Detail Berita

Gagal, Evaluasi, dan Coba Lagi: Perjalanan Hydra Rescue Menuju Final KRTI 2026

Muhammad Nurhidayatur Rozikin 22 September 2026 7.41 24 kali dilihat
Example_News.webp
Isi Artikel

Bagikan Artikel Ini:

IKN - Sebuah inovasi tidak selalu lahir dari percobaan yang langsung berhasil. Bagi tim Hydra Rescue Universitas Teuku Umar (UTU), kegagalan dalam pengujian justru menjadi bagian penting dari perjalanan mereka hingga berhasil melangkah ke Final Kontes Robot Terbang Indonesia (KRTI) 2026. Di balik UAV amfibi yang mereka kembangkan, tersimpan proses panjang berupa percobaan, evaluasi, perubahan rancangan, hingga keberanian untuk membongkar kembali desain yang sebelumnya telah dibuat.

Muhammad Alfadil dan Gading Marlon Simanungkalit dari Teknik Mesin bersama Rio Aminkhan Tarigan dari Teknik Sipil menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Hydra Rescue berangkat dari keresahan terhadap persoalan pencarian dan penyelamatan di wilayah perairan. Tim melihat masyarakat pesisir, khususnya nelayan, memiliki risiko menghadapi kecelakaan di laut, sementara proses pencarian dan pertolongan tidak selalu dapat dilakukan dengan cepat.

Dalam beberapa kejadian yang menjadi perhatian mereka, informasi mengenai korban tenggelam bahkan baru diterima ketika peluang penyelamatan sudah semakin kecil. Kondisi tersebut membuat tim mulai memikirkan sebuah teknologi yang mampu bergerak lebih cepat menuju lokasi kejadian.

Dari keresahan itu lahirlah Hydra Rescue, UAV amfibi yang dirancang mampu terbang sekaligus beroperasi di permukaan air. Wahana ini diharapkan dapat menjadi bagian dari respons awal untuk membantu proses pencarian dan penyelamatan sebelum petugas menjangkau lokasi. Namun, mengubah sebuah gagasan menjadi wahana yang benar-benar dapat bekerja di udara dan air bukan perkara sederhana.

Salah satu tantangan terbesar muncul ketika tim melakukan pengujian sistem apung atau floating system. Hydra Rescue tidak cukup hanya mampu terbang. Ketika memasuki permukaan air, wahana juga harus tetap stabil, dapat mengapung, sekaligus menjaga komponen elektronik di dalamnya agar terlindungi dari air. Proses transisi dari udara menuju air pun menjadi salah satu tahap pengujian yang paling menantang.

Pada fase tersebut, tidak seluruh hasil berjalan seperti yang diharapkan. Pengujian membuat tim menemukan bagian-bagian yang masih harus diperbaiki serta sejumlah keputusan teknis yang perlu dievaluasi kembali. Alih-alih berhenti, kegagalan justru menjadi petunjuk bagi mereka untuk mengetahui bagian mana yang masih membutuhkan penyempurnaan.

Setiap percobaan memberikan gambaran baru tentang kekurangan Hydra Rescue. Sistem apung, kemampuan kedap air, hingga karakter wahana ketika berada di permukaan air terus menjadi perhatian dalam proses pengembangan. Dari proses tersebut, tim memahami bahwa pengujian bukan hanya untuk membuktikan bahwa sebuah teknologi dapat bekerja, tetapi juga untuk menemukan bagian yang belum bekerja sebagaimana mestinya.

Perjalanan pengembangan Hydra Rescue kemudian membawa tim keluar dari meja desain dan ruang pengujian. Mereka mencoba mendekatkan inovasi tersebut kepada orang-orang yang memahami kondisi pencarian dan penyelamatan secara langsung. Audiensi dilakukan bersama Basarnas, BPBD, serta pemerintah daerah untuk mengetahui kebutuhan sebenarnya di lapangan.

Pertemuan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pengembangan Hydra Rescue. Tim menyadari bahwa teknologi yang secara teknis dapat bekerja belum tentu sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan petugas penyelamat. Masukan yang mereka terima membuat sejumlah bagian dari rancangan harus dievaluasi. Bahkan, material dan bentuk wahana kemudian mengalami perubahan agar semakin mendekati kebutuhan operasi pencarian dan penyelamatan.

Keputusan untuk mengubah rancangan bukan hal sederhana. Tim harus kembali melihat pekerjaan yang sebelumnya telah mereka bangun dan menerima bahwa desain pertama belum menjadi jawaban terbaik. Namun, justru di sanalah proses belajar mereka berlangsung. Bagi tim Hydra Rescue, inovasi bukan tentang mempertahankan rancangan pertama hingga akhir, melainkan keberanian menerima masukan, menemukan kekurangan, lalu memperbaikinya.

Audiensi dengan Basarnas, BPBD, dan pemerintah daerah juga memberikan perspektif baru bahwa sebuah teknologi penyelamatan tidak cukup hanya unggul ketika dipresentasikan, didemonstrasikan, atau dipertandingkan. Teknologi tersebut harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi serta kebutuhan pengguna ketika benar-benar diterapkan di lapangan.

Dari proses mencoba, gagal, mengevaluasi, hingga memperbaiki itulah Hydra Rescue terus berkembang dan akhirnya berhasil menjadi salah satu finalis KRTI 2026. Namun, bagi tim UTU, mencapai babak final bukan menjadi tujuan akhir dari perjalanan mereka.

Tim menyimpan harapan agar Hydra Rescue suatu saat dapat dikembangkan lebih jauh dan benar-benar menjadi bagian dari dunia pencarian dan penyelamatan, termasuk melalui kolaborasi dengan Basarnas maupun BPBD. UAV tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran petugas penyelamat, melainkan menjadi teknologi pendukung yang dapat memberikan respons awal, membantu pencarian di wilayah perairan, sekaligus memperbesar peluang pertolongan diberikan lebih cepat.

Harapan tersebut membawa tim kembali pada alasan awal mengapa Hydra Rescue dibuat. Bukan sekadar untuk menciptakan wahana yang mampu terbang dan mengapung, serta bukan pula hanya untuk berdiri sebagai finalis dalam sebuah kompetisi nasional. Mereka ingin teknologi yang dibangun melalui berkali-kali percobaan tersebut suatu hari dapat menjawab persoalan yang benar-benar terjadi di masyarakat.

Bagi tim Hydra Rescue, pencapaian terbesar bukan hanya ketika sebuah wahana berhasil melewati pengujian. Pencapaian terbesar adalah ketika teknologi tersebut kelak mampu membantu membuat pertolongan datang sebelum terlambat.

Melalui KRTI 2026, tim berharap kompetisi terus menjadi ruang bagi mahasiswa Indonesia untuk berani mencoba, belajar dari kegagalan, memperbaiki karya, dan membawa inovasi semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dari perjalanan Hydra Rescue, kegagalan tidak menjadi akhir dari sebuah rancangan. Ia justru menjadi alasan untuk kembali mengevaluasi, mengubah, dan mencoba sekali lagi.

Berita Terbaru

Example_News.webp Berita

Rektor ITK Ungkap Makna KRTI 2026: Bukan Sekadar Menjadi Tuan Rumah, tetapi Menumbuhkan Inovator Muda Indonesia

Rektor ITK Tegaskan KRTI 2026 Bukan Sekadar Kompetisi, tetapi Fondasi Kemandirian Teknologi Indonesia

Example_News.webp Berita
Example_News.webp Berita

Bertanding di Rumah Sendiri, Pandhega Daksa ITK Bawa Semangat Tuan Rumah di Final KRTI 2026

Pandhega Daksa ITK Bawa Semangat Tuan Rumah di Final KRTI 2026

a few mins ago
Butuh Bantuan? Tanya Kami