Balikpapan - Perjalanan akademik tidak selalu berjalan lurus. Hal ini tergambar dari kisah inspiratif Farida Amanah, mahasiswa Program Studi Teknik Industri Institut Teknologi Kalimantan (ITK) yang berhasil meraih IPK 3,71 dan dinobatkan sebagai peraih IPK tertinggi tingkat Fakultas Rekayasa dan Teknologi Industri (FRTI).
Di balik capaian tersebut, Farida mengaku sempat mengalami fase kehilangan arah dalam menentukan minat dan fokus bidangnya. Sebagai mahasiswa Teknik Industri yang dikenal luas cakupan keilmuannya, ia sempat merasa bingung menentukan jalur yang ingin ditekuni.
“Teknik Industri itu luas sekali, sempat bingung mau fokus ke mana. Pernah juga merasa kehilangan arah,” ungkapnya.
Namun, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Dengan dukungan dosen pembimbing serta lingkungan akademik yang suportif, Farida perlahan menemukan kembali ritme belajarnya. Ia menekankan bahwa kedisiplinan dan konsistensi menjadi kunci utama dalam menyelesaikan studi tepat waktu.
“Jangan menunggu nanti. Mulai saja dari sekarang, jalani pelan-pelan, yang penting konsisten dan jangan gampang menyerah,” pesannya.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapinya adalah proses penyusunan skripsi, terutama dalam pengambilan data yang sempat terhambat. Ia bahkan mengakui pernah “menghilang” sejenak dari proses bimbingan karena merasa tidak ada progres. Namun, dengan dorongan dari dosen, ia kembali bangkit dan menyelesaikan penelitiannya.
Dalam skripsinya, Farida mengangkat topik terkait analisis kualitas produk pada industri air minum dalam kemasan, khususnya pada aspek produk cacat (reject) dan produktivitas. Penelitian ini memberikan gambaran hubungan antara tingkat cacat produk dengan performa produksi.
Perjalanan Farida juga diperkaya dengan pengalaman magang selama tujuh bulan, serta kerja praktik di instansi pemerintah yang bergerak di bidang pengelolaan wilayah sungai dan konstruksi. Pengalaman ini memperluas wawasan aplikatifnya di luar kelas.
Ia juga menyampaikan bahwa keberhasilannya tidak lepas dari peran dosen-dosen yang mendampingi dengan penuh kepedulian.
“Dosen-dosen di ITK sangat mendukung. Bahkan saat saya belum menemukan topik dan kesulitan data, mereka tetap membimbing. Rasanya seperti punya orang tua di kampus,” ujarnya.
Ke depan, Farida berencana untuk melanjutkan pengalaman melalui dunia kerja atau magang, khususnya di bidang manufaktur yang kini menjadi minatnya.
Menutup perjalanannya sebagai mahasiswa, Farida menyampaikan pesan sederhana namun kuat bagi mahasiswa ITK lainnya.
“Jalani saja prosesnya. Kalau ada masalah, hadapi. Jangan menyerah hanya karena belum tahu arah. Semua bisa dipelajari,” tuturnya.
Capaian Farida Amanah menjadi bukti bahwa perjalanan yang tidak selalu mulus tetap dapat berujung pada prestasi, selama diiringi dengan usaha, ketekunan, dan dukungan lingkungan yang tepat.
Kisah Inspiratif Hendri Baransano, Lulusan Pertama Beasiswa ADik di ITK
Sempat Kehilangan Arah, Farida Amanah Jadi Lulusan Terbaik FRTI ITK dengan IPK 3,71
Farida Amanah Jadi Lulusan Terbaik FRTI ITK dengan IPK 3,71
Implementasi Magang Berdampak, Nurul Adinda Raih IPK Tertinggi FSTI ITK 3,76
Nurul Adinda Thalia Salsabila Meraih IPK Tertinggi 3,76 di FSTI Institut Teknologi Kalimantan Melalui Program Magang Berdampak