Detail Berita

Mahasiswa ITK Gagas Waterfront Mangrove Berbasis Nature-Based Solution di EUPHORBIO 11

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 10 September 2026 9.24 26 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

BALIKPAPAN – Tim mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mengusung gagasan pengembangan kawasan pesisir melalui karya berjudul “Pengembangan Waterfront Mangrove Berbasis Nature-Based Solution untuk Mengurangi Abrasi dan Meningkatkan Kualitas Ruang Publik Pesisir” dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Tingkat Nasional Festival Euphoria Biologi (EUPHORBIO) 11. Kompetisi yang diselenggarakan Program Studi Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Mulawarman tersebut berlangsung di Samarinda, Kalimantan Timur.

Tim ITK diketuai oleh Nurmayati dengan anggota Afrah Malika Inaya dan Muhammad Dzaky Fathi Fawwaz Nawawi, keduanya dari Program Studi Arsitektur angkatan 2024. Dalam proses pengembangan karya, tim mendapat pendampingan dari Ar. Rizky Nur Rahman, S.Ars., M.Ars., IAI.

Gagasan yang dikembangkan berangkat dari persoalan kawasan pesisir yang tidak hanya menghadapi ancaman abrasi, tetapi juga degradasi ekosistem mangrove serta belum optimalnya pemanfaatan ruang publik. Tim mengambil studi pada Pantai Hutan Mangrove Pendopo, Teritip, Balikpapan, kawasan yang memiliki potensi ekologis dan wisata dengan area mangrove sekitar 52 hektare. Potensi tersebut dinilai perlu dikembangkan tanpa mengabaikan fungsi utama mangrove sebagai pelindung alami kawasan pesisir.

Melalui pendekatan Nature-Based Solution (NbS), tim menawarkan konsep waterfront yang menempatkan mangrove sebagai elemen utama perlindungan pesisir sekaligus mengintegrasikannya dengan kebutuhan masyarakat akan ruang publik. Konsep pengembangan kawasan dibagi ke dalam sejumlah fungsi, mulai dari zona kedatangan, lahan pembibitan, kawasan konservasi mangrove, hingga zona publik, dengan intervensi fisik yang dirancang seminimal mungkin terhadap ekosistem.

Pendekatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk menahan dampak abrasi. Kawasan juga dirancang agar dapat berfungsi sebagai ruang edukasi, rekreasi, dan interaksi masyarakat. Aspek pemeliharaan, monitoring, rehabilitasi mangrove, hingga keterlibatan masyarakat turut dimasukkan agar pengembangan waterfront tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Dalam mempersiapkan kompetisi, tim melakukan survei lokasi, studi literatur terkait mangrove dan abrasi, serta mengkaji berbagai preseden pengembangan kawasan pesisir. Hasil kajian kemudian digunakan untuk menganalisis kondisi dan potensi tapak serta menyusun konsep waterfront mangrove. Menjelang tahapan penilaian, tim juga melakukan evaluasi karya, penyempurnaan gagasan, latihan presentasi, serta simulasi tanya jawab.

Keikutsertaan dalam EUPHORBIO 11 menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu arsitektur dalam menjawab persoalan lingkungan secara lebih luas. Bagi tim, kompetisi tersebut juga memberikan pengalaman dalam mengembangkan kemampuan riset, berpikir kritis, bekerja dalam tim, hingga mengomunikasikan gagasan kepada publik.

“Kami berharap pengalaman ini dapat menjadi motivasi untuk terus berani mencoba, berinovasi, dan mengikuti berbagai kesempatan akademik maupun kompetisi di masa mendatang,” ungkap tim.

Melalui gagasan tersebut, mahasiswa ITK menunjukkan bahwa perancangan arsitektur tidak hanya berbicara mengenai bangunan, tetapi juga dapat berperan dalam menjaga ekosistem, memperkuat ketahanan kawasan pesisir, dan menciptakan ruang publik yang lebih adaptif serta berkelanjutan.

Berita Terbaru

Example_News.webp Penelitian dan Pengabdian

BRIDA Pemprov Kaltim Mengapresiasi Program Diseminasi Bintang ITK

Kepala BRIDA Kaltim Dorong Riset Berkelanjutan

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami