Detail Berita

Dari Pukul 6 Sore hingga 3 Pagi, Perjuangan Atyabrama Menyiapkan AkashaNetra untuk Final KRTI 2026

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 24 September 2026 15.33 10 kali dilihat
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
  • Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

IKN – Pukul enam sore, ketika aktivitas perkuliahan mulai mereda, laboratorium justru menjadi titik awal kesibukan Tim Atyabrama Universitas Brawijaya. Satu minggu menjelang keberangkatan menuju Final Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026 di Ibu Kota Nusantara (IKN), mereka terbiasa bekerja hingga pukul tiga dini hari. Beberapa kali, pengujian dan perbaikan baru benar-benar selesai ketika matahari hampir terbit, sekitar pukul lima, enam, bahkan tujuh pagi.

Malam-malam panjang tersebut dijalani untuk memastikan AkashaNetra, sistem pemetaan tiga dimensi yang mereka kembangkan, dapat bekerja bersama hexacopter sebagai satu kesatuan. Pengujian dilakukan berulang kali, kesalahan diperbaiki, struktur disempurnakan, hingga setiap bagian akhirnya mampu menjalankan fungsi yang dirancang.

Atyabrama dipimpin Zaskia Fitri Nur Azizah, mahasiswa Teknik Komputer angkatan 2024. Tim inti juga diperkuat Adrian Akhmad Abyas Triyono dari Teknologi Informasi pada lini manajerial; Fahmi Muhammad Fayid Dhinanta, Hayqal Husein Alhabsyi, dan Keirio Omar Attallah pada lini pemrograman; Galih Permana Putra Winardi dan Dendy Adrian Munthe pada lini elektrikal; serta Anugerah Bhumi Nalaputra, Ahmad Fadhil Abyan, dan Nayla Rayhana Zahrany pada lini mekanikal.

Perjalanan tersebut turut didukung anggota pendukung Atyabrama, yaitu Davin Kenaz Widiananda Tappo, Asyam Udaya Sani, Salwa Hafizhah Zhahirah, Arin Alexia, dan Rifqi Fadhil Abrar. Mereka berasal dari Teknik Komputer dan Teknik Informatika dengan angkatan yang beragam, mulai 2023 hingga 2025. Perbedaan latar belakang dan peran justru menjadi bagian penting dalam proses pengembangan wahana.

AkashaNetra sendiri merupakan sistem pemetaan spasial tiga dimensi berbasis Rotating LiDAR 2D yang ditempatkan sebagai payload di bawah hexacopter. Sistem tersebut memungkinkan wahana melakukan pemindaian lingkungan untuk menghasilkan pemetaan tiga dimensi, termasuk pada area yang sulit dijangkau secara langsung.

Menariknya, gagasan tersebut berawal dari penelitian dosen pembimbing mereka, Eko Setiawan, mengenai pemetaan candi. Dari penelitian itu, Atyabrama melihat peluang penggunaan teknologi pemetaan untuk kebutuhan yang lebih luas. Salah satunya adalah mendukung mitigasi dan respons bencana, ketika pemetaan cepat diperlukan pada daerah dengan akses yang terbatas.

Namun, mengubah gagasan menjadi wahana yang benar-benar bekerja bukan perkara sederhana. Setiap lini membawa sudut pandang masing-masing. Solusi yang dianggap tepat oleh bagian pemrograman, misalnya, belum tentu langsung sesuai dengan kebutuhan elektrikal atau mekanikal. Situasi tersebut membuat anggota tim harus berkali-kali berdiskusi, menyesuaikan rancangan, serta menguji kembali solusi yang telah dibuat.

Dari berbagai kegagalan teknis itulah kekompakan Atyabrama perlahan terbentuk. Ketika sebuah sistem gagal dalam pengujian, mereka tidak lagi melihat persoalan tersebut sebagai tanggung jawab satu orang atau satu lini. Seluruh anggota ikut mencari jalan keluarnya.

“Dari proses itu kami belajar bahwa masalahnya bukan milik satu orang atau satu lini saja, tetapi menjadi tanggung jawab tim,” ungkap Atyabrama.

Salah satu momen yang paling mereka nantikan akhirnya datang ketika AkashaNetra berhasil melakukan pemetaan sesuai harapan. Tantangannya belum selesai karena sistem tersebut masih harus diintegrasikan dengan hexacopter. Saat keduanya akhirnya dapat bekerja secara utuh, malam-malam panjang di laboratorium mulai terasa sepadan. Perasaan itu semakin lengkap setelah Atyabrama berhasil melewati seleksi wilayah dan memastikan tempat di Final KRTI 2026.

Kini di IKN, Atyabrama membawa lebih dari sekadar hexacopter dan perangkat pemetaan. Mereka membawa hasil dari proses panjang yang dibangun melalui kolaborasi, perbedaan pendapat, kegagalan pengujian, hingga kesediaan untuk terus mencoba ketika sistem belum berjalan sebagaimana mestinya.

Dari gagasan pemetaan candi hingga potensi pemanfaatannya untuk mitigasi bencana, AkashaNetra menunjukkan bagaimana sebuah ide dapat terus berkembang. Sementara bagi Atyabrama, perjalanan menuju KRTI 2026 meninggalkan cerita lain di balik teknologi tersebut: tentang sekelompok mahasiswa yang bekerja dari petang hingga pagi, menyatukan berbagai keahlian, dan terus memperbaiki satu demi satu kegagalan demi membawa karya terbaik mereka ke panggung nasional.

Berita Terbaru

Example_News.webp Berita

“Kok Bisa Terbang?” Antusias Siswa SD Islam Terpadu Mengenal Teknologi di KRTI 2026 IKN

Antusias Siswa SD Islam Terpadu Mengenal Teknologi di KRTI 2026 IKN

Example_News.webp Berita

Dari Pukul 6 Sore hingga 3 Pagi, Perjuangan Atyabrama Menyiapkan AkashaNetra untuk Final KRTI 2026

Perjuangan Atyabrama Menyiapkan AkashaNetra untuk Final KRTI 2026

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami