Balikpapan — Institut Teknologi Kalimantan (ITK) semakin menegaskan perannya sebagai institusi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia serta penguatan ekosistem inovasi nasional. Hal ini mengemuka dalam pertemuan antara Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dengan Rektor ITK Prof. Dr. Agus Rubiyanto, M.Eng.Sc., beserta jajaran yang dilaksanakan pada 13 April 2026 di Jakarta.
Pertemuan tersebut tidak sekadar menjadi ajang silaturahmi, tetapi juga menjadi ruang diskusi strategis mengenai pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan media dalam mendorong pembangunan nasional berbasis pengetahuan.
Dalam kesempatan tersebut, AHY menegaskan bahwa pembangunan ke depan tidak hanya berfokus pada aspek fisik, tetapi juga harus mengedepankan dampak nyata bagi masyarakat.
“Kita ingin memastikan bahwa pembangunan tidak hanya bersifat instrumental, tetapi juga memiliki outcome dan impact yang jelas. Di sinilah peran kampus menjadi sangat penting,” ujar AHY.
Ia juga menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif atau pentahelix, di mana riset dan inovasi dari perguruan tinggi menjadi fondasi dalam mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Menurutnya, keberadaan ITK sebagai institut teknologi di luar Pulau Jawa merupakan langkah strategis dalam pemerataan penguasaan teknologi nasional.
“Kita harus memastikan adanya alignment antara pemerintah, bisnis, pendidikan, dan media. ITK memiliki peran penting dalam menciptakan sumber daya manusia unggul yang mampu menjawab tantangan masa depan,” tambahnya.
Perjalanan ITK sendiri dimulai sejak penandatanganan prasasti oleh Presiden ke-6 Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono, pada 6 Oktober 2014, yang menjadi tonggak penting berdirinya kampus ini sebagai perguruan tinggi negeri berbasis teknologi.
Rektor ITK menegaskan bahwa ITK mengusung pendekatan futuristik dalam pengembangan fakultas dan program studi, sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan serta kebutuhan industri masa depan.
“Kami membangun ITK dengan visi jangka panjang, tidak hanya sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai pusat inovasi yang berdampak bagi masyarakat,” ujarnya.
Salah satu agenda strategis yang turut dibahas adalah pembentukan konsorsium ITX yang melibatkan empat perguruan tinggi teknologi negeri, yaitu ITB, ITS, ITK, dan ITERA. Konsorsium ini dirancang sebagai katalis transformasi ekonomi berbasis inovasi dan teknologi, dengan fokus pada penguatan riset terapan, hilirisasi teknologi, hingga pengembangan startup berbasis deep-tech.
Dalam pertemuan tersebut, ITK juga secara resmi mengundang AHY untuk hadir dan menyampaikan orasi ilmiah pada Dies Natalis ke-12 ITK yang akan diselenggarakan pada 6 Oktober 2026 dengan tema “Unity in Diversity: Dari ITK untuk Nusantara.”
Pertemuan ini menegaskan bahwa pembangunan Indonesia ke depan membutuhkan sinergi lintas sektor yang kuat, dengan perguruan tinggi sebagai salah satu pilar utama. Melalui berbagai capaian dan rencana strategis yang dimiliki, ITK terus menempatkan diri sebagai institusi yang tidak hanya berkembang secara akademik, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan nasional.
Penelitian dan Pengabdian
Penelitian dan Pengabdian
Jejak Insinyur ITK, Muhammad Dipo Nugroho Mengabdi melalui Tata Kelola dan Integritas Publik
Kiprah Ahmad Ridho Akranata, Material Engineer di Industri Remanufacturing
Azzatul Nabila Mahasiswa ITK Raih Juara 1 IYIS 2026