Institut Teknologi Kalimantan (ITK) terus melahirkan lulusan-lulusan yang mampu beradaptasi dan berkontribusi nyata di berbagai bidang industri. Salah satunya adalah Taufiq Kresna, alumni Program Studi Teknik Mesin angkatan 2016, yang kini meniti karier di PT Perkebunan Nusantara IV Regional 1 sebagai Asisten Pengolahan Pabrik Karet Membang Muda.
Bagi Kresna, masa kuliah di ITK bukan sekadar perjalanan akademik, melainkan juga pengalaman hidup yang penuh makna. Ia menggambarkan ITK sebagai “miniatur Indonesia” karena keberagaman budaya, latar belakang, dan cara pandang yang mewarnai kehidupan kampus.
“Lingkungan ITK membuat saya belajar beradaptasi dengan berbagai situasi. Itu sangat berguna ketika saya harus terjun langsung ke dunia kerja, karena adaptasi adalah kunci,” ungkapnya.
Latar belakang Teknik Mesin yang ditempuhnya di ITK ternyata sangat relevan dengan pekerjaannya sekarang. Kresna menjelaskan bahwa berbagai ilmu seperti Mekanika Fluida, Sistem Konversi Energi, hingga pemanfaatan CAD dalam perancangan flow process sangat erat kaitannya dengan bisnis pengolahan karet.
“Proses pengolahan karet memerlukan pemahaman mendalam tentang sistem energi dan mekanika, dan di situlah bekal keilmuan dari ITK benar-benar terpakai,” tambahnya.
Sebagai Asisten Pengolahan, Kresna bertugas mengelola manajemen pengolahan produk SIR (Standard Indonesian Rubber) dan Lateks Pekat, dengan memastikan kinerja pabrik tetap optimal melalui tata kelola yang baik. Namun, tanggung jawab itu datang dengan tantangan besar. Ia menjelaskan bahwa pekerjaannya tidak hanya soal teknis, tetapi juga menyangkut tanggung jawab hukum baik pidana, perdata, maupun tata usaha negara. Selain itu, ia juga harus mampu mengembangkan kompetensi bawahannya serta menjaga kualitas pengolahan di unit pabrik.
Menurut Kresna, ilmu yang diperoleh di bangku kuliah menjadi pondasi utama dalam kariernya. Hardskill dari Teknik Mesin, Fisika, dan Kimia adalah bekal teknis yang sangat penting. Sementara itu, softskill yang dilatih melalui organisasi dan interaksi di kampus berperan sebagai "pelumas" agar ia bisa menjadi engineer yang adaptif di dunia kerja.
Di akhir ceritanya, Kresna berpesan kepada mahasiswa ITK untuk tidak melupakan esensi utama kuliah, yaitu membangun kompetensi akademik.
“Utamakan akademik dan hardskill kalian agar kompeten sesuai gelar yang akan kalian capai. Namun jangan lupa, softskill juga sangat penting. Budaya adaptif itu bukan sesuatu yang bisa dilatih hanya dalam hitungan bulan, melainkan sepanjang hidup kalian,” tuturnya.
Penelitian dan Pengabdian
Penelitian dan Pengabdian
Mahasiswa Aktuaria ITK Raih Wakil 1 Putri Duta Wisata Manuntung Kota Balikpapan 2026
PPIJ Mengajar 2026 Chapter Balikpapan Jadi Jembatan Mahasiswa ITK Menuju Pendidikan Tinggi Global
Ryan, Mahasiswa Bisnis Digital ITK, Optimalkan Publikasi Digital di DLH Balikpapan