Transformasi digital di sektor kesehatan menjadi salah satu prioritas nasional, seiring meningkatnya tuntutan layanan publik yang cepat, akurat, dan berbasis data. Namun, hingga kini banyak fasilitas kesehatan tingkat pertama seperti puskesmas dan rumah sakit kelas C/D masih menghadapi tantangan dalam pengelolaan ruang layanan. Pencatatan suhu, kelembaban, dan okupansi ruang rawat yang masih dilakukan secara manual atau bahkan tidak terdokumentasi dengan baik kerap memperlambat pengambilan keputusan, terutama dalam kondisi darurat atau lonjakan pasien.
Menjawab tantangan tersebut, tim peneliti lintas disiplin yang Diketuai Ir. Oryza Lhara Sari, M.T. bersama Adi Mahmud Jaya Marindra, Ph.D., dan Maryo Inri Pratama, M.T., juga bersama 2 orang mahasiswa yaitu Muhammad Ridhoi Mahbubi - Teknik Elektro dan Rizky Irswanda Ramadhana - Informatika mengembangkan SmartMedGuard, sebuah sistem monitoring ruang rawat berbasis Internet of Things (IoT) yang dirancang secara modular, hemat energi, dan dapat beroperasi tanpa ketergantungan internet. Inovasi ini menjadi bagian dari upaya mendukung Pilar 6 Transformasi Sistem Kesehatan Nasional, khususnya dalam penguatan layanan kesehatan berbasis data di wilayah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).
Ketiadaan sistem monitoring ruang layanan berbasis data menjadi hambatan utama dalam meningkatkan efisiensi dan kesiapsiagaan fasilitas kesehatan. Di banyak puskesmas dan RSUD kelas C/D, informasi kondisi lingkungan ruang rawat seperti suhu, kelembaban, dan tingkat okupansi belum terintegrasi dalam satu sistem yang mudah diakses secara real-time. Kondisi ini berpotensi memengaruhi kenyamanan pasien, efektivitas layanan, serta respons tenaga kesehatan terhadap perubahan situasi di lapangan.
Teknologi IoT menawarkan solusi praktis melalui pemantauan otomatis berbasis sensor dan dashboard visual. Dengan pendekatan ini, data lingkungan ruang rawat dapat dikumpulkan, diproses, dan ditampilkan secara langsung, sehingga mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat dan akurat. SmartMedGuard hadir sebagai implementasi konkret dari pendekatan tersebut, dengan menyesuaikan kebutuhan dan keterbatasan fasilitas kesehatan tingkat pertama di Indonesia.
Pengembangan SmartMedGuard bertujuan untuk membangun prototipe sistem monitoring ruang rawat yang berfungsi penuh, dapat diuji dalam lingkungan laboratorium, serta memenuhi Tingkat Kesiapan Teknologi (TKT) level 4. Secara khusus, sasaran pengembangan meliputi:
SmartMedGuard dirancang dengan arsitektur sederhana namun andal. Sistem ini menggunakan:
Prototipe ini mampu memantau hingga lima ruang rawat secara simultan, beroperasi dengan daya 5V 3A, serta dilengkapi opsi UPS mini yang memungkinkan sistem tetap berjalan hingga dua jam saat terjadi gangguan listrik. Pendekatan ini menjadikan SmartMedGuard sebagai solusi yang cepat, privat, dan sesuai dengan kondisi infrastruktur di daerah.
Hasil pengembangan menunjukkan bahwa prototipe SmartMedGuard telah berfungsi secara utuh dan terintegrasi. Luaran utama yang dihasilkan meliputi:
Melalui capaian tersebut, tingkat kesiapan teknologi SmartMedGuard berhasil meningkat dari TKT level 3 ke level 4, menandakan bahwa sistem telah tervalidasi di lingkungan laboratorium dan siap menuju tahap uji di fasilitas kesehatan mitra.
Dampak yang Dirasakan: Sosial, Ekonomi, dan Akademik
Dari sisi sosial, SmartMedGuard berkontribusi dalam mempercepat pengambilan keputusan berbasis data, meningkatkan kesiapsiagaan ruang layanan, serta berpotensi mengurangi waktu tunggu pasien dan beban ruang rawat. Sistem ini juga mendorong adopsi teknologi digital di fasilitas kesehatan wilayah luar Jawa dan penyangga IKN.
Secara ekonomi, inovasi ini membuka peluang terciptanya pasar lokal untuk teknologi monitoring kesehatan berbasis IoT yang terjangkau dan tidak bergantung pada layanan cloud komersial. Dengan pendekatan open technology, SmartMedGuard dapat menekan biaya implementasi sekaligus memperkuat ekosistem industri IoT nasional.
Dari aspek pengembangan keilmuan, SmartMedGuard menjadi contoh nyata kolaborasi lintas disiplin antara Teknik Elektro, Teknik Sipil, Perencanaan Wilayah dan Kota, serta Informatika. Inovasi ini juga berfungsi sebagai media pembelajaran berbasis proyek dan studi kasus penerapan IoT untuk layanan publik.
Indonesia memiliki lebih dari 16.000 fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan rumah sakit kelas C/D. Dengan asumsi penetrasi awal sebesar 3%, terdapat sekitar 480 fasilitas yang berpotensi menjadi pengguna tahap awal SmartMedGuard. Segmen pasar utama mencakup puskesmas rawat inap, RSUD kelas C/D, dinas kesehatan daerah, serta pengembang kawasan smart city dan smart building sektor publik.
Ke depan, SmartMedGuard memiliki potensi strategis untuk direplikasi secara nasional dan bahkan diadopsi oleh negara berkembang lain yang membutuhkan solusi monitoring ruang layanan yang hemat energi, berbasis edge computing, dan siap digunakan secara offline.
Pengembangan SmartMedGuard pada tahun 2025 berhasil menunjukkan capaian signifikan dengan peningkatan TKT dari level 3 ke level 4. Prototipe telah terintegrasi dengan baik, diuji di laboratorium, dan menghasilkan luaran yang mendukung transformasi digital layanan kesehatan. Dengan progres kegiatan yang telah mencapai lebih dari 80% dan target penyelesaian penuh pada akhir 2025, SmartMedGuard menjadi inovasi strategis yang berpotensi memperkuat kualitas layanan puskesmas dan RSUD kelas C/D, khususnya di wilayah penyangga IKN.
Penelitian dan Pengabdian
Penelitian dan Pengabdian
Penelitian dan Pengabdian
Penelitian dan Pengabdian
Analisis Rasio Peminat dan Daya Tampung pada 9 Program Studi ITK
Kunjungan Audiensi SMAN 1 Penajam Paser Utara Ke ITK
Persaingan SNPMB 2026 di Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan: Membaca Peluang Berbasis Data
Jurusan Teknik Sipil dan Perencanaan ITK