelombang transformasi global, mahasiswa dihadapkan pada dua tantangan besar: Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0. Revolusi Industri 4.0 menekankan integrasi teknologi seperti Internet of Things (IoT),

big data, dan kecerdasan buatan, yang menuntut Sumber Daya Manusia (SDM) adaptif dan melek teknologi. Di sisi lain, Society 5.0 hadir sebagai respons terhadap disrupsi teknologi, yang menempatkan manusia sebagai pusat inovasi dan solusi. Tujuannya bukan hanya efisiensi, tetapi juga menciptakan masyarakat yang inklusif, seimbang antara kemajuan teknologi dan nilai kemanusiaan.

Namun, Indonesia masih menghadapi tantangan besar, yaitu rendahnya tingkat literasi digital. Berdasarkan Indeks Digitalisasi Global ASEAN 2024, Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya. Kondisi ini juga tercermin secara lokal, di mana Kalimantan Timur termasuk dalam kategori "Cukup" dalam Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) tahun 2024.

Peran Mahasiswa dalam Sinergi Digitalisasi Lokal

Dr. Bagus Susetyo menegaskan bahwa kondisi ini menunjukkan pentingnya peran mahasiswa sebagai pionir dalam membangun kesadaran dan kecakapan digital di masyarakat. Mahasiswa diharapkan dapat menjadi jembatan antara kebijakan digital pemerintah dan kebutuhan literasi masyarakat. Di Balikpapan dan Kalimantan Timur, mahasiswa bisa mengambil bagian dalam edukasi digital, advokasi kebijakan, hingga pengembangan inovasi berbasis masyarakat untuk mempercepat pemerataan transformasi digital.

Pemerintah Kota Balikpapan sendiri telah berupaya meningkatkan tata kelola digital melalui Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE). Data menunjukkan adanya peningkatan indeks SPBE secara nasional dari tahun 2021 hingga 2024, termasuk di Kalimantan Timur. Hal ini menunjukkan adanya sinergi antara kesiapan institusi pemerintah dan kecakapan digital masyarakat, di mana peran mahasiswa menjadi sangat strategis untuk mendorong adopsi yang lebih merata.

Penerapan konsep

Smart City menjadi langkah strategis yang relevan untuk mewujudkan visi Balikpapan sebagai "Kota Global Nyaman untuk Semua dalam Bingkai Madinatul Iman". Empat dari sembilan program prioritas Kota Balikpapan—yaitu transformasi birokrasi, peningkatan pelayanan kesehatan dan pendidikan, pengembangan pariwisata MICE, serta inovasi dan kreativitas—secara langsung beririsan dengan urgensi transformasi digital.

Tantangan, Peluang, dan Harapan

Di akhir orasinya, Dr. Bagus Susetyo mengidentifikasi beberapa tantangan yang dihadapi mahasiswa, seperti ketimpangan digital, kurangnya keterampilan teknis, serta kesenjangan sosial dan ekonomi. Namun, disisi lain, terdapat peluang besar dari digitalisasi, ekonomi berbasis teknologi, dan pengembangan inovasi sosial.

Beliau berharap mahasiswa harus memiliki orientasi kontribusi nyata kepada bangsa melalui karya dan pengabdian. Kampus dan mahasiswa harus berkolaborasi untuk membangun Indonesia yang lebih maju, berkelanjutan, dan inklusif. Dengan keterampilan digital, mahasiswa dapat mengembangkan solusi berbasis teknologi yang memberikan manfaat sosial , bahkan hingga kancah global.

Orasi ilmiah ini ditutup dengan mengutip kata-kata Soekarno, "Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia". Sebuah pesan kuat yang menumbuhkan semangat bahwa dengan kolaborasi dan kontribusi, mahasiswa memiliki kekuatan untuk menciptakan dampak positif yang lebih luas.


Berita Terbaru

Example_News.webp Prestasi
Example_News.webp Penelitian dan Pengabdian

Cantik Alami dari Alam: Lip Balm Buah Naga yang Menyehatkan

Inovasi lip balm berbahan dasar ekstrak buah naga menghadirkan pewarna alami yang aman, menyehatkan, dan ramah lingkungan.

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami