Kuliah Tamu: “MODERNITAS BARU UNTUK INDONESIA ABAD KE-21 : PERSPEKTIF MARITIM DAN ENERGI”

Balikpapan Raih Adipura Kencana
24/11/2015
Workshop Kurikulum “Responsible Science”
10/12/2015
Tunjukkan semua

Kuliah Tamu: “MODERNITAS BARU UNTUK INDONESIA ABAD KE-21 : PERSPEKTIF MARITIM DAN ENERGI”

Dalam rangka meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan mahasiswa di Institut Teknologi Kalimantan, ITK menghadirkan Tokoh Nasional dari kalangan Pendidik, Prof. Daniel Muhammad  Rosyid PhD, M.RINA dengan menghadirkan tema “MODERNITAS BARU UNTUK INDONESIA ABAD KE-21 : PERSPEKTIF MARITIM DAN ENERGI”

Pada kesempatan tersebut Prof. Daniel Muhammad Rosyid yang sekarang menjabat sebagai Dekan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember menyampaikan tentang bagaimana Menuju Modernitas Baru (low-energi life style). Beliau mengungkapkan bahwa Indonesia merupakan Negara yang memiliki peluang untuk menjadi kekuatan baru di dunia setelah kejayaan Amerika Serikat dan Eropa berakhir. Namun, dengan segala problematika yang ada, mulai dari kesenjangan sosial, kerusakan ekosistem hingga krisis energi maka solusi segala permasalahan tersebut harus segera dihadirkan ditengah-tengah masyarakat.

Energi merupakan syarat mutlak untuk menjadi Negara maju. Berbagai macam solusi untuk mengatasi krisis energi seperti pengendalian konsumsi energi, bauran energi dan eksplorasi sumber-sumber energi baru telah diupayakan oleh pemerintah namun hingga sekarang konsumsi BBM dalam bentuk subsidi masih membebani APBN hingga ratusan triliun, paparan Guru Besar Teknik kelautan Fakultas Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Dua macam solusi krisis energi yang diusulkan oleh Ketua Persatuan Insinyur Indonesia cabang Surabaya. Solusi pertama adalah mengubah paradigma masyarakat dengan keluar dari single-mode trap berbasis jalan/pribadi menuju sistranas multi-moda yang memadu, terutama transportasi publik antar-kota dan di kota (kereta api, bus, sungai, dan penyeberangan, serta laut) dan pengembangan teknologi transportasi energi-rendah untuk kawasan  pedesaan dan motor 30cc dg kecepatan 20mph

Solusi kedua adalah Negara ini harus kembali ke jati diri yang sesungguhnya sebagai Negara Maritim. Jembatan antar pulau yang marak direncanakan pembangunannya di Indonesia harus dikaji multi aspek termasuk ekonomi dan keandalan struktur jembatan. Selain itu tentu saja pembangunan jembatan tersebut justru akan meningkatkan konsumsi BBM bersubsidi dari kendaraan roda 4 maupun roda 2. Pemerintah lebih baik membangun secara massal kapal-kapal ferry penyebrangan modern yang tentu saja tidak membebani Negara, karena kapal tidak menggunakan BBM bersubsidi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *