Balikpapan, 21 Juli 2016, menjadi salah satu momen bersejarah bagi Institut Teknologi Kalimantan. Kampus yang berdiri sejak 2012 di jantung Khatulistiwa ini melangsungkan sidang Tugas Akhir pertamanya.

Pukul 07.30 WITA, Ruang 201, Gedung A Kampus ITK tampak siaga. Padahal jadwal perkuliahan masih libur hingga September mendatang. Jendela-jendela terbuka, proyektor menyala, layar terjuntai, kipas angin menderu, kursi-kursi terjejer rapi. Penghuninya hanya tiga mahasiswa. Dengan atasan putih bawahan hitam, rapi, ketiga mahasiswa Teknik Mesin ini tampak khidmat dengan kesibukannya sendiri. Ada yang membuka-buka lembaran kertas berisi catatan yang dibawanya, ada yang membuka laptop seraya mengenakan earphone, ada pula terlihat khusyuk memanjatkan doa. Mereka mencoba mengingat-ingat kembali, menghafal, dan mempersiapkan segala kemungkinan yang akan ditanyakan oleh dosen penguji.

IMG_2286 - Copy

Sidang yang terdiri dari tiga sesi ini dimulai dengan pembukaan oleh Prof. Dr. Ir. Sulistijono, DEA., selaku dosen pembimbing utama—dengan Illa Rizianiza, Alfian Djafar, dan saya sebagai dosen penguji.

“Silakan memulai presentasinya,” ucap saya kepada Ridho Ariestio, mahasiswa pertama yang melakukan presentasi. Ia tampak gugup ketika melangkahkan kaki ke depan kelas, memasukkan flashdisknya ke laptop presentasi. Gugup itu wajar, tapi memberikan yang terbaik itu wajib. Bagaimanapun, momen ini bukan hanya menjadi momen bersejarah bagi mereka, para calon wisudawan, namun juga bagi kami para dosen Teknik Mesin yang sebentar lagi akan menelurkan lulusan pertama ITK. Ya, di antara program studi yang lain, Teknik Mesinlah yang pertama kali menyelenggarakan sidang Tugas Akhir.

Presentasi tentang Desain Ulang Kondensor Propana yang dibawakan Ridho berlangsung lancar, meskipun ketika sesi tanya jawab rasa gugup membuatnya berhenti sejenak untuk memikirkan jawaban yang tepat.

Sesi kedua dan ketiga dipresentasikan oleh Yasmin Zulfati Yusrina dan Sandy Wijaya. Yasmin dengan percaya diri menerangkan Tugas Akhirnya tentang Desain Ulang Bejana Tekan. Sementara Sandy memaparkan  Perancangan Konstruksi Turbin Angin. Mereka berdua terlihat lebih santai. Mungkin karena belajar dari presentasi Ridho.

“Inspirasi saya muncul ketika Ricky Elson—inovator muda Indonesia—datang ke ITK sewaktu ITK Innovation, Bu,“ kata Sandy penuh semangat. “Kak Ricky menjelaskan tentang betapa besarnya daya yang bisa didapatkan dengan memanfaatkan angin. Dari situ saya terpikir untuk membuat turbin angin yang nantinya listrik yang dihasilkan bisa digunakan untuk penerangan ITK,” ujar mahasiswa asal Balikpapan ini.

Ah dek, saya masih ingat penjelasanmu yang dipenuhi semangat berinovasi untuk ITK. Walaupun pada akhirnya tugas akhir yang dilaksanakan masih sampai tahap perancangan.

Seusai penjabaran hasil oleh ketiga calon sarjana tersebut, tibalah saatnya para dosen penguji berdiskusi. Dengan harap-harap cemas Ridho, Yasmin, dan Sandy menunggu di luar ruangan. Hasil diskusi ini nantinya yang akan menentukan apakah mereka layak atau tidak diluluskan, menentukan apakah mereka pantas atau tidak menyandang gelar Sarjana Teknik.

Kami pun berdiskusi selama lebih kurang 15 menit, antara dosen pembimbing dan penguji. Setelah itu kami pun memanggil mereka masuk. “Berdasarkan hasil diskusi, dengan ini kami nyatakan kalian lulus!”

Kelas yang saat itu hening, tiga mahasiswa yang sebelumnya pucat dan tidak bergeming menunggu hasil sidang, seketika pecah dengan teriakan gempita. Ridho dan Yasmin segera sujud syukur. Gurat bahagia dan lega terpampang jelas di wajah mereka. Senyum tak henti-hentinya mengembang.

Syukur Alhamdulillah, ketiga mahasiswa Teknik Mesin ini mampu mengukir sejarah sebagai lulusan pertama, tidak hanya di Prodi Teknik Mesin tetapi juga di ITK.

“Kalian lahir (lulus) di ITK. ITK adalah orang tua kalian selain tentunya ayah-ibu di rumah. Jika kalian menghormati orang tua kalian, maka hormatilah ITK. Bawa nama baik ITK di manapun kalian berada. Besarkanlah Kalimantan. Majukanlah Indonesia! Selamat!”, kata Prof. Sulis agar para sarjana pertama ini dapat menjadi alumni yang tidak saja membanggakan almamaternya, tetapi juga segera turun gunung, berakselerasi memodernisasi Kalimantan yang notabene masih tertinggal dibanding Pulau Jawa.

IMG_4077 - Copy

“Saya ingin meneruskan kuliah S2 di Kanada, pak. Insya Allah pengumumannya bulan depan,” ujar Yasmin saat Alfian, salah satu penguji, menanyakan rencana setelah kelulusannya. Apa pun impianmu, laksanakanlah dik, berjuanglah dan jalankan dengan ikhlas, semoga Allah meridhoimu.

Diakhir sidang, kami pun berfoto bersama: dosen pembimbing, dosen penguji, dan tiga sarjana baru itu.

Selamat atas kelulusannya adik-adikku! Songsonglah dunia yang sebenarnya! Tunjukkan taringmu dan buktikan pada dunia bahwa kalian adalah lulusan ITK yang akan mengubah dunia menjadi lebih baik.

“Bu, ayo foto lagi, tapi selfie ya bu.” Ridho, ucapanmu membuyarkan lamunan saya tentang kalian. Saya hanya bisa tertawa melihat kelakuanmu. Bahagianya melihat tawa lepas kalian. Sekali lagi, Selamat!

Penulis : Devy Setiorini Sa’adiyah untuk Humas ITK

Editor  : RJP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *